Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin
BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Kali ini saya menampillan respons atas kritik Dr. Amir Faqihuddin dari sebuah group. Respons ini berasal dari Prof. Syaparuddin, seorang Guru Besar yang berkiprah di IAIN Bone, perguruan tinggi di daerah asal saya. Ulasannya sangat kritis konstruktif, mencoba menetralisir ulekan pedas asuhan Dr. Amir. Mari kita ikuti ulasan Prof Syaparuddin berikut ini:
Sajian Bona Fide (8) menghadirkan satu tradisi intelektual yang semakin langka di ruang publik kita: keberanian membuka diri terhadap kritik, bahkan ketika kritik itu datang dengan nada yang tajam dan argumentasi yang keras.
Sikap menampilkan secara utuh pandangan kritis seorang sahabat lama, Dr. Amir Faqihuddin, menunjukkan kelapangan jiwa seorang akademisi yang tidak alergi terhadap perbedaan perspektif.
Dalam kultur akademik yang sehat, kritik bukanlah ancaman, melainkan energi dialektika yang memperkaya pemikiran dan memperdalam kedewasaan intelektual.
Pandangan Dr. Amir yang menyoroti kecenderungan pendekatan psikologis dan simbolik dalam membaca problem sosial, sekaligus mengingatkan pentingnya analisis struktural—politik, ekonomi, dan hukum—merupakan kontribusi yang patut dihargai. Ia mengajukan pertanyaan mendasar tentang relasi antara individu dan struktur, antara agensi personal dan determinasi sistemik.
Kritik tersebut sesungguhnya tidak harus dibaca sebagai penegasian, melainkan sebagai ajakan untuk memperluas lensa analisis agar wacana sosial tidak berhenti pada transformasi personal, tetapi juga menyentuh pembongkaran ketimpangan struktural yang lebih luas.
Pada saat yang sama, penting pula disadari bahwa pendekatan transformasi personal dan pembacaan makna simbolik bukanlah bentuk pengabaian terhadap struktur, melainkan salah satu pintu masuk perubahan sosial.
Sejarah pemikiran Islam maupun sosiologi modern menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari reformasi kesadaran individu yang kemudian beresonansi menjadi gerakan kolektif. Dengan demikian, dialektika antara struktur dan agensi seharusnya ditempatkan sebagai relasi komplementer, bukan oposisi biner yang saling menegasikan.
Tuduhan tentang kemungkinan terjadinya *blaming the victim* adalah peringatan etik yang sangat berharga. Setiap intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kritik terhadap kelemahan personal tidak berubah menjadi pengaburan atas ketidakadilan struktural.
Namun dalam konteks ini, pembacaan yang lebih adil juga perlu mempertimbangkan bahwa seruan etos belajar, penguatan karakter, dan kesadaran spiritual dapat dipahami sebagai strategi pemberdayaan, bukan sebagai bentuk penghakiman terhadap korban. Di sinilah pentingnya klarifikasi wacana agar pesan moral tidak disalahartikan sebagai legitimasi ketimpangan.
Jadi, perdebatan ini justru memperlihatkan kedewasaan dua sahabat yang sama-sama digerakkan oleh *intellectual curiosity* dan kepedulian terhadap nasib umat. Kritik yang pedas tetapi dibingkai dengan adab, serta keterbukaan untuk menayangkannya secara publik, adalah cermin tradisi ilmiah yang bermartabat.
Dalam ruang seperti inilah intelektualitas tumbuh: bukan dalam keseragaman, melainkan dalam perjumpaan gagasan yang jujur, tajam, dan tetap saling menghormati. ***
















