Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Dosen AIGI YPAG Rina Silvana Jamal, Akademisi Muda di Jalan Pengabdian Gizi

×

Dosen AIGI YPAG Rina Silvana Jamal, Akademisi Muda di Jalan Pengabdian Gizi

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Di balik berbagai upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, ada sosok akademisi muda yang memilih jalan pengabdian melalui pendidikan, penelitian, dan kerja lapangan.

Baginya, ilmu gizi bukan sekadar disiplin akademik, melainkan instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sosok itu adalah Rina Silvana Jamal, dosen sekaligus Ketua Program Studi DIII Gizi Akademi Ilmu Gizi (AIGI) YPAG Makassar.

Example 300x600

Dia lahir di Bulukumba pada 17 Maret 1993, Rina tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik memberi manfaat kepada banyak orang.

Perjalanan akademiknya dimulai dari SDN 5 Padanglampe, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Ma’rang, sebelum menempuh pendidikan keperawatan di SMK Keperawatan YAPI Makassar.

Ketertarikannya terhadap persoalan kesehatan masyarakat membawanya memilih Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan peminatan Epidemiologi.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan studi Magister Kesehatan Masyarakat di kampus yang sama dengan konsentrasi yang tetap berfokus pada epidemiologi.

Pilihan tersebut menunjukkan konsistensinya mendalami ilmu yang berkaitan dengan pencegahan penyakit, surveilans kesehatan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Sebelum berkarier sebagai akademisi, Rina terlebih dahulu mengasah pengalaman di lapangan.

Pada 2016 ia bertugas sebagai tenaga surveilans di Puskesmas Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Di sana ia berhadapan langsung dengan berbagai persoalan kesehatan masyarakat, mulai dari pengumpulan data epidemiologi hingga upaya deteksi dini berbagai penyakit.

Pengalaman tersebut berlanjut ketika pada 2018 ia dipercaya menangani administrasi sekaligus surveilans di Puskesmas Ma’rang.

Bagi Rina, bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan memberikan pelajaran berharga bahwa kebijakan kesehatan yang baik harus bertumpu pada data yang akurat sekaligus memahami kondisi riil masyarakat.

Sejak 15 Februari 2019, Rina memilih jalur pengabdian di dunia pendidikan tinggi dengan bergabung sebagai dosen tetap di Akademi Ilmu Gizi YPAG Makassar.

Di kampus inilah ia mulai berperan menyiapkan generasi tenaga gizi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan menyelesaikan persoalan gizi di tengah masyarakat.

Kepercayaan institusi terhadap dedikasinya semakin besar ketika pada 1 Mei 2026 ia diamanahkan sebagai Ketua Program Studi DIII Gizi AIGI YPAG Makassar.

Kepada media, Jumat malam 17 Juli 2026, mengatakan bahwa amanah tersebut menjadi tanggung jawab baru untuk memperkuat tata kelola akademik, memperbarui kurikulum, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai institusi pelayanan kesehatan.

Di bawah kepemimpinannya, Program Studi DIII Gizi terus diarahkan menjadi ruang pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga dibentuk agar mampu melakukan edukasi, pencegahan, serta pemberdayaan masyarakat dalam mengatasi persoalan gizi, tandasnya.

Bagi Rina, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, melainkan dari sejauh mana lulusan mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran yang dibangun di kampus.

Di tengah berbagai tantangan kesehatan masyarakat, ia meyakini bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang gizi merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa.

Melalui pendidikan yang berkualitas, riset yang relevan, serta pengabdian yang berkelanjutan, Rina Silvana Jamal terus menapaki jalan pengabdian menghubungkan ruang kelas dengan kebutuhan nyata masyarakat, agar ilmu yang diajarkan tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi kehidupan.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *