BERITASEMBILAN.Com-Sinjai — Keberhasilan tim dayung Kabupaten Sinjai menjadi salah satu kontingen paling bersinar pada ajang Pra Pekan Olahraga Provinsi (Pra PORPROV) Sulawesi Selatan 2025 bukanlah sebuah kebetulan.
Di balik 4 emas, 6 perak, dan 5 perunggu yang diraih di Danau Tanjung Bunga Makassar pada 15–19 November 2025 itu, ada perjalanan panjang, kisah ketekunan, dan dedikasi penuh seorang pelatih senior bernama Abd Gani, S.Pd.
Ia bukan pelatih yang datang lewat jalur cepat atau instan. Ia lahir dari kultur olahraga yang dibangun melalui pendidikan, kedisiplinan, pengalaman, dan kesabaran puluhan tahun.
Sosok pria kelahiran 21 Mei 1964 ini telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan dan olahraga. Dari seorang guru olahraga di sekolah dasar, ia tumbuh menjadi pelatih yang melahirkan puluhan atlet berprestasi di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan beberapa yang berhasil menembus ajang nasional sebagai wakil Sulawesi Selatan di PON.
Kini, ketika Sinjai kembali dipuji sebagai salah satu daerah yang solid di cabang olahraga dayung, nama Abd Gani kembali menjadi pembicaraan. Ia tak pernah mencari panggung, namun dedikasinya membuatnya selalu berada di garis depan keberhasilan.
Dari Atlet Cilik hingga Guru Olahraga
Kepada media Ahad 30 Nopember 2025 mengatakan, perjalanan panjang hidup dalam bidang olahraga bermula puluhan tahun silam, saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar pada tahun 1975. Di usia yang begitu muda, ia telah menjadi atlet yang mewakili daerahnya pada ajang POR SD. Ia tidak tumbuh dari keluarga atlet elite, namun kecintaannya pada olahraga membuatnya dengan cepat menonjol di mata para guru dan pembinanya, katanya.
Hobinya bermain bola kaki membuatnya semakin aktif di dunia olahraga. Setiap sore ia berlatih, bukan karena paksaan, melainkan karena rasa suka yang begitu besar.
Dari sinilah bibit kedisiplinan terbentuk. “Sejak kecil saya senang olahraga. Kalau tidak ada kegiatan di sekolah, saya ke lapangan apalagi rumah kala itu dipinggir lapangan bola Gelora Massa Sinjai, cari teman main bola,” kenangnya dalam beberapa kesempatan.
Menyadari kecintaannya pada olahraga, Gani menempuh pendidikan di Sekolah Guru Olahraga (SGO) Makassar dan lulus pada tahun 1984. SGO pada masa itu adalah institusi yang melahirkan guru-guru olahraga terbaik di Sulawesi Selatan, dan Gani termasuk salah satu yang berhasil menamatkan pendidikan dengan baik.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia kembali ke Sinjai dan diangkat sebagai guru PNS. Ia mengajar pertama kali di SDN 5 Sinjai, kemudian ditugaskan di SDN 1 Sinjai Utara hingga memasuki masa pensiun pada tahun 2024. Meski sudah purna tugas, komitmennya terhadap dunia olahraga sama sekali tidak pernah berhenti.
Tiga Dekade Mengabdikan Diri untuk Cabang Dayung
Jika sebagian orang hanya mengenal sepak bola, bola voli, atletik, atau pencak silat sebagai olahraga populer di sekolah, Gani justru memilih jalur yang tidak banyak dilirik: dayung. Cabang olahraga yang identik dengan kerja keras, disiplin ketat, kekuatan fisik, dan pemahaman teknik yang rumit.
Sejak sekitar 30 tahun silam, ia mulai terlibat melatih atlet-atlet muda Sinjai di cabang dayung. Pada masa itu fasilitas belum memadai, peralatan terbatas, dan dukungan belum sekuat sekarang. Namun justru kondisi minim tersebut menjadi pemicu semangat Gani. Ia percaya bahwa bakat bisa muncul dari tempat yang sederhana, sepanjang ada latihan rutin, arahan yang tepat, dan komitmen yang kuat.
Dalam rentang tiga dekade itu, ia telah melatih berbagai generasi atlet. Dari yang masih duduk di bangku SD, SMP, SMA, hingga yang kini sudah menjadi guru, anggota TNI/Polri, bahkan ada yang tetap bertahan sebagai atlet senior.
Prestasi demi prestasi dicetak tim dayung Sinjai di bawah kepemimpinannya. Pada setiap gelaran Porda atau Porprov di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan—baik di Luwu Raya, Makassar, Bulukumba, hingga Sinjai sendiri—kontingen dayung Sinjai selalu pulang membawa medali.
Bahkan pada PORPROV yang digelar di Sinjai beberapa tahun lalu, mereka meraih 1 emas, 4 perak, dan 6 perunggu, pencapaian yang memperkuat reputasi Sinjai di arena dayung.
Atas kontribusi luar biasa itu, Pemerintah Kabupaten Sinjai memberikan penghargaan kepadanya sebagai pelatih berprestasi selama tiga tahun berturut-turut. Penghargaan yang tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari kerja keras panjang yang sering kali tidak terlihat publik.
Menemukan Bibit dari Sekolah dan Pesisir Pantai
Salah satu kekuatan Gani adalah kemampuannya menemukan atlet muda. Ia tidak menunggu calon atlet datang kepadanya; terkadang kunjungi sekolah-sekolah, bertemu guru-guru olahraga, melakukan pengamatan langsung, dan berbicara dengan orang tua.
Ia tahu persis bahwa bakat tidak selalu datang dari siswa dengan nilai tinggi atau penampilan yang menonjol. Kadang ia menemukan calon atlet dari anak yang pendiam, dari siswa yang lebih suka berada di halaman sekolah, atau dari mereka yang datang dari keluarga nelayan di pesisir pantai.
Mayoritas atlet dayung Sinjai memang berasal dari kawasan pesisir. Mereka tumbuh dekat dengan laut, perahu, dan ombak. Tangan mereka tidak asing dengan dayung. Ketika diajak berlatih, mereka cepat beradaptasi dengan ritme latihan yang berat. Kebiasaan bermain di laut sejak kecil membuat mereka lebih siap secara fisik dan mental.
Gani paham betul karakter anak-anak pesisir. Ia membina mereka bukan hanya dengan teknik olahraga, tetapi juga dengan kedekatan emosional. Inilah yang membuat para atlet merasa nyaman dan betah berlatih dalam jangka panjang.
“Semua Atlet Seperti Anak Saya”
Salah satu hal paling menonjol dari Gani adalah caranya memperlakukan atlet. Ia tidak sekadar melatih. Ia membimbing, mengarahkan, bahkan merawat layaknya keluarga sendiri.
“Semua atlet adalah anak saya,” katanya suatu ketika dengan suara pelan namun penuh keyakinan.
Sebagai pelatih, ia selalu hadir pada setiap sesi latihan, dari pagi hingga sore. Ia memastikan atlet menjalankan instruksi dengan benar, memperbaiki teknik, mengatur strategi, hingga memberikan motivasi di saat mental mereka turun.
Ketika pertandingan berlangsung, ia berada di pinggir arena, memantau setiap gerakan. Ia bukan tipe pelatih yang berteriak tanpa arah. Ia mengamati, memberikan arahan singkat, dan memberi kepercayaan penuh kepada atletnya. Bagi Gani, motivasi adalah faktor kunci. “Kalau mentalnya kuat, teknik akan mengikuti,” tegasnya.
Momen paling mengharukan baginya adalah ketika nama atlet dipanggil untuk menerima medali. “Semua lelah hilang. Itulah kebanggaan seorang pelatih,” ungkapnya.
Ucapan itu bukan klise. Dalam setiap podium kemenangan, ada usaha panjang: rasa lelah, keringat, demam, cedera, latihan di tengah hujan, hingga jarak jauh yang harus ditempuh dari rumah ke lokasi latihan. Namun semuanya terbayar ketika bendera Sinjai berkibar dan atlet tersenyum bangga.
Keberhasilan Sinjai di Pra PORPROV 2025
Pada Pra PORPROV 2025, Sinjai menurunkan 25 atlet dan 7 official. Mereka mengikuti 16 nomor lomba, di antaranya:
- 1000 meter kayak putra
- 1000 meter kayak putri
- TBR
- 1000 meter putra
- 200 meter putri
- Mix 1000 meter dan 200 meter
Hasilnya di luar ekspektasi banyak pihak. Sinjai meraih 4 emas, 6 perak, dan 5 perunggu, total 15 medali. Capaian tersebut menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah cabang dayung Sinjai di ajang pra kualifikasi provinsi.
Lebih dari sekadar angka, prestasi itu menunjukkan bahwa pembinaan atlet berjalan dengan baik. Regenerasi tampak stabil, dan kompetisi internal antar-atlet menciptakan peningkatan kualitas yang signifikan.
Menatap PORPROV 2026: Persiapan Serius ke Bone–Wajo
Dengan hasil gemilang tersebut, PODSI Sinjai langsung menyusun strategi menuju Pra PORPROV 2026 yang rencananya akan digelar di Bone–Wajo.
Program latihan intensif mulai disiapkan:
- peningkatan kualitas teknik dayungan,
- penambahan frekuensi latihan fisik,
- pembinaan mental,
- serta rencana pengadaan perahu baru dan sarana latihan pendukung.
Sebagai pelatih senior, Gani kembali dipercaya berada dalam tim persiapan menuju PORPROV. Pengalamannya, terutama membaca karakter atlet dan merumuskan strategi, dianggap sangat penting.
Modal pengalaman panjang, tradisi prestasi yang kuat, dan regenerasi atlet yang stabil, Sinjai semakin percaya diri menatap PORPROV 2026. ***


















