Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Prof Abdul Saman Dikukuhkan sebagai Guru Besar UNM, Soroti Ancaman FoMO dan Kecanduan Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Generasi Digital

×

Prof Abdul Saman Dikukuhkan sebagai Guru Besar UNM, Soroti Ancaman FoMO dan Kecanduan Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Generasi Digital

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Prof. Dr. Abdul Saman, S.Pd., M.Si., Kons. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (29/7/2026).

Pada pidato ilmiahnya, Prof Abdul Saman mengangkat tema “Peningkatan Psychological Well-Being Generasi Digital: Transformasi Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Fear of Missing Out (FoMO) dan Kecanduan Media Sosial”.

Example 300x600

Di hadapan Sidang Terbuka Senat UNM, Prof Abdul Saman menegaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi digital telah menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, khususnya terkait kesehatan mental peserta didik.

Menurutnya, media sosial memang memberikan banyak manfaat sebagai sarana komunikasi, pembelajaran, dan berbagi informasi. Namun, penggunaan yang berlebihan juga memunculkan berbagai persoalan psikologis, seperti Fear of Missing Out (FoMO), kecanduan media sosial, kecemasan sosial, hingga menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) generasi muda.

Berdasarkan penelitian yang dipaparkannya terhadap 680 responden di Sulawesi Selatan, mayoritas siswa menghabiskan waktu 7–10 jam per hari menggunakan media sosial. Instagram menjadi platform yang paling banyak digunakan, disusul Facebook dan TikTok.

Kondisi tersebut menunjukkan tingginya intensitas interaksi digital di kalangan remaja yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental mereka.

Prof Abdul Saman menjelaskan bahwa FoMO ditandai dengan dorongan kuat untuk terus mengikuti aktivitas orang lain di media sosial, rasa cemas ketika tidak terhubung dengan internet, serta kebutuhan memperoleh validasi melalui jumlah “like”, komentar, dan respons dari pengguna lain.

“Semakin tinggi tingkat FoMO dan kecemasan sosial seseorang, maka kualitas hubungan positif dan penerimaan dirinya cenderung menurun,” paparnya berdasarkan hasil penelitian.

Self Acceptance Jadi Faktor Terkuat

Temuan utama dalam riset tersebut menunjukkan bahwa self acceptance (penerimaan diri) menjadi faktor paling kuat dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis peserta didik.

Menurut Prof Abdul Saman, individu yang mampu menerima dirinya secara positif memiliki peluang lebih besar untuk terhindar dari dampak negatif media sosial dibanding mereka yang terus mencari pengakuan dari lingkungan digital.

Karena itu, ia mendorong transformasi layanan bimbingan dan konseling di sekolah agar tidak lagi hanya berorientasi pada penyelesaian masalah, tetapi juga pada penguatan karakter, kesehatan mental, dan kemampuan adaptasi peserta didik di era digital.

Empat Strategi Menghadapi FoMO

Dalam orasi ilmiahnya, Prof Abdul Saman menawarkan empat strategi utama untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis generasi digital, yakni:

  • memperkuat self acceptance melalui layanan bimbingan dan konseling;
  • membangun positive relations melalui konseling kelompok dan konselor sebaya;
  • meningkatkan literasi digital sehat bagi siswa, guru, dan orang tua; serta
  • mengembangkan konseling berbasis teknologi, termasuk cyber counseling dan aplikasi asesmen psikologis digital.

Ia juga mengusulkan pengembangan model Digital Psychological Well-Being Counseling, instrumen psikometrik berbasis budaya Indonesia, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam layanan konseling sebagai arah pengembangan keilmuan di masa mendatang.

Mengakhiri pidatonya, Prof Abdul Saman mengajak seluruh akademisi, guru, konselor, orang tua, dan pemangku kebijakan membangun ekosistem pendidikan yang sehat secara psikologis.

“Hasil penelitian ini menegaskan bahwa tugas bimbingan dan konseling tidak lagi terbatas membantu peserta didik menyelesaikan masalah, tetapi juga mempersiapkan mereka hidup sehat, tangguh, bahagia, dan bermakna di era digital,” tegasnya.

Profil

Prof. Dr. Abdul Saman, S.Pd., M.Si., Kons. lahir di Bone, 17 Agustus 1972. Ia merupakan Guru Besar bidang Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM).

Saat ini, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNM periode 2022–2026, setelah sebelumnya memimpin fakultas yang sama pada periode 2018–2022.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri 88 Tocina (1985), dilanjutkan ke SMP Negeri Cenrana (1988), kemudian SPG Negeri 59 Watampone (1991). Gelar Sarjana (S1) diraihnya di IKIP Ujung Pandang (kini Universitas Negeri Makassar) pada Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan/Bimbingan dan Konseling tahun 1997.

Selanjutnya ia menyelesaikan Magister Psikologi di Universitas Padjadjaran pada 2002, meraih gelar Pendidikan Profesi Konselor di Universitas Negeri Padang pada 2006, dan memperoleh gelar Doktor Psikologi Konseling di Universiti Kebangsaan Malaysia pada 2012.

Karier akademiknya dimulai sebagai dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNM pada 2002. Selain mengajar di UNM, ia juga pernah menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur dan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar. Jabatan akademiknya meningkat dari Asisten Ahli (2003), Lektor (2006), Lektor Kepala (2008), hingga dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 2022.

Dalam bidang kepemimpinan, Prof. Abdul Saman memiliki pengalaman struktural yang panjang. Ia pernah menjabat Sekretaris UPT Layanan Konseling dan Psikologi Mahasiswa, Kepala Laboratorium Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Sekretaris Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.

Wakil Dekan Bidang Akademik FIP UNM, kemudian dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan selama dua periode berturut-turut. Di tingkat nasional, ia juga aktif sebagai Asesor BAN-PT, Asesor LAMDIK, Asesor Sertifikasi Dosen, Asesor Sertifikasi Guru, serta pernah menjadi Interviewer LPDP Kementerian Keuangan RI.

Sebagai akademisi, Prof. Abdul Saman dikenal produktif menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah di bidang bimbingan dan konseling, psikologi pendidikan, psychological well-being, psychological capital, fear of missing out (FoMO), kecanduan media sosial, bullying, literasi digital, hingga konseling berbasis teknologi.

Lima tahun terakhir ia memimpin berbagai riset yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi maupun dana internal UNM, termasuk penelitian tentang FoMO dan psychological well-being siswa di Sulawesi Selatan, layanan konseling spiritual, serta psychological capital bagi peserta didik.

Produktivitas ilmiahnya juga tercermin dari puluhan artikel yang dipublikasikan pada jurnal nasional dan internasional bereputasi. Beberapa karya terbarunya antara lain Analisis Manajemen Waktu dan Psychological Capital sebagai Prediktor Anticipatory Anxiety Mahasiswa Tingkat Akhir (2026).

Development of a Group Guidance Model Based on Traditional Mandar Games to Improve Students’ Social Skills (2026), The Indirect Effect of Parents’ Work-Family Conflict on Students’ Psychosocial Well-Being (2024), serta berbagai artikel mengenai bullying, kecanduan media sosial, dan layanan konseling digital.

Selain artikel ilmiah, Prof. Abdul Saman juga aktif menulis buku, di antaranya Psikologi Pendidikan (2025), Membangun Pendidikan: Satu Visi Banyak Perspektif (2025), Pemodelan Matematika: Sebagai Solusi Kecanduan Game Online dengan Pengawasan Orang Tua dan Bimbingan Konseling (2022), serta menjadi kontributor buku Bersama Membangun dan Berkarya (Ontologi Pemikiran Guru Besar dan Doktor UNM) yang terbit pada 2026.

Di luar kampus, Prof. Abdul Saman aktif dalam berbagai organisasi profesi. Saat ini ia menjabat Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Provinsi Sulawesi Selatan periode 2025–2030, Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), Ketua I ABKIN Sulawesi Selatan.

Wakil Ketua Umum IKA UNM Bidang Organisasi, Kelembagaan dan Hubungan Alumni, serta Ketua Biro PGRI Provinsi Sulawesi Selatan. Atas dedikasinya di bidang pendidikan, ia menerima Satyalancana Karya Satya 10 Tahun (2013) dan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun (2024) dari Presiden Republik Indonesia. ***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *