Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Raih Doktor IPK 4,00, Ratna Wulandari Kembangkan Permainan Tradisional untuk Regulasi Emosi Siswa

×

Raih Doktor IPK 4,00, Ratna Wulandari Kembangkan Permainan Tradisional untuk Regulasi Emosi Siswa

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Permainan tradisional tidak hanya memiliki fungsi rekreatif bagi anak. Jika dikembangkan dengan pendekatan pendidikan yang tepat, permainan seperti bakiak, estafet sarung, dan bentengan dapat menjadi media untuk melatih kemampuan siswa dalam mengenali sekaligus mengendalikan emosi.

Gagasan tersebut dikembangkan dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Dr. Ratna Wulandari, S.Pd., M.Pd., melalui penelitian disertasinya pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM).

Example 300x600

Ratna resmi meraih gelar doktor setelah mengikuti Ujian Tutup dan Yudisium di Gedung Pascasarjana UNM, Kamis (13/8/2026).

Ia menyelesaikan pendidikan doktor dengan prestasi akademik membanggakan. Ratna meraih IPK 4,00, berstatus bebas ujian promosi, serta berhasil menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus Q1.

Disertasinya berjudul “Pengembangan Model Bimbingan Kelompok Berbasis Permainan Tradisional dalam Meningkatkan Regulasi Emosi Siswa di Sekolah Menengah Pertama.”

Penelitian tersebut dibimbing Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd. selaku promotor serta Prof. Dr. Farida Aryani, M.Pd. dan Dr. Herman, S.Pd., M.Pd. sebagai kopromotor.

Berangkat dari Persoalan Siswa

Penelitian Ratna berangkat dari persoalan regulasi emosi yang dihadapi remaja pada jenjang SMP.

Studi pendahuluan yang dilakukannya di SMP Negeri 11 Makassar menemukan sejumlah perilaku yang menunjukkan persoalan pengelolaan emosi. Di antaranya, siswa membanting barang ketika kesal, sulit mengendalikan kemarahan, hingga terjadinya konflik verbal dan fisik antarsiswa.

Pada sisi lain, layanan bimbingan kelompok di sekolah masih banyak mengandalkan penyampaian materi dan diskusi secara verbal.

Kondisi tersebut mendorong Ratna mencari pendekatan yang memungkinkan siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan emosi, tetapi mengalami langsung situasi yang memunculkan respons emosional.

Permainan tradisional kemudian dipilih sebagai medianya.

“Permainan tradisional berpotensi besar dalam menciptakan pengalaman emosional yang autentik, menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal,” ungkap Ratna.

Bakiak hingga Bentengan

Tiga permainan tradisional digunakan dalam model yang dikembangkan, yakni bakiak, estafet sarung, dan bentengan.

Ketiganya tidak ditempatkan semata-mata sebagai permainan untuk menciptakan kegembiraan. Setiap permainan memiliki fungsi dalam proses pembelajaran regulasi emosi.

Bakiak digunakan untuk melatih kemampuan siswa memonitor emosi. Estafet sarung berkaitan dengan kemampuan mengevaluasi emosi, sedangkan bentengan diarahkan untuk melatih kemampuan memodifikasi emosi.

Dalam permainan tersebut, siswa berhadapan dengan pengalaman kerja sama, persaingan, keberhasilan, kegagalan, bahkan kemungkinan munculnya konflik.

Pengalaman emosional itu kemudian diproses melalui refleksi sehingga siswa diajak mengenali emosi, memahami penyebabnya, mengevaluasi respons yang diberikan, serta mencari cara yang lebih adaptif dalam mengelola emosi.

Model tersebut mengintegrasikan Process Model of Emotion Regulation James Gross, pendekatan experiential learning, dinamika bimbingan kelompok, serta nilai budaya lokal.

Terbukti Tingkatkan Regulasi Emosi

Ratna menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dalam penelitiannya.

Pengujian dilakukan secara bertahap. Sebanyak enam siswa dilibatkan dalam uji skala mikro, 12 siswa pada skala meso, dan 48 siswa pada skala makro. Guru Bimbingan dan Konseling juga dilibatkan sebagai fasilitator.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan regulasi emosi siswa secara konsisten.

Pada pengujian skala makro terhadap 48 siswa, rata-rata skor regulasi emosi meningkat dari sekitar 20,13 menjadi 41,85.

Penelitian juga memperoleh effect size Cohen’s d sebesar 4,0284, yang dikategorikan memiliki efek sangat besar. Sementara nilai N-Gain sebesar 0,78 berada dalam kategori tinggi.

“Model yang dikembangkan juga terbukti efektif dalam meningkatkan regulasi emosi siswa SMP,” tegas Ratna dalam hasil penelitiannya.

Hasilkan Perangkat untuk Guru dan Siswa

Disertasi tersebut tidak hanya menghasilkan model secara konseptual, tetapi juga perangkat yang dapat dimanfaatkan dalam layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Ratna menghasilkan Buku Model Bimbingan Kelompok Berbasis Permainan Tradisional, Buku Panduan Guru Bimbingan dan Konseling, serta Buku Panduan Siswa.

Perangkat tersebut dilengkapi dengan langkah operasional pelaksanaan layanan, aktivitas siswa, lembar refleksi, jurnal regulasi emosi, hingga evaluasi diri.

“Produk ini dirancang agar mampu membantu guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan layanan secara sistematis, terstruktur,” katanya.

Menurut Ratna, permainan tradisional memiliki potensi dikembangkan menjadi media psikopedagogis karena menghadirkan pengalaman emosional secara nyata sekaligus mengandung nilai-nilai sosial dan kearifan lokal.

Budaya Lokal Masuk Ruang Akademik

Salah satu nilai penting penelitian tersebut adalah upaya mempertemukan kearifan lokal dengan kebutuhan pendidikan kontemporer.

Permainan yang selama ini lebih banyak dipahami sebagai bagian dari aktivitas rekreatif anak dikembangkan menjadi instrumen layanan Bimbingan dan Konseling.

Dengan pendekatan itu, siswa tidak hanya diberi nasihat mengenai bagaimana mengendalikan kemarahan atau menghadapi kekecewaan. Mereka ditempatkan dalam pengalaman nyata, kemudian dibimbing untuk memahami respons emosional yang muncul.

Ratna tetap mencatat sejumlah keterbatasan penelitiannya. Pengukuran belum dilakukan secara longitudinal sehingga keberlanjutan dampak model dalam jangka panjang masih membutuhkan penelitian lanjutan.

Penelitian juga baru dilakukan pada siswa SMP di satu wilayah. Karena itu, penerapan pada karakteristik sosial dan budaya berbeda masih perlu diuji lebih jauh.

Capaian doktor Ratna sekaligus memperkuat sumber daya akademik Program Studi BKPI Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar.

Di tengah derasnya penggunaan teknologi dalam pendidikan, penelitiannya memberikan perspektif lain: inovasi tidak selalu harus berangkat dari sesuatu yang baru.

Permainan lama yang hidup dalam masyarakat pun dapat memperoleh fungsi baru ketika disentuh ilmu pengetahuan. Bakiak, estafet sarung, dan bentengan kini bukan sekadar permainan masa kecil, tetapi dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar mengenali dirinya, bekerja bersama orang lain, serta mengendalikan emosi.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *