BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Kesibukan di dunia politik tak menghalangi Jemarang, S.I.Pem., M.I.P. untuk melanjutkan pendidikan.
Politisi asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Pemerintahan di Program Pascasarjana Universitas Pancasakti (Unpacti) Makassar.
Jemarang mengikuti prosesi wisuda Unpacti Makassar, Sabtu (26/9/2026).
Ia mencatat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 dan dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik.
Pria kelahiran Kas, NTT, 1 Januari 1986 tersebut saat ini menjabat Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPC PDI Perjuangan Manggarai Timur, NTT.
Pencapaian akademik tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Jemarang. Sebab, ini merupakan kali kedua dirinya menjalani prosesi wisuda di Unpacti Makassar.
Sebelumnya, Jemarang menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pancasakti Makassar.
Ia kemudian kembali ke kampus tersebut untuk menempuh pendidikan S2 hingga meraih gelar Magister Ilmu Pemerintahan.
Dua Kali Wisuda di Unpacti
Usai prosesi wisuda, Jemarang mengaku bersyukur bisa menyelesaikan pendidikan di tengah aktivitasnya.
“Saya sangat bersyukur pada kesempatan kali ini. Ini adalah kali kedua saya diwisuda di Universitas Pancasakti Makassar, mulai dari S1 hingga S2 Magister Ilmu Pemerintahan,” kata Jemarang.
Menurutnya, pelayanan akademik menjadi salah satu hal yang memberikan kesan selama menjalani pendidikan.
Ia menilai jajaran pimpinan, pengelola Pascasarjana hingga dosen mampu membangun komunikasi yang responsif dengan mahasiswa.
Hal tersebut, kata Jemarang, penting terutama bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara pendidikan dengan pekerjaan maupun tugas kedinasan.
“Cara pelayanannya luar biasa dan tidak sulit, sangat ramah bagi saudara-saudara kita yang bertugas, baik sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun pejabat publik di luar pemerintahan yang tetap berhubungan dengan kebijakan negara,” ujarnya.
Politik Tak Halangi Prestasi Akademik
Capaian IPK 3,98 menjadi bagian penting perjalanan pendidikan Jemarang.
Di tengah aktivitas politiknya di Manggarai Timur, ia mampu menuntaskan Magister Ilmu Pemerintahan dengan hasil akademik tinggi.
Jemarang berharap pengalaman tersebut juga menjadi motivasi bagi generasi muda dan lulusan sarjana yang ingin meningkatkan kapasitas keilmuan.
“Saya mengajak seluruh adik-adik dan rekan-rekan yang saat ini sedang atau telah menyelesaikan S1, mari kita lanjutkan pendidikan S2 di Universitas Pancasakti Makassar,” katanya.
Bagi Jemarang, pendidikan pemerintahan memiliki relevansi dengan aktivitasnya yang bersentuhan dengan persoalan masyarakat, kebijakan dan dinamika pemerintahan daerah.
Gelar magister yang diperolehnya pun tidak hanya menjadi tambahan kualifikasi akademik, tetapi diharapkan memperkuat kapasitasnya dalam menjalankan aktivitas publik di NTT.
Direktur Pascasarjana: Lulusan Harus Berkontribusi
Direktur Program Pascasarjana Universitas Pancasakti Makassar Dr Anirwan, S.IP., M.Adm.KP. mengatakan keberhasilan mahasiswa menyelesaikan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tata kelola akademik.
Menurutnya, Pascasarjana Unpacti berupaya membangun tata kelola yang berkualitas, transparan dan berorientasi pada peningkatan mutu secara berkelanjutan.
“Bagi kami, kualitas tata kelola merupakan fondasi penting dalam penyelenggaraan pendidikan di Program Pascasarjana,” kata Anirwan.
“Tata kelola yang baik harus mampu menjamin proses akademik berjalan secara tertib, transparan, akuntabel, dan tetap memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang secara keilmuan maupun profesional,” lanjutnya.
Anirwan mengatakan tata kelola tersebut mencakup proses pembelajaran, pembimbingan, penelitian hingga penyelesaian studi.
Pascasarjana Unpacti juga terus memperkuat sistem pembelajaran, kualitas dosen, proses pembimbingan dan budaya akademik yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa.
Gelar Bukan Akhir Proses Belajar
Menurut Anirwan, ukuran keberhasilan pendidikan pascasarjana tidak semata-mata terletak pada bertambahnya gelar di belakang nama lulusan.
Kemampuan berpikir kritis, melakukan kajian ilmiah dan memberikan kontribusi kepada masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
“Pendidikan di Program Pascasarjana bukan sekadar menyelesaikan sejumlah mata kuliah dan memperoleh gelar akademik,” ujarnya.
“Yang lebih penting adalah bagaimana proses pendidikan tersebut menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu melakukan kajian secara ilmiah, serta dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan,” tambahnya.
Anirwan berharap ilmu yang diperoleh para alumni dapat diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan pemerintahan di daerah asal masing-masing.
“Kami berharap para lulusan tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi mampu membawa pengetahuan dan pengalaman akademiknya untuk menjawab persoalan pemerintahan dan pembangunan di daerah masing-masing,” pungkasnya.
Bagi Jemarang, pesan tersebut memiliki konteks tersendiri. Selepas meraih gelar Magister Ilmu Pemerintahan dengan IPK 3,98, ia kembali membawa bekal akademiknya ke tengah aktivitas politik dan kehidupan masyarakat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. ***


















