Citizen Reporter
Laporan: Ayu Wandira
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar
BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Malam belum terlalu larut ketika Daeng Kulle kembali merapikan tumpukan sayur di lapaknya. Di bawah cahaya lampu pijar yang menggantung pada seutas kabel, wajahnya tampak jelas. Ada garis-garis usia, ada lelah yang disembunyikan, tetapi juga ada ketenangan seorang lelaki yang telah lama berdamai dengan kerasnya hidup.
Lapak kecil itu berdiri di kawasan Pasar Tamalate 1, Makassar. Terpal biru yang mulai kusam menjadi atapnya. Di bawahnya tersusun pepaya matang, ketimun, pare, cabai, kangkung, dan aneka sayuran lain. Di belakang lapak, dinding Masjid Nurul Mujtahidah menjadi latar yang tak biasa. Dari tempat itulah Daeng Kulle menjaga rezekinya, hampir setiap hari, selama puluhan tahun.
“Saya orang Makassar ji sekarang. Tinggal di Jalan Skarda, Nak,” katanya, membuka percakapan malam itu.
Bagi warga sekitar Pasar Tamalate 1, nama Daeng Kulle bukan sosok asing. Ia adalah bagian dari wajah pasar itu sendiri. Para ibu rumah tangga, pelanggan lama, hingga sesama pedagang mengenalnya sebagai penjual sayur yang ramah dan tekun. Kopiah rajut biru tua hampir selalu melekat di kepalanya. Kaus berkerah kelabu yang sederhana membungkus tubuhnya yang mulai menua, tetapi masih sigap bekerja.
Daeng Kulle telah berjualan di Pasar Tamalate 1 sekitar tiga puluh tahun. Jika dihitung mundur, ia mulai menggelar dagangan sejak pertengahan 1990-an, ketika Makassar belum sepadat sekarang. Ia menyaksikan perubahan kota, pertumbuhan ruko, hadirnya pusat belanja modern, hingga perubahan perilaku pembeli. Namun, lapak kecilnya tetap bertahan.
Tujuh Belas Jam di Pasar
Hari-hari Daeng Kulle dimulai sejak pagi. Pukul 07.00 Wita, ia sudah berada di pasar. Sayuran dari pemasok harus diturunkan, dipilah, dan disusun. Cabai yang mulai layu dipisahkan. Kangkung dan bayam dirapikan. Buah dan sayur ditata agar tetap menarik bagi pembeli.
Pekerjaan itu tidak berhenti ketika siang datang. Ia bertahan hingga malam. Lapak baru ditutup sekitar pukul 24.00 Wita. Artinya, hampir tujuh belas jam sehari Daeng Kulle berada di pasar. Di saat banyak orang telah beristirahat di rumah, ia masih menunggu pembeli terakhir, menjaga agar sayur tidak layu, dan berharap dagangan hari itu habis.
“Kalau ramai, alhamdulillah. Kalau sepi, kadang untuk modal besok saja harus dipikir baik-baik,” ujarnya.
Tidak ada gaji bulanan. Tidak ada tunjangan. Tidak ada jaminan hari tua. Penghasilannya bergantung pada jumlah sayur yang terjual hari itu. Ketika pasar ramai, ia bisa membawa pulang sedikit kelegaan. Ketika sepi, ia harus kembali menghitung modal, biaya rumah, dan kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Namun, Daeng Kulle tidak banyak mengeluh. Baginya, setiap hari adalah ikhtiar. Setiap pembeli adalah jalan rezeki. Setiap lembar uang yang terkumpul dari lapak kecil itu harus diatur dengan hati-hati.
Lima Anak, Lima Harapan
Alasan Daeng Kulle bertahan sederhana: keluarga. Ia memiliki lima anak. Anak bungsunya masih duduk di kelas V sekolah dasar. Dua anak lainnya bersekolah di SMP. Seorang lagi menempuh pendidikan di SMA. Anak sulungnya mulai bekerja dan ikut membantu keluarga.
Bagi Daeng Kulle, pendidikan anak-anak adalah tujuan utama. Ia tidak ingin anak-anaknya berhenti sekolah hanya karena keterbatasan ekonomi. Dari hasil menjual sayur, ia membayar buku, seragam, iuran sekolah, dan kebutuhan harian keluarga.
Ia tahu, hidup sebagai pedagang kecil tidak mudah. Ia juga tahu, pasar tidak selalu memberi keuntungan. Namun, ia percaya pendidikan bisa membuka jalan lain bagi anak-anaknya.
“Saya mau anak-anak sekolah baik-baik. Jangan seperti saya terus di pasar,” katanya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan harapan besar. Di balik tubuh renta yang setiap hari mengangkat keranjang sayur, ada seorang ayah yang sedang membangun masa depan anak-anaknya, sedikit demi sedikit.
Pasar sebagai Ruang Keluarga
Tiga puluh tahun berjualan membuat Daeng Kulle paham bahwa pasar bukan hanya tempat jual beli. Di Pasar Tamalate 1, hubungan antara pedagang dan pembeli kerap melampaui urusan harga.
Pelanggan lama biasanya tidak sekadar membeli sayur. Mereka bertukar kabar, menanyakan kesehatan, atau bercanda ringan. Kadang ada pembeli yang berutang kecil dan membayar esok hari. Kadang Daeng Kulle memberi tambahan cabai atau serai tanpa menghitung untung-rugi terlalu ketat.
Di situlah pasar tradisional memiliki nyawa. Ada percakapan, ada saling percaya, ada hubungan sosial yang tumbuh dari pertemuan berulang. Bagi Daeng Kulle, suasana seperti itu tidak bisa digantikan oleh pusat belanja modern.
“Kalau pembeli datang, cerita-cerita sedikit, itu juga bikin senang,” ujarnya.
Namun, pasar juga menyimpan duka. Sayuran adalah dagangan yang mudah rusak. Jika hujan turun deras dan pembeli sepi, sebagian barang bisa layu dan membusuk. Tomat menjadi lembek. Cabai berjamur. Daun-daun menguning. Kerugian seperti itu harus diterima, meski modal yang dipakai berasal dari hasil kerja keras hari sebelumnya.
Musim hujan menjadi tantangan lain. Air menggenang di sekitar lapak. Terpal bisa robek diterpa angin. Tubuhnya yang menua mulai sering merasakan linu dan pegal. Tetapi esok paginya, Daeng Kulle kembali datang. Pasar menunggunya, dan keluarganya membutuhkan hasil dari pasar itu.
Terdesak Ritel Modern
Perubahan kota membawa tantangan baru. Pasar tradisional seperti Tamalate 1 kini berhadapan dengan supermarket, minimarket, dan pusat belanja modern. Tempat-tempat itu menawarkan kenyamanan: ruangan ber-AC, lantai bersih, kemasan rapi, dan pembayaran cepat.
Daeng Kulle merasakan perubahan itu. Jumlah pembeli tidak seramai dulu. Sebagian warga, terutama keluarga muda, lebih memilih berbelanja di tempat modern. Alasan mereka beragam, mulai dari kebersihan, kenyamanan, hingga kepraktisan.
“Besar pengaruhnya, Nak. Sekarang tidak seperti dulu lagi,” katanya.
Meski demikian, Daeng Kulle tetap percaya pasar tradisional masih dibutuhkan. Menurut dia, tidak semua hal dapat digantikan oleh ritel modern. Di pasar, pembeli bisa menawar, memilih langsung, berbicara dengan pedagang, bahkan membangun kedekatan.
Di lapak kecilnya, transaksi tidak selalu kaku. Ada senyum, sapaan, dan doa. Bagi Daeng Kulle, itulah kekuatan pasar tradisional yang seharusnya dijaga.
Harapan untuk Pasar
Daeng Kulle tidak meminta banyak. Ia hanya berharap tetap diberi kesehatan agar bisa terus berjualan dan menyekolahkan anak-anaknya. Ia juga berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada pasar tradisional.
Menurut dia, pasar tidak cukup hanya dibersihkan sesekali. Fasilitas dasar perlu dibenahi. Drainase harus diperbaiki agar pasar tidak becek saat hujan. Pengelolaan sampah harus lebih baik agar pasar tidak berbau. Area parkir perlu ditata agar pembeli nyaman datang.
Baginya, revitalisasi pasar seharusnya tidak membuat pedagang kecil semakin terbebani. Pasar perlu dibuat lebih layak, tetapi tetap memberi ruang bagi pedagang kecil untuk bertahan.
Malam semakin sepi di Pasar Tamalate 1. Cahaya lampu pijar di lapak Daeng Kulle masih menyala. Di antara sayuran yang tersisa, ia berdiri menunggu pembeli terakhir. Tubuhnya mungkin mulai lelah, tetapi harapannya belum padam.
Selama masih kuat mengangkat keranjang sayur, selama anak-anaknya masih membutuhkan biaya sekolah, Daeng Kulle akan terus datang ke pasar. Dari lapak kecil di dekat masjid itu, ia menjaga hidup keluarganya—satu ikat sayur, satu pembeli, satu hari pada satu waktu.


















