Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Citizen Reporter

Menanti Rezeki di Atas Bentor: Kisah Supriadi Bertahan di Tengah Arus Zaman

×

Menanti Rezeki di Atas Bentor: Kisah Supriadi Bertahan di Tengah Arus Zaman

Share this article
Example 468x60

Citizen Reporter

Oleh: Andi Herawati Datu

Example 300x600

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Di tengah riuh lalu lintas Kota Makassar yang nyaris tak pernah benar-benar hening, Supriadi (49) menjalani hari-harinya dengan kesabaran yang nyaris tak terlihat. Di atas becak motor yang setia menemaninya, ia menunggu, kadang dengan harap, kadang dengan pasrah, menanti penumpang yang datang menghampiri.

Sejak sekitar sembilan tahun lalu, Supriadi menggantungkan hidup dari profesi sebagai tukang bentor. Setiap pagi ia berangkat, menyusuri ruas-ruas jalan di Kota Metropolitan Makassar.

Lokasi di Pasar Kalimbu dan Jalan Veteran Utara menjadi titik yang kerap ia singgahi. Sesekali, ia berpindah ke kawasan Pasar Terong, tempat yang menurutnya memberi peluang lebih besar untuk mendapatkan penumpang.

Namun, jalanan tidak selalu ramah. Ada hari-hari ketika ia memilih menepi di titik yang ramai, berharap keberuntungan datang. Di hari lain, ia terus bergerak tanpa arah pasti, mengikuti intuisi dan peluang yang samar di antara arus kendaraan.

“Kadang ramai, tapi sering juga sepi,” ujarnya pelan.

Penghasilan yang ia bawa pulang jauh dari kata pasti. Dalam sehari, ia hanya memperoleh sekitar Rp20.000 hingga Rp60.000. Jumlah itu bergantung pada keberuntungan, apakah hari itu penumpang datang atau justru berlalu begitu saja.

Menurut Supriadi, awal pekan seperti Senin hingga Rabu biasanya sedikit lebih menjanjikan. Namun, pola itu tidak bisa dijadikan pegangan.

Ada kalanya ia pulang dengan hasil yang sangat minim, bahkan hampir tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebelum menjadi tukang bentor, Supriadi pernah bekerja sebagai buruh angkut beras di Pasar Kalimbu. Pekerjaan itu mengandalkan tenaga fisik sepenuhnya, memikul beras dari satu tempat ke tempat lain. Dari sana, ia bisa memperoleh sekitar Rp50.000 per hari.

Seiring waktu, tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Ia pun memutuskan beralih profesi, berharap pekerjaan sebagai pengemudi bentor bisa memberi penghasilan yang lebih stabil. Namun, harapan itu kembali diuji.

Perkembangan transportasi berbasis aplikasi digital membawa perubahan besar. Masyarakat kini cenderung memilih layanan yang dianggap lebih praktis dan cepat. Di sisi lain, bentor perlahan tersisih dari pilihan utama.

Bagi Supriadi, perubahan itu bukan sekadar tren, melainkan tantangan nyata. Ia harus bertahan di tengah persaingan yang tidak seimbang, tanpa banyak pilihan lain.

Meski demikian, ia tidak menyerah. Dengan satu orang anak yang harus dinafkahi, Supriadi tetap menjalani rutinitasnya setiap hari. Baginya, bekerja adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

Ia tidak memikirkan hal-hal besar. Tidak ada keinginan muluk. Yang penting, ia bisa terus mendapatkan penumpang, memenuhi kebutuhan hidup, dan tidak bergantung pada orang lain.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat, Supriadi perlahan mengarahkan bentornya pulang ke rumahnya di Jl. Veteran Utara Lorong 97 Makassar masih di seputar Pasar Kalimbu Makassar.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia kembali dengan penghasilan seadanya, membawa pulang lebih dari sekadar uang, tetapi juga keteguhan untuk terus bertahan esok hari.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *