BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Tim dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (FT UNM) mendorong pemberdayaan perempuan melalui pengembangan keterampilan fesyen ramah lingkungan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Pelatihan Eco-Marbling untuk Mendukung Sustainable Fashion yang menyasar anggota Aisyiyah Cabang Panakkukang, Kota Makassar, pada 2026.
Program ini diketuai Dr. Hamidah Suryani, S.Pd., M.Pd., dengan anggota tim Andi Nuralfiah, S.Pd., M.Pd. dan Syamsuriah, S.Kep., M.Kes.
Sejumlah mahasiswa juga dilibatkan dalam kegiatan sebagai bagian dari tim pelaksana.
Ketua Tim PKM, Dr. Hamidah Suryani mengatakan, kegiatan tersebut tidak sekadar mengajarkan teknik menghasilkan motif pada kain.
Program diarahkan untuk membuka peluang ekonomi produktif bagi perempuan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.
“Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki keterampilan membuat eco-marbling secara mandiri. Keterampilan tersebut selanjutnya dapat dikembangkan menjadi produk fesyen yang memiliki nilai ekonomi,” kata Hamidah.
Daun, Bunga hingga Kunyit Jadi Motif Kain
Eco-marbling merupakan teknik pembuatan motif pada kain yang dalam program ini memanfaatkan bahan alami.
Bahan yang digunakan antara lain daun, bunga, kunyit, dan secang. Tim juga menggunakan pengental berbasis tepung tapioka sebagai alternatif bahan sintetis.
Teknik tersebut relatif memungkinkan diterapkan pada skala rumah tangga karena tidak membutuhkan peralatan produksi yang rumit.
Keunikan lain terletak pada motif yang dihasilkan. Setiap kain dapat memiliki corak berbeda sehingga berpotensi dikembangkan menjadi produk dengan karakter tersendiri.
Menurut Hamidah, perkembangan industri fesyen memang membuka peluang ekonomi kreatif yang besar. Namun, pada saat bersamaan industri tersebut juga menghadapi tantangan lingkungan, terutama berkaitan dengan penggunaan bahan kimia sintetis, produksi massal, dan limbah tekstil.
Karena itu, konsep sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan diperkenalkan kepada peserta agar kegiatan ekonomi kreatif juga mempertimbangkan aspek lingkungan.
Sasar Perempuan Aisyiyah
Aisyiyah Cabang Panakkukang dipilih sebagai mitra karena memiliki potensi pengembangan usaha berbasis komunitas.
Sebagian anggotanya merupakan ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro yang memiliki peluang mengembangkan produk kreatif, khususnya pada bidang fesyen muslim dan kerajinan tekstil.
Dari observasi dan diskusi awal, tim menemukan sejumlah kebutuhan yang masih perlu diperkuat.
Di antaranya pengetahuan mengenai pewarnaan kain ramah lingkungan, keterampilan mengolah bahan alami, variasi produk, pemahaman mengenai fesyen berkelanjutan, hingga pemasaran secara digital.
Atas dasar itu, pelatihan tidak berhenti pada proses pembuatan motif.
Peserta juga mendapatkan pendampingan mengenai pengembangan produk, kewirausahaan, penentuan harga, pembukuan sederhana, branding, dan promosi digital.
Kain hasil eco-marbling selanjutnya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti jilbab, tote bag, pouch, dan kain bermotif.
Peserta Praktik Langsung
Pelatihan menggunakan pendekatan partisipatif dengan metode learning by doing.
Peserta terlebih dahulu diperkenalkan pada konsep sustainable fashion sebelum mengikuti demonstrasi dan praktik pembuatan eco-marbling.
Tahapan praktik meliputi pembuatan larutan pengental berbasis tepung tapioka, pencampuran pewarna alami, pembentukan motif, pemindahan motif ke kain, pengeringan, hingga proses akhir atau finishing.
Setiap peserta ditargetkan mampu menghasilkan sedikitnya satu karya eco-marbling.
Setelah memahami teknik dasar, peserta diarahkan mengembangkan hasil tersebut menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Pendampingan kemudian dilanjutkan pada standardisasi kualitas produk, pengembangan identitas produk, serta strategi pemasaran.
Target 75 Persen Peserta Bisa Produksi Mandiri
Tim FT UNM memasang sejumlah target dalam pelaksanaan program.
Sedikitnya 75 persen peserta ditargetkan mampu mempraktikkan teknik eco-marbling secara mandiri setelah mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan.
Program juga menargetkan tersusunnya panduan teknis produksi serta menghasilkan tiga hingga lima prototipe kain bermotif untuk dikembangkan menjadi jilbab.
Tahapan berikutnya diarahkan pada terbentuknya lini produk eco-marbling yang siap dipasarkan sekaligus identitas atau brand kolektif komunitas.
Hamidah berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus dikembangkan setelah program selesai.
Dengan demikian, kegiatan pengabdian perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pelatihan sesaat, tetapi dapat memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi kelompok mitra.
Program tersebut juga diharapkan mendorong anggota Aisyiyah Cabang Panakkukang menjadi komunitas perempuan yang semakin kreatif, mandiri, dan memiliki daya saing dalam mengembangkan usaha.
Melalui eco-marbling, tim FT UNM ingin mempertemukan tiga kepentingan sekaligus, yakni pemberdayaan perempuan, pengembangan ekonomi kreatif, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kain yang dihasilkan bukan sekadar memiliki motif baru, tetapi diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya produk fesyen berkelanjutan yang bernilai ekonomi dari komunitas perempuan di Kota Makassar.***


















