Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosok

Marzuki, Sopir yang Merintis Jalur Penumpang Sinjai-Makassar Lewat Camba

×

Marzuki, Sopir yang Merintis Jalur Penumpang Sinjai-Makassar Lewat Camba

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Sinjai. Bagi sebagian warga Sinjai, nama Marzuki bukan sekadar sopir angkutan penumpang. Ia adalah sosok yang ikut membuka kebiasaan baru perjalanan darat dari Sinjai menuju Makassar melalui jalur Camba, Kabupaten Maros.

Pada awal 1990-an, perjalanan penumpang dari Sinjai ke Makassar umumnya masih mengandalkan jalur selatan melalui Bantaeng. Saat itu, bus-bus besar seperti Cahaya Bone, Surya Litha, dan Samaenre masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Example 300x600

Sementara jalur Sinjai-Makassar melalui Camba belum banyak dilirik sebagai jalur angkutan langsung. Warga Sinjai yang ingin ke Makassar lewat Camba biasanya harus menumpang kendaraan dari Sinjai ke Palattae, lalu melanjutkan perjalanan dengan kendaraan lain menuju Makassar.

Di tengah kondisi itulah Marzuki membaca peluang.

Pria kelahiran Salomekko, 1974, itu awalnya bukan sopir angkutan umum rute Sinjai-Makassar. Sekitar tahun 1992, ia menjadi sopir pribadi Ustaz Anwar Harum, ulama dan cendekiawan asal Sinjai lulusan Universitas Madinah.

Dalam sepekan, Marzuki bisa tiga kali mengantar Ustaz Anwar Harum bolak-balik Sinjai-Makassar melalui jalur Camba. Tujuannya beragam, mulai dari menghadiri rapat di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar, mengajar di Universitas Muslim Indonesia, hingga beraktivitas di Pesantren Darul Istiqamah Maccopa, Maros.

Dari perjalanan rutin itulah Marzuki mulai melihat bahwa jalur Camba memiliki potensi besar.

Selama dua tahun bolak-balik melewati jalur tersebut, ia menyadari bahwa banyak warga Sinjai sebenarnya membutuhkan kendaraan langsung menuju Makassar tanpa harus berganti kendaraan berkali-kali.

“Waktu itu belum ada mobil langsung Sinjai-Makassar lewat Camba. Kalau orang mau ke Makassar, harus naik pete-pete dulu ke Palattae, baru sambung lagi,” kenang Marzuki kepada media, Sabtu, 12 Juli 2026.

Sekitar tahun 1994, Marzuki mulai mencoba membawa penumpang umum dari Sinjai ke Makassar melalui jalur Camba.

Awalnya, informasi tentang kendaraan yang ia kemudikan menyebar dari mulut ke mulut. Penumpangnya banyak berasal dari keluarga besar Pesantren Darul Istiqamah dan warga Sinjai yang sudah mengenalnya.

Dengan kendaraan jenis Panther, Marzuki mulai melayani perjalanan Sinjai-Makassar secara rutin. Tujuan akhirnya saat itu adalah Terminal Panaikang Makassar. Setelah terminal berpindah, ia kemudian menurunkan penumpang di Terminal Daya.

Perlahan, nama Marzuki semakin dikenal masyarakat Sinjai, terutama warga yang tinggal di Kota Sinjai dan sekitarnya.

Mereka mulai menjadikan kendaraan Marzuki sebagai pilihan ketika hendak bepergian ke Makassar.

Tarif awal perjalanan yang ia kenakan saat itu hanya Rp 6.000. Namun bagi Marzuki, nilai terbesar dari pekerjaan itu bukan sekadar ongkos perjalanan, melainkan kepercayaan penumpang.

“Dulu tarifnya Rp 6.000. Saya masih muda sekali waktu mulai bawa penumpang rute Sinjai-Makassar, sekitar umur 20 tahun,” ujarnya.

Sebelum jalur pintas Sanrego ramai dilalui, rute yang ditempuh Marzuki adalah Sinjai, Palattae, Camming, Ujung Lamuru, lalu Makassar. Beberapa tahun kemudian, setelah jalur Sanrego mulai dikenal, perjalanan menjadi lebih singkat.

Namun pada masa awal merintis jalur itu, suasana perjalanan tidak selalu mudah.

Marzuki masih mengingat betul ketika dari arah Makassar menuju Sinjai, terutama saat sore menjelang malam, kendaraan yang melintas dari Ujung Lamuru ke Camming sangat jarang.

Tidak jarang, ia merasa seperti berjalan sendiri di tengah sepinya jalur pegunungan.

“Kalau dari Makassar ke Sinjai, begitu belok dari Ujung Lamuru ke Camming, kadang sepi sekali. Biasa hanya mobil saya sendiri sampai masuk Sinjai,” katanya.

Suka duka menjadi sopir perintis jalur itu ia rasakan berkali-kali.

Suatu ketika, Marzuki pernah terjebak di kawasan Camba karena ada kendaraan besar yang mogok di badan jalan. Ia bersama penumpang harus menunggu berjam-jam sebelum bisa melanjutkan perjalanan menuju Sinjai.

Pada kesempatan lain, terutama ketika melintas malam hari, ia juga pernah menghadapi anak-anak muda mabuk yang menghadang kendaraan dan meminta uang.

Namun semua pengalaman itu ia lewati dengan sabar.

Bagi Marzuki, menjadi sopir bukan hanya soal mengemudi. Profesi itu menuntut ketenangan, keberanian, ketelitian, dan kemampuan menjaga keselamatan penumpang.

Pengalaman panjang Marzuki sebagai sopir sebenarnya sudah dimulai sebelum ia merintis jalur Sinjai-Makassar lewat Camba.

Sejak 1988, ia telah membawa mobil angkutan penumpang jenis pete-pete untuk rute Sinjai-Bone.

Kemampuan mengemudi itu tumbuh dari pengalaman hidupnya di Sinjai. Sejak kecil, Marzuki menempuh pendidikan di Pesantren Darul Istiqamah Bongki, Sinjai. Pada 1984, ia mulai mondok dan mengaji langsung kepada Ustaz Achmad Marzuki Hasan.

Ia menjalani pendidikan pesantren mulai dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, hingga tingkat Takhassus.

Latar belakang pesantren itu membentuk karakter Marzuki. Ia dikenal sabar, ramah, dan mudah bergaul dengan penumpang. Sikap itulah yang membuat banyak warga Sinjai merasa nyaman bepergian bersamanya.

Beberapa tahun setelah Marzuki mulai membawa penumpang melalui jalur Camba, sejumlah sopir angkutan umum lain mulai mengikuti jejaknya.

Jalur Sinjai-Makassar lewat Camba pun perlahan menjadi pilihan masyarakat. Apa yang dahulu dimulai dengan keberanian seorang sopir muda, kemudian berkembang menjadi jalur perjalanan yang ramai digunakan.

Hari ini, setelah lebih dari tiga dekade menjalani profesi sebagai sopir, Marzuki tetap bertahan di jalan.

Mobil yang ia gunakan sudah beberapa kali berganti. Surat izin mengemudi pun sudah berulang kali diperpanjang. Namun semangatnya tetap sama: mengantar penumpang dengan selamat sampai tujuan.

Di usianya yang kini 54 tahun, Marzuki masih tampak sehat dan bersemangat.

Ia telah dikaruniai 10 anak dan 8 cucu. Di tengah usia yang terus bertambah, ia tetap menekuni pekerjaan yang telah membesarkan namanya di mata banyak warga Sinjai.

Bagi Marzuki, jalan Sinjai-Makassar bukan sekadar lintasan aspal yang menghubungkan dua daerah.

Di jalan itulah ia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Di jalan itu pula ia membaca perubahan zaman, mengenal banyak orang, dan menyaksikan bagaimana sebuah jalur yang dulu sepi kini menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat.

“Sampai sekarang saya masih jalani. Banyak suka dukanya, tapi alhamdulillah semua bisa dilewati,” kata Marzuki.

Dari balik kemudi, Marzuki telah menjadi bagian kecil namun penting dalam sejarah perjalanan masyarakat Sinjai menuju Makassar.

Ia bukan pejabat, bukan pula pengusaha besar. Namun keberaniannya membaca peluang dan merintis jalur perjalanan baru telah meninggalkan jejak yang diingat banyak orang.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *