BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Sekretaris Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulawesi Selatan, Dr. Abdi, M.Pd., meminta peserta Training of Trainer (ToT) PGRI Power tidak berhenti bergerak setelah pelatihan berakhir.
Sebanyak 54 peserta yang telah mengikuti ToT diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan kompetensi koding dan kecerdasan artifisial (AI) bagi guru di daerah masing-masing.
Hal itu disampaikan Abdi saat menutup ToT PGRI Power: Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulawesi Selatan, Makassar, Ahad (20/9/2026).
Menurut Abdi, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan harus segera diimbaskan kepada guru lainnya.
Peserta juga diminta menyusun rencana tindak lanjut yang jelas dan terukur setelah kembali ke kabupaten/kota masing-masing.
“Ilmu yang kita dapat di sini harus diimbaskan kepada teman-teman guru di daerah. Kita harus memasifkan kegiatan ini agar kemampuan teknologi guru semakin meningkat,” kata Abdi.
Peserta Harus Jadi Motor Penggerak
Abdi menegaskan peserta ToT tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis dalam memanfaatkan koding dan AI.
Sebagai bagian dari organisasi profesi guru, mereka juga harus memiliki kemampuan kepemimpinan dan kemauan menggerakkan program di daerah.
Karena itu, target Satu Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial tidak boleh hanya menjadi slogan.
“Ini baru awal. Mungkin karena ini awal masih ada hambatan. Tetapi kalau terus diulangi dan dikembangkan, kita akan semakin kuat,” ujarnya.
“Jargon satu juta guru mahir koding dan kecerdasan artifisial bukan hanya selesai setelah ToT. Peserta harus menjadi motor penggeraknya,” tegas Abdi.
Ia berharap para trainer yang telah mengikuti ToT segera membangun komunikasi dengan jajaran pengurus PGRI di daerah masing-masing.
Langkah tersebut menjadi awal untuk merancang kegiatan pengimbasan kepada guru secara lebih luas.
Diminta Audiensi dengan Pemda
Abdi juga meminta peserta membangun komunikasi dengan pemerintah daerah setelah kembali dari Makassar.
Peserta dapat berkoordinasi dengan ketua PGRI masing-masing sebelum melakukan audiensi dengan bupati, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, maupun pemangku kepentingan terkait.
Audiensi dinilai penting agar tindak lanjut PGRI Power memperoleh dukungan dan dapat dilaksanakan secara konkret.
“Setelah pulang, temui ketua PGRI masing-masing. Kemudian segera melakukan audiensi dengan pemerintah daerah. Bawa rencana yang jelas dan terukur. Kalau perlu dibuat pakta integritas agar ada komitmen bersama,” katanya.
Menurut Abdi, keberlanjutan menjadi salah satu kunci keberhasilan PGRI Power.
Program tidak boleh selesai setelah peserta memperoleh sertifikat atau meninggalkan lokasi pelatihan. Dampaknya harus terlihat melalui kegiatan pengimbasan dan bertambahnya guru yang memiliki keterampilan koding dan AI.
Ia juga mengingatkan peserta agar tetap berpegang pada visi dan misi PGRI.
Perjuangan organisasi, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi teknologi, tetapi juga penguatan profesionalisme serta perjuangan ketenagakerjaan guru.
“Selamat menjalankan tugas. Setelah kembali ke daerah, jangan berhenti. Jadilah penggerak program ini,” pungkasnya.
Ditutup Materi Sejarah dan Keorganisasian PGRI
Sebelum rangkaian ToT berakhir, peserta juga mendapatkan penguatan mengenai organisasi PGRI.
Materi sejarah berdirinya PGRI disampaikan Drs. H. Muhammad Asaad, sedangkan materi keorganisasian disampaikan Bendahara PGRI Sulsel, Dra. Hj. Hendriati Sabir, M.Pd.
Materi tersebut menjadi penguatan bagi peserta bahwa tugas sebagai trainer PGRI Power tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi, tetapi juga membawa semangat organisasi ketika melakukan pengimbasan di daerah.
ToT PGRI Power berlangsung di BBGTK Sulsel pada 18-20 September 2026. Peserta merupakan utusan dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan yang dipersiapkan menjadi trainer dan meneruskan keterampilan koding serta AI kepada guru di daerah masing-masing. ***


















