Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Citizen Reporter

Mengais dari yang Tersisa, Rahman Menjaga Asa di Usia Senja

×

Mengais dari yang Tersisa, Rahman Menjaga Asa di Usia Senja

Share this article
Example 468x60

Citizen Reporter

Laporan: Ayu Wandira

Example 300x600

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unismuh Makassar

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Di sudut kawasan Jalan Sultan Alauddin, derit roda gerobak kecil itu terdengar pelan menyusuri jalanan permukiman. Pagi baru saja beranjak, namun bagi Rahman (68), hari sudah dimulai sejak lama.

Memakai baju kaos sederhana, celana pendek, dan topi lusuh yang melindungi dari terik, ia menapaki rutinitas yang sama: memungut botol plastik bekas dari sudut-sudut kota.

Di atas gerobaknya, karung-karung besar berisi plastik bekas tersusun rapi. Setiap benda yang dianggap tak bernilai oleh orang lain, baginya adalah sumber penghidupan.

Ia mengais dari jalanan, halaman rumah warga, hingga tempat pembuangan sementara.

“Biasanya mulai dari pagi, keliling cari botol atau plastik yang bisa dijual,” ujarnya pelan.

Rahman tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana tak jauh dari kawasan itu. Hidupnya bersahaja, jauh dari kata cukup. Namun, di usia yang telah memasuki senja, ia tak memiliki banyak pilihan selain terus bekerja.

Penghasilannya tak menentu. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp40.000 hingga Rp50.000. Namun, tak jarang pula hanya Rp10.000 hingga Rp20.000 yang didapatnya.

“Kadang dapat banyak, kadang sedikit. Tergantung rezeki,” katanya, seraya tersenyum tipis.

Bagi Rahman, angka-angka itu bukan sekadar hitungan rupiah, melainkan penentu apakah dapur tetap mengepul hari itu. Meski demikian, ia berusaha mensyukuri apa yang ada.

“Tidak seberapa memang, tapi InsyaAllah cukup untuk makan sehari-hari,” tuturnya.

Pekerjaan ini bukan tanpa beban. Tubuhnya kerap terasa letih, terlebih saat harus berjalan jauh di bawah panas matahari Makassar yang menyengat. Namun, kelelahan seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya.

“Kadang capek, apalagi kalau panas sekali. Tapi mau bagaimana lagi, ini saja yang bisa saya kerja,” ungkapnya.

Di balik keterbatasannya, Rahman sesungguhnya menjalankan peran yang kerap luput dari perhatian. Ia turut menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah plastik yang berserakan. Apa yang ia kumpulkan setiap hari adalah bagian kecil dari upaya besar menjaga kebersihan kota.

Kisah Rahman adalah potret tentang keteguhan di usia senja—tentang bagaimana hidup tetap berjalan, bahkan ketika pilihan semakin sempit. Di tengah hiruk-pikuk kota, langkahnya yang pelan namun pasti menjadi pengingat bahwa masih banyak warga yang berjuang dalam diam.

Perjalanan Rahman juga menyisakan pertanyaan bagi kita semua: sejauh mana perhatian terhadap pekerja informal, terutama lansia, telah benar-benar hadir? Sebab di balik gerobak kecil itu, tersimpan harapan sederhana, tentang hidup yang sedikit lebih layak di hari tua. ***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *