BERITASEMBILAN.Com-Perth. Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Dr. Eliza Meiyani, M.Si., mengajak generasi muda Indonesia yang hidup dan menempuh pendidikan di luar negeri untuk memiliki wawasan global tanpa kehilangan akar budaya Nusantara.
Pesan tersebut disampaikan Prof Eliza saat menjadi narasumber kegiatan Curtin Indonesian Muslim Students Association (CIMSA Curtin) di Curtin University, Perth, Western Australia, Kamis, 24 September 2026.
Dalam kegiatan bertajuk “Anak Rantau, Akar Nusantara: Menghidupkan Budaya Lokal Indonesia di Perth”, Prof Eliza menekankan pentingnya prinsip “berpikir global, berhati lokal” bagi generasi muda Indonesia di tengah pergaulan dunia.
Berpikir global, menurut penekanan Prof Eliza, berarti terbuka terhadap perkembangan pengetahuan, kemajuan, dan pergaulan internasional. Namun keterbukaan tersebut tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari nilai dan kebudayaan yang membentuk identitasnya sebagai bangsa Indonesia.
Karena itu, hidup di luar negeri tidak semestinya membuat generasi muda berjarak dengan kebudayaan asal. Pengalaman global justru dapat menjadi kesempatan untuk semakin mengenali identitas sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.
Menjunjung Akulturasi Budaya
Selain mempertahankan identitas, Prof Eliza menekankan pentingnya menjunjung akulturasi.
Menurutnya, menjaga kebudayaan Indonesia bukan berarti menutup diri atau menolak budaya masyarakat tempat diaspora tinggal. Generasi muda justru perlu membuka ruang perjumpaan antara kebudayaan Indonesia dan budaya setempat tanpa menghilangkan identitas masing-masing. Pasted markdown
Dalam konteks mahasiswa Indonesia di Australia, mereka dapat tetap membawa bahasa, nilai, seni, tradisi, kuliner, dan berbagai ekspresi budaya Nusantara sembari belajar serta menghargai kebudayaan masyarakat Australia.
Pertemuan antarkebudayaan dengan demikian tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap identitas. Akulturasi justru dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, berdialog, dan memperkaya pengalaman.
Di sinilah prinsip berpikir global dan berhati lokal menemukan relevansinya. Wawasan dapat melintasi batas negara, tetapi akar nilai dan kebudayaan tetap menjadi pijakan dalam berinteraksi dengan masyarakat global.
Diaspora sebagai Jembatan Budaya
Dalam paparannya, Prof Eliza juga menjelaskan bahwa diaspora tidak sekadar bermakna berpindah dari satu negara ke negara lain.
Diaspora tetap memiliki hubungan dengan tanah asal atau home, sekaligus membangun kehidupan dengan masyarakat tempat mereka tinggal atau host society. Kondisi tersebut membuat diaspora Indonesia memiliki posisi strategis sebagai jembatan antarkebudayaan.
Generasi muda Indonesia di luar negeri dapat menyerap pengetahuan dan pengalaman global untuk memperluas wawasan. Pada saat yang sama, mereka tetap dapat merawat bahasa, nilai, tradisi, seni, kuliner, serta berbagai ekspresi budaya Indonesia.
Karena itu, Prof Eliza menempatkan perjalanan diaspora muda dalam tiga ranah, yakni identity, connection, dan representation.
Identitas menjadi fondasi untuk mengenali dan menghidupkan akar budaya sendiri. Selanjutnya, generasi muda membangun connection atau hubungan dengan masyarakat dari latar budaya berbeda. Dari proses tersebut kemudian tumbuh representation, yakni kemampuan menghadirkan wajah Indonesia dalam kehidupan global.
Menjadi Duta Budaya Indonesia
Prof Eliza menilai menjadi duta budaya tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan formal.
Cara berkomunikasi, menghargai perbedaan, membangun persahabatan, berinteraksi di lingkungan kampus, hingga memperkenalkan makanan dan tradisi Indonesia dapat menjadi bentuk representasi kebudayaan.
Generasi muda diaspora, dengan demikian, tidak hanya menjadi penerima pengalaman global. Mereka juga membawa Indonesia ke ruang global dan berpeluang menjadi cultural ambassador dalam kehidupan sehari-hari.
Prof Eliza juga menawarkan tiga pilar untuk memperkuat peran tersebut. Pertama, transmisi budaya lokal, dengan mempelajari, mempraktikkan, dan mewariskan budaya. Kedua, pendidikan dan penguatan kapasitas, termasuk bahasa dan literasi budaya. Ketiga, pembangunan komunitas dan jembatan lintas budaya.
Organisasi mahasiswa Indonesia seperti CIMSA Curtin, menurut kerangka tersebut, memiliki posisi penting. Organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul mahasiswa Indonesia, tetapi dapat menjadi ruang membangun jejaring, memperkuat identitas, dan menjalankan diplomasi budaya.
Kegiatan di Curtin University memang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga dan memperkenalkan budaya lokal Indonesia di lingkungan internasional.
Akademisi Muhammadiyah di Ruang Global
Prof Eliza hadir dalam kapasitasnya sebagai Guru Besar dan dosen tetap Program Studi Doktor Ilmu Pemerintahan UMY. Keterlibatannya dalam forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi akademisi Muhammadiyah dalam ruang internasional.
Forum di Perth membawa pesan bahwa menjadi bagian dari masyarakat global tidak mengharuskan seseorang kehilangan identitas Indonesia.
Berpikir global, berhati lokal, dan menjunjung akulturasi menjadi gagasan yang saling berkaitan: membuka diri terhadap kemajuan dunia, tetap berpijak pada akar Nusantara, sekaligus membangun perjumpaan yang sehat dengan kebudayaan lain.
Semangat tersebut, diaspora muda Indonesia diharapkan tidak hanya hadir sebagai mahasiswa atau profesional di luar negeri, tetapi juga menjadi jembatan budaya dan wajah Indonesia di tengah masyarakat dunia.***


















