Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Kelompok XV PKM Nasional ADPERTISI di Desa Mattoanging Maros Bahas Klinik Bisnis hingga Etika Digital

×

Kelompok XV PKM Nasional ADPERTISI di Desa Mattoanging Maros Bahas Klinik Bisnis hingga Etika Digital

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Maros. Pemerintah Desa Mattoanging, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, menyambut kedatangan peserta Pengabdian Kepada Masyarakat atau PKM Nasional ADPERTISI, Selasa, 30 Juni 2026.

Peserta PKM Nasional Aliansi Dosen Perguruan Tinggi Swasta Indonesia atau ADPERTISI tersebut tergabung dalam Kelompok XV.

Example 300x600

Mereka diterima langsung oleh Kepala Desa Mattoanging, Amiruddin, S.E., di Kantor Desa Mattoanging.

Pada penyambutannya, Amiruddin, S.E., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada ADPERTISI yang telah memilih Desa Mattoanging sebagai salah satu lokasi pelaksanaan PKM Nasional di Kabupaten Maros.

Ia menilai, kehadiran para dosen dari berbagai perguruan tinggi menjadi kesempatan penting bagi masyarakat desa untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan pendampingan langsung dari kalangan akademisi.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada ADPERTISI dan seluruh peserta PKM Nasional yang telah hadir di Desa Mattoanging. Kehadiran para dosen tentu menjadi kebanggaan bagi kami, karena masyarakat dapat memperoleh tambahan ilmu, wawasan, dan pengalaman baru,” kata Amiruddin.

Menurut Amiruddin, kegiatan PKM Nasional seperti ini sangat bermanfaat bagi pemerintah desa dan masyarakat.

Melalui kegiatan pengabdian, dosen tidak hanya berbagi teori, tetapi juga dapat memberikan solusi praktis sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan, katanya.

Kelompok XV PKM Nasional ADPERTISI di Desa Mattoanging dikoordinatori oleh Ibrahim Pratama, S.E., M.Si., Ak., CA. dari STIEM Bongaya Makassar.

Adapun dosen pendamping yakni Imran Talauhu, S.E., M.M. dari Politeknik LP3I Makassar.

Pada kegiatan tersebut, Kelompok XV membawakan tiga materi utama.

Materi pertama yakni “Klinik Bisnis: Strategi dan Solusi untuk Meningkatkan Kinerja Bisnis”.

Materi kedua membahas “Etika dalam Penggunaan Teknologi Digital dan Media Sosial”.

Sementara materi ketiga mengangkat tema “Memperkuat Kelompok Tani Menuju Pertanian Maju dan Sejahtera”.

Para pengabdi yang tergabung dalam Kelompok XV berasal dari perguruan tinggi swasta di Makassar dan Mamuju, Sulawesi Barat.

Pada materi “Klinik Bisnis: Strategi dan Solusi untuk Meningkatkan Kinerja Bisnis”, para pemateri terdiri atas Ibrahim Pratama, S.E., M.Si., Ak., CA. dari STIEM Bongaya Makassar, Julkifly dari Politeknik LP3I Makassar, Imran Talauhu, S.E., M.M. dari Politeknik LP3I Makassar, Halmi, S.E., M.Ak., Ak., CA. dari Politeknik LP3I Makassar, Suci Putri Astiti, S.Pd., M.Ak., CPA. dari Politeknik LP3I Makassar, dan Tohir, S.E., M.Ak. dari Universitas Patompo.

Ibrahim Pratama, S.E., M.Si., Ak., CA., selaku juru bicara pemateri mengatakan, pelaku usaha perlu memahami kondisi bisnis yang sedang dijalankan.

Menurutnya, banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memiliki produk yang baik, tetapi belum mampu berkembang secara maksimal karena belum memiliki strategi pengelolaan usaha yang terarah.

Ia menjelaskan, klinik bisnis menjadi ruang konsultasi dan pembelajaran bagi pelaku usaha untuk mengenali masalah, mencari solusi, serta menyusun langkah perbaikan dalam meningkatkan kinerja bisnis.

“Klinik bisnis ini bertujuan membantu pelaku usaha melihat kembali kondisi usahanya, mulai dari produk, pemasaran, keuangan, pelayanan, hingga strategi pengembangan usaha,” kata Ibrahim Pratama.

Menurutnya, peningkatan kinerja bisnis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjual produk.

Lebih dari itu, pelaku usaha juga perlu memahami manajemen usaha, pencatatan keuangan, pengelolaan pelanggan, inovasi produk, serta pemanfaatan teknologi digital.

“Usaha kecil harus dikelola dengan cara yang lebih tertib. Pelaku usaha perlu tahu berapa modal yang digunakan, berapa biaya produksi, berapa keuntungan, dan bagaimana strategi agar produk bisa diterima pasar,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pencatatan keuangan sederhana bagi pelaku usaha.

Menurutnya, pencatatan keuangan menjadi dasar penting untuk mengetahui apakah usaha mengalami keuntungan atau kerugian, ungkap penulis beberapa judul buku ajar ini.

Tanpa pencatatan yang baik, pelaku usaha akan sulit mengambil keputusan yang tepat.

“Sering kali pelaku usaha merasa usahanya berjalan, tetapi tidak mengetahui secara pasti kondisi keuangannya. Karena itu, pencatatan sederhana sangat penting agar usaha dapat dikontrol dan dikembangkan,” jelasnya.

Selain aspek keuangan, kandidat doktor manajemen Pascasarjana UMI ini juga mendorong pelaku usaha memperkuat strategi pemasaran melalui media digital, marketplace, dan jaringan komunitas.

Ia menilai, era digital memberi peluang besar bagi pelaku usaha desa untuk memperkenalkan produk secara lebih luas.

Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan kemampuan membuat kemasan menarik, menjaga kualitas layanan, dan membangun komunikasi yang baik dengan konsumen.

“Digitalisasi membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar. Tetapi produk harus dikemas dengan baik, informasinya jelas, dan pelayanan kepada konsumen juga harus dijaga,” katanya.

Materi kedua tentang “Etika dalam Penggunaan Teknologi Digital dan Media Sosial” dibawakan oleh Muhammad Faisal, S.Sos., M.I.Kom. dari Politeknik LP3I Makassar, Ir. Syarifuddin Arief, S.T., M.M. dari Politeknik LP3I Makassar, Syafrimansya dari Politeknik LP3I Makassar, Amiruddin A, S.T., M.M. dari Politeknik LP3I Makassar, dan Adi Siswanto, M.Ad., SDA. dari Politeknik LP3I Makassar.

Materi ini menekankan pentingnya masyarakat menggunakan teknologi digital dan media sosial secara bijak, etis, aman, dan bertanggung jawab.

Masyarakat diharapkan tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risiko penyebaran informasi palsu, ujaran kebencian, penipuan digital, serta pentingnya menjaga etika komunikasi di ruang digital.

Sementara materi ketiga tentang “Memperkuat Kelompok Tani Menuju Pertanian Maju dan Sejahtera” dibawakan oleh Andi Nurhasanah dari Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatima Mamuju, Ari Sarwo Indah Safitri dari Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatima Mamuju, Zul Kahfi dari Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatima Mamuju, Sri Rahayu Indah Ansari dari Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatima Mamuju, Trisnawaty, S.E., M.M. dari Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatima Mamuju, Ira Nasriani dari Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatima Mamuju, serta Krisna Ilyas, S.E., M.M. dari Institut Kesehatan dan Bisnis St. Fatima Mamuju.

Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelompok tani agar mampu mengembangkan pertanian yang lebih maju, produktif, dan sejahtera.

Melalui materi ini, kelompok tani didorong untuk memperkuat kerja sama, meningkatkan pengetahuan, memanfaatkan teknologi, serta mengembangkan pola usaha tani yang lebih terarah.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *