BERITASEMBILAN.Com-Gowa. Kemenangan gemilang Sekolah Dasar Negeri (SDN) Romang Polong pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kecamatan Somba Opu Tahun 2026 menyisakan sebuah kisah haru yang mendalam.
Di balik raihan prestasi tersebut, terdapat kisah keteguhan hati dari dua siswi, Anaya Nova Baharuddin dan Aliyn Faihanah Afra, yang akhirnya berhasil menuntaskan mimpi mereka demi sang kakek tercinta yang akrab dipanggil Ambo’.
Kilas balik pada ajang yang sama setahun silam, sebuah ujian berat menghampiri keluarga. Tepat pada Minggu, 28 September 2025, Ambo’ tiba-tiba jatuh tersungkur.
Sejak hari itu, beliau tak pernah lagi membuka mata maupun sadarkan diri. Harapan dan doa terus dipanjatkan oleh keluarga, namun takdir berkehendak lain.
Pada Jumat, 3 Oktober 2025, tepat pukul 21.13, Ambo’ menghembuskan napas terakhirnya di RS dr. Hasri Ainun Habibie Parepare. Beliau berpulang hanya berselang empat jam setelah tiba dari RSUD Lamaddukkelleng Sengkang di usianya yang ke 58 tahun.
Dalam situasi duka dan kehilangan yang sangat mendalam itu, persiapan lomba yang sebelumnya memenuhi hari-hari Anaya dan Aliyn mendadak kehilangan arti.
Kostum yang sedang dirampungkan, latihan panjang yang telah dijalani, dan panggung yang tinggal menunggu waktu, dengan ikhlas ditinggalkan. Cabang lomba yang sedianya diikuti Anaya dan Aliyn pada waktu itu pun kosong tanpa kehadiran mereka.
Bagi kedua anak itu, keputusan tersebut tentu bukan perkara mudah. Di satu sisi, ada perlombaan yang telah mereka persiapkan dengan penuh antusiasme.
Di sisi lain, ada kepergian Ambo’ yang membuat keluarga berduka dan harus segera berkumpul. Mereka tak pernah membayangkan bahwa mereka justru harus meninggalkan panggung yang selama ini dinanti.
Tahun itu, tidak ada piala yang dibawa pulang, tidak ada penampilan di hadapan juri. Yang tersisa hanyalah air mata perpisahan untuk Ambo’ dan kesempatan yang dilewatkan.
Namun, waktu membuktikan bahwa perjuangan tidak berhenti saat seseorang harus mundur selangkah. Setahun kemudian, Oktober kembali mempertemukan mereka dengan panggung yang berbeda. Kali ini, mereka datang untuk menuntaskan cerita yang sempat terhenti.
Dalam ajang FTBI Tingkat Kecamatan Somba Opu Tahun 2026 yang digelar Senin (12/10), Anaya tampil memukau pada cabang lomba Mendongeng Putri, sedangkan Aliyn menunjukkan kepiawaiannya di lomba Komedi Tunggal Putri.
Keduanya kembali mewakili SDN Romang Polong, membawa bekal latihan, keberanian, dan pengalaman batin yang telah membentuk karakter mereka.
Hasilnya pun sangat membanggakan. Anaya sukses merengkuh Juara 1 Mendongeng Putri, sementara Aliyn turut menyabet Juara 1 Komedi Tunggal Putri. Keduanya berhasil mengungguli puluhan peserta dari berbagai sekolah dasar se-Kecamatan Somba Opu.
Bagi Anaya dan Aliyn, kemenangan itu bukan sekadar jawaban atas kegagalan tampil pada tahun sebelumnya.
Ada rindu yang ikut dibawa ke atas panggung, serta kenangan tentang hari-hari terakhir Ambo’ yang membuat dua gelar juara pertama tersebut terasa begitu istimewa.
Kemenangan yang kini berada di genggaman menjadi hadiah yang mereka peruntukkan khusus bagi sang kakek. Sebuah persembahan tulus dari dua cucu yang pernah mengubur ambisi tampil demi keluarga, lalu kembali dengan keberhasilan yang dapat dikenang sepanjang perjalanan hidup.
“Rinduta’mi saya, Ambo’…” bisik mereka pelan, menyampaikan ungkapan rindu mendalam yang kini terwujud dalam sepasang piala kemenangan.
Kisah Anaya dan Aliyn mengingatkan kita bahwa perjalanan anak-anak menuju prestasi tidak selalu berupa garis lurus.
Ada keadaan yang tak dapat dipilih, kesempatan yang harus dilepaskan, dan pengalaman yang diam-diam mengajarkan arti keteguhan. Keberhasilan bukan hanya tentang siapa yang paling baik di atas panggung, tetapi juga tentang keberanian untuk kembali setelah pernah kehilangan kesempatan.
Bagi keluarga besar SDN Romang Polong, pencapaian keduanya menjadi kebanggaan yang lebih dari sekadar deretan piala.
Kemenangan ini menjelma menjadi cerita tentang dua anak yang kembali berdiri di panggung perlombaan dengan hadiah yang diniatkan untuk seseorang yang mereka cintai.
Ambo’ kini memang tak lagi dapat menyaksikan langsung penampilan memukau kedua cucunya. Namun, nama dan kenangannya akan selalu abadi dalam kisah kemenangan mereka.
Dua anak, dua gelar juara pertama, dan satu persembahan rindu untuk Ambo’, sebuah pembuktian bahwa perjuangan hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali, tumbuh, dan menemukan maknanya sendiri. ***


















