BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tidak lahir secara tiba-tiba setelah Indonesia merdeka.
Perjalanan organisasi guru telah dimulai sejak masa kolonial dan berkembang seiring tumbuhnya kesadaran kebangsaan di kalangan guru Indonesia.
Sejarah panjang itu disampaikan Wakil Sekretaris PGRI Sulawesi Selatan, Drs. H. Muhammad Asaf, di hadapan peserta Training of Trainer (ToT) PGRI Power di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulawesi Selatan, Minggu (20/9/2026).
Di hadapan 54 peserta dari berbagai kabupaten/kota, Asaad mengajak para trainer PGRI Power memahami sejarah organisasi sebelum kembali menjalankan tugas di daerah.
Menurutnya, PGRI bukan hanya organisasi profesi guru. Sejak kelahirannya, organisasi ini juga menjadi bagian dari perjuangan bangsa dan pendidikan Indonesia.
Berawal dari Organisasi Guru Tahun 1912
Asaad menjelaskan, jejak organisasi guru telah terlihat sejak 1912 melalui pembentukan Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi tersebut menjadi wadah bagi guru pribumi untuk memperjuangkan kepentingan dan martabat guru di tengah sistem pendidikan kolonial yang masih membedakan kedudukan berdasarkan status dan golongan.
Perjalanan kemudian berlanjut pada 1932 ketika PGHB berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).
Menurut Asaad, penggunaan kata “Indonesia” memiliki makna penting karena menunjukkan semakin kuatnya kesadaran kebangsaan di kalangan guru.
“Jadi, semangat persatuan dan kebangsaan guru itu sudah tumbuh sebelum Indonesia merdeka,” kata Asaf
Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, aktivitas berbagai organisasi masyarakat, termasuk organisasi guru, mengalami pembatasan.
Namun, semangat para guru untuk membangun pendidikan dan bangsa tetap tumbuh hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
PGRI Lahir 25 November 1945
Momentum penting bagi organisasi guru terjadi melalui Kongres Guru Indonesia di Surakarta pada 24-25 November 1945.
Guru dari berbagai organisasi dan latar belakang berkumpul dalam kongres tersebut.
Perbedaan daerah, pekerjaan, politik, agama, maupun suku dilebur dalam semangat persatuan.
Puncaknya pada 25 November 1945, para guru sepakat mendirikan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
“PGRI lahir hanya sekitar seratus hari setelah Indonesia merdeka. Jadi, kelahiran PGRI sangat erat dengan semangat mempertahankan kemerdekaan dan membangun pendidikan nasional,” jelas Asaf.
Asaad, yang di kalangan guru dikenal dengan sebutan ULAMA atau Usia Lanjut Masih Aktif, mengatakan sejak awal PGRI tidak hanya memperjuangkan kepentingan guru.
Organisasi tersebut juga membawa misi pendidikan dan kebangsaan.
Ia menyebut tiga tujuan penting yang lahir dari kongres, yakni mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia, mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan, serta membela hak dan nasib buruh pada umumnya dan guru pada khususnya.
Dari perjalanan itu, PGRI berkembang dengan tiga dimensi perjuangan, yakni sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan.
Dulu Hadapi Kolonialisme, Kini Guru Hadapi AI
Asaf mengatakan pemahaman terhadap sejarah organisasi penting bagi guru saat ini.
Tantangan yang dihadapi guru memang telah berubah dibandingkan dengan masa awal perjuangan organisasi.
Jika dahulu guru menghadapi sistem pendidikan kolonial dan keterbatasan akses pendidikan, kini guru berhadapan dengan transformasi digital, perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (AI), dan tuntutan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
“Guru hari ini harus memahami sejarah organisasinya. Dari sejarah itu kita belajar bahwa guru selalu berada di garis depan perubahan pendidikan,” katanya.
Menurut Asaad, konteks perubahan tersebut membuat program PGRI Power: Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) relevan dengan tantangan guru saat ini.
Program tersebut tidak sekadar memperkenalkan teknologi kepada guru, tetapi juga mendorong mereka mampu beradaptasi dan menjadi penggerak transformasi pembelajaran.
Peserta ToT PGRI Power diharapkan tidak berhenti setelah memperoleh pembekalan di tingkat provinsi.
Mereka memiliki tugas meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada guru-guru di kabupaten/kota masing-masing.
Asaad melihat semangat persatuan yang melandasi kelahiran PGRI pada 1945 tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Jika dahulu guru bersatu dalam perjuangan pendidikan dan mempertahankan kemerdekaan, kini tantangannya adalah membangun kompetensi serta memastikan guru mampu mengikuti transformasi teknologi.
“Semangatnya tetap sama, yaitu bagaimana guru memberikan kontribusi terbaik untuk pendidikan dan bangsa. Hanya tantangannya yang berubah,” tutup Asaf. ***


















