Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ragam

Kunker Maraton Di Luwu Raya Ketum PB PGRI Prof Unifah Terima Buku “Mission (I’M) Possible”, Kisah Perjalanan Seorang Guru

×

Kunker Maraton Di Luwu Raya Ketum PB PGRI Prof Unifah Terima Buku “Mission (I’M) Possible”, Kisah Perjalanan Seorang Guru

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Palopo. Di sela kunjungan kerja maraton Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, ke Kota Palopo, Selasa (5/5/2026), sebuah momen sederhana namun sarat makna terjadi.

Mujahidin Agus—guru geografi yang akrab disapa Jidint—menyerahkan buku karyanya berjudul Mission (I’M) Possible: Mengukir Jejak Inspiratif Seorang Guru.

Example 300x600

Saat penyerahan buku tersebut turut disaksikan, Ketua PGRI Sulsel, Prof. Dr H Hasnaei Haris, M.Hum, Wakil Ketua PGRI Sulsel, Nursalam, S.Pd, M.Pd, Bendahara PGRI Sulsel, Dra. Hj Henriati Sabir, M.Pd, Ketua PGRI Luwu, Sukiman Satma, S.Ag, M.Si; Ketua PGRI Palopo, Drs. Basman, S.H., M.M, Ketua PGRI Luwu  Utara, Ismaruddin, S.Pd.

Buku setebal 258 halaman itu bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan potret perjalanan panjang seorang pendidik yang meniti karier dengan ketekunan, kegagalan, dan capaian yang tidak sedikit.

Jidint menuliskan 29 kisah yang merangkai suka duka menjadi guru di sekolah negeri. Ia tidak hanya bercerita tentang prestasi, tetapi juga tentang jalan berliku yang harus ditempuh, dari keterbatasan, penolakan, hingga keputusan sulit yang mengubah arah hidupnya.

Lahir di Wajo, Sulawesi Selatan, 17 Agustus 1969, Jidint tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Sartono, telah wafat sejak ia kecil, sementara ibunya, Amirah, menjadi sosok penting dalam perjalanan hidupnya.

Sejak kelas tiga sekolah dasar, ia mengikuti orangtuanya merantau ke Ujungpandang (kini Makassar). Pendidikan dasarnya ditempuh di sekolah negeri, hingga kemudian melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Negeri Makassar (saat itu IKIP Ujungpandang) melalui jalur prestasi.

Sejak mahasiswa, prestasi akademiknya menonjol. Tahun 1992, ia terpilih sebagai mahasiswa berprestasi dan berkesempatan mengikuti peringatan Hari Kemerdekaan RI di Istana Negara.

Dua tahun kemudian, ia lulus sebagai wisudawan terbaik fakultasnya. Namun, perjalanan kariernya tidak berjalan lurus.

Pada 1994, Jidint sempat diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) guru. Setahun berselang, ia memperoleh beasiswa pascasarjana di Universitas Hasanuddin.

Di titik ini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: melanjutkan studi atau mempertahankan status sebagai CPNS. Ia memilih mundur dengan hormat demi pendidikan. Keputusan itu bukan tanpa risiko ia sempat gagal menjadi dosen dan harus memulai kembali dari awal.

“Titik-titik kegagalan itu justru yang membentuk saya,” tulisnya dalam buku tersebut.

Tahun 2000, ia kembali lolos sebagai CPNS dan ditempatkan di Takalar. Sejak saat itu, kariernya sebagai guru berkembang, meski tetap diiringi upaya peningkatan diri. Ia aktif mengikuti pelatihan, menulis karya ilmiah, hingga menciptakan alat peraga pembelajaran dari bahan sederhana.

Perpindahan tugas membawanya ke Luwu dan akhirnya menetap di Palopo. Di sana, ia mengajar di SMA Negeri 3 Palopo, sekaligus terus mengasah kreativitasnya dalam pembelajaran.

Jidint bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga membangun inovasi—mulai dari media pembelajaran, video edukasi, hingga karya seni.

Puncak pengakuan atas kiprahnya datang pada 2016, saat ia meraih juara pertama Guru SMA Berprestasi tingkat nasional.

Prestasi itu melengkapi deretan panjang penghargaan yang telah ia kumpulkan, termasuk penghargaan tingkat Asia Tenggara dan Satyalancana Pendidikan dari Presiden RI.

Namun, bagi Jidint, capaian bukanlah tujuan akhir. Ia tetap produktif menulis—baik karya ilmiah maupun sastra. Sejak remaja, ia telah menghasilkan ratusan puisi dan puluhan cerpen. Sejumlah bukunya juga telah diterbitkan secara nasional, memperlihatkan sisi lain dirinya sebagai pendidik yang kreatif.

Buku Mission (I’M) Possible menjadi refleksi perjalanan tersebut. Judulnya menyiratkan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. “Impossible” dapat dipecah menjadi “I’m possible” sebuah filosofi sederhana yang ia pegang sepanjang kariernya.

Pada lanskap pendidikan yang terus berubah, kisah Jidint menghadirkan perspektif tentang ketekunan dan keberanian mengambil keputusan.

Ia menunjukkan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang yang menuntut konsistensi, kreativitas, dan daya tahan menghadapi perubahan.

Di tangan Jidint, pengalaman hidup tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi diolah menjadi inspirasi—bagi siswa, rekan guru, dan siapa saja yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *