Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Merajut Sosiologi Komunikasi: Refleksi Masa Lalu dalam Lintasan Era Digital

×

Merajut Sosiologi Komunikasi: Refleksi Masa Lalu dalam Lintasan Era Digital

Share this article
Example 468x60

Judul      : Sosiologi Komunikasi: Gagasan Sembilan Tokoh Klasik Hingga Era Digital

Penulis   : Dr Muhammad Yahya, M.Si, dkk

Example 300x600

Editor    :  Dr. Rudi Hardi, M.Si dan Dr Syukri, S.Sos, M.Si

Penerbit: EUREKA MEDIA AKSARA

ISBN        : 978-634-271-523-9

Tahun     : Maret 2026

Tebal       : xi+295 Hal

Di tengah perubahan sosial yang semakin pesat, terutama  berkembangnya media digital dan transformasi ruang public, pendekatan baru dalam memahami komunikasi sosial menjadi lebih relevan.

Buku Sosiologi Komunikasi: Gagasan Sembilan Tokoh Klasik Hingga Era Digital menawarkan pembacaan teoretis yang mendalam terhadap sosiologi komunikasi, dengan memberikan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana komunikasi berfungsi tidak hanya sebagai alat untuk menyampaikan pesan, tetapi sebagai elemen fundamental yang membentuk solidaritas, kekuasaan, identitas, dan kontrol sosial dalam masyarakat.

Sebuah karya kolektif buku chapter ini ditulis  oleh akademisi berpengalaman, berusaha untuk menempatkan sosiologi komunikasi dalam kerangka sejarah pemikiran sosial yang panjang.

Melalui sembilan tokoh kunci yang merentang dari pemikiran klasik hingga pemikiran kontemporer, pembaca diundang untuk melihat evolusi teori komunikasi yang sangat relevan dengan dinamika dunia digital saat ini.

Materi pada bab pertama tentang, Ibnu Khaldun: Solidaritas Sosial, Narasi, dan Legitimasi Kekuasaan, oleh: Dr. Muhammad Yahya, M.Si dosen Unismuh Makassar. Kedua, Émile Durkheim: Simbol, Ritual, dan Kesadaran Kolektif oleh: Dr. Ahdan Sinilele, S.Sos., M.Si (UMI Makassa).

Ketiga, Max Weber: Makna, Tindakan Sosial, dan Otoritas  oleh: Dr. Asni Djamereng, M.Si (UIN Alauddin Makassar).  Keempat, George Herbert Mead: Interaksi Simbolik dan Pembentukan Diri, oleh: Dr. Maemunah, S.Ag., M.Pd  (Unismuh Makassar).

Kelima, sosok Erving Goffman: Dramaturgi, Presentasi Diri, dan Manajemen Kesan
oleh: Dr. I Ketut Yakobus, S.Th., M.Si, (UNKRIT). Keenam, tokoh Pierre Bourdieu: Bahasa, Simbol, dan Kekuasaan, oleh: Dr. Sudirman, M.Si (UPRI Makassar).

Ketujuh, Jürgen Habermas: Tindakan Komunikatif dan Ruang Publik,  oleh: Dr. Ahmad Al Yakin, S.Ag., M.Pd (UNASMAN Sulbar).

Kedelapan, sosiolog Manuel Castells: Masyarakat Jaringan dan Kekuasaan Informasi
oleh: Dr. Adi Sumandiyar, S.Sos., M.Si (Universitas Sawerigading Makassar). Kesembilan, Shoshana Zuboff: Komunikasi, Data, dan Kapitalisme Pengawasan
oleh: Dr. Silahuddin Genda, S.IP., M.Si (Universitas Fajar Makassar).

Buku ini tidak hanya menampilkan teori-teori komunikasi secara fragmentaris, tetapi membangun narasi koheren tentang perjalanan sosiologi komunikasi melalui berbagai dimensi sosial dan epistemologis.

Pembahasan dimulai dengan tokoh pertama, Ibnu Khaldun, yang memperkenalkan konsep ‘ashabiyyah’ sebagai dasar solidaritas sosial. Pemikiran Khaldun menjadi landasan penting untuk memahami hubungan antara komunikasi dan kekuasaan jauh sebelum sosiologi sebagai disiplin ilmu terbentuk.

Buku ini dengan tegas menegaskan bahwa komunikasi, dalam perspektif Khaldun, adalah prasyarat sosial untuk legitimasi kekuasaan dan tatanan sosial.

Selanjutnya, teori-teori komunikasi yang lebih modern, seperti yang diusung oleh Émile Durkheim dan Max Weber, dibahas untuk menunjukkan bagaimana komunikasi menjadi mekanisme integrasi sosial dalam masyarakat modern. Durkheim menekankan pentingnya simbol dan ritual dalam memperkuat kesadaran kolektif, sementara Weber mengaitkan komunikasi dengan legitimasi otoritas dan rasionalisasi birokrasi.

George Herbert Mead dan Erving Goffman membawa pembaca pada pemahaman mikro sosial di mana komunikasi memainkan peran dalam pembentukan identitas dan interaksi sosial sehari-hari.

Kedua tokoh ini membahas bagaimana makna dan peran sosial dibentuk melalui komunikasi dalam interaksi mikro, dengan Goffman memberikan wawasan tentang dramaturgi komunikasi dan manajemen kesan dalam kehidupan sosial.

Pembahasan kemudian berlanjut pada tokoh-tokoh yang memberikan kritik tajam terhadap hubungan antara komunikasi dan kekuasaan. Pierre Bourdieu menggali konsep dominasi simbolik dan distribusi modal linguistik dalam struktur sosial.

Sementara Jürgen Habermas memperkenalkan gagasan komunikasi sebagai tindakan normatif yang harus mendukung demokrasi deliberatif. Kedua tokoh ini memberikan perspektif yang saling melengkapi dalam memahami komunikasi sebagai arena dominasi sekaligus harapan emansipasi.

Refleksi buku ini mencapai puncaknya pada pembahasan tokoh-tokoh yang relevan dengan masyarakat digital, Manuel Castells dan Shoshana Zuboff. Castells, dengan teori masyarakat jaringan, menggambarkan bagaimana kekuasaan kini ditentukan oleh konektivitas dan visibilitas dalam jaringan global informasi.

Sementara itu, Zuboff membawa diskursus kapitalisme pengawasan, di mana komunikasi telah direduksi menjadi data perilaku yang dikelola oleh algoritma, menempatkan kontrol sosial dalam ranah yang semakin terotomatisasi.

Di sinilah letak relevansi buku ini: di tengah semakin mendalamnya digitalisasi, pembaca diajak untuk berpikir kritis tentang bagaimana komunikasi, sebagai praktik sosial yang fundamental, harus dipertahankan.

Buku ini menegaskan bahwa sosiologi komunikasi tidak hanya cukup menganalisis media atau pesan, tetapi juga harus memperhatikan arsitektur komunikasi itu sendiri—struktur, algoritma, dan kekuasaan yang mengatur arus informasi.

Buku ini menawarkan kontribusi penting bagi pengembangan kajian sosiologi komunikasi di Indonesia. Secara teoritis, buku ini memperkaya literatur akademik dengan pendekatan yang kritis, historis, dan reflektif.

Sebagai buku ajar, ia sangat relevan bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti ilmu komunikasi, sosiologi, dan ilmu sosial pada umumnya. Melalui analisis mendalam terhadap tokoh-tokoh klasik dan kontemporer, buku ini membuka ruang bagi refleksi normatif tentang masa depan komunikasi di era dominasi data, algoritma, dan kapitalisme digital.

Lebih dari itu, buku ini mendorong pembaca untuk berpikir lebih jauh tentang etika dan politik komunikasi di masa depan.

Sebagai sebuah karya kolektif, buku ini juga menunjukkan kekayaan intelektual yang ada dalam dialog antar disiplin ilmu dan sudut pandang, membawa pembaca dari diskursus klasik menuju tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat digital saat ini.

Buku ini merupakan karya penting yang menyajikan analisis mendalam dan kritis tentang evolusi komunikasi dalam masyarakat. Buku ini tidak hanya relevan untuk memahami teori-teori komunikasi dari para pemikir besar.

Pada sisi lain  juga memberikan wawasan penting tentang bagaimana komunikasi berfungsi dalam membangun dan mempertahankan solidaritas sosial, legitimasi kekuasaan, dan identitas dalam masyarakat modern dan digital.

Buku ini juga menjadi ajakan untuk lebih kritis dalam merumuskan kembali peran komunikasi dalam menciptakan masyarakat yang adil, reflektif, dan manusiawi. ***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *