BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Program PGRI Power di Sulawesi Selatan tidak berhenti setelah Training of Trainer (ToT) berakhir.
Sebanyak 54 trainer dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan kini mengemban tugas memperluas pelatihan kepada guru di daerah masing-masing.
Penanggung Jawab ToT PGRI Power Sulsel, Dra. Hj. Hendriati Sabir, M.Pd., mengatakan peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti pelatihan selama tiga hari.
Menurut Bendahara PGRI Sulsel tersebut, sebagian besar peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara aktif. Hanya beberapa peserta yang harus meninggalkan kegiatan karena tugas kedinasan.
“Alhamdulillah, peserta sangat aktif dan kompak. Tinggal kita lihat komitmennya setelah selesai ToT. Kami berharap setelah kembali ke daerah masing-masing, mereka segera melaporkan program ini kepada pemerintah daerah,” kata Hendriati di lokasi ToT, Minggu (20/9/2026).
Ia mengatakan komunikasi dengan pemerintah daerah menjadi salah satu langkah awal yang harus dilakukan trainer.
Program PGRI Power dapat dilaporkan langsung kepada bupati atau wali kota. Jika belum memungkinkan, trainer minimal berkoordinasi dengan kepala dinas pendidikan setempat untuk membicarakan rencana pelaksanaan program.
Seluruh Peserta Presentasikan Hasil Karya
Hendriati mengatakan proses pelatihan tidak hanya diisi dengan penyampaian materi.
Seluruh peserta mendapat kesempatan mempresentasikan hasil karya yang dibuat selama ToT. Peserta dievaluasi satu per satu untuk melihat sejauh mana materi dapat dipahami dan diterapkan.
“Semua peserta tampil mempresentasikan hasil karyanya. Ini menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana materi yang diberikan bisa dipahami dan diterapkan,” jelasnya.
Hendriati juga memberikan apresiasi kepada Mentor PGRI Power, Mansur, S.Pd., yang mendampingi peserta sejak hari pertama hingga berakhirnya pelatihan.
“Saya sangat berterima kasih kepada Pak Mansur yang telah mendampingi peserta secara maksimal hingga berakhirnya ToT,” katanya.
Dari sisi penyelenggaraan, Hendriati mengakui masih diperlukan evaluasi untuk menyempurnakan kegiatan berikutnya.
Panitia, kata dia, terbuka terhadap masukan dari peserta maupun pihak di luar kepanitiaan.
“Kami juga meminta masukan dari teman-teman di luar panitia. Dari sisi mana yang masih perlu dievaluasi dan ditingkatkan, itu menjadi bahan kami untuk kegiatan selanjutnya,” ujarnya.
PGRI Power Berlanjut hingga 2028
Berakhirnya ToT menjadi awal bagi 54 trainer untuk bergerak di daerah.
Hendriati menjelaskan, para trainer selanjutnya tidak lagi melaksanakan ToT seperti di tingkat provinsi. Mereka akan memberikan pelatihan kepada guru dengan memanfaatkan struktur organisasi PGRI hingga tingkat cabang dan ranting.
Pola pelaksanaan akan disesuaikan dengan karakteristik dan jumlah guru di masing-masing kabupaten/kota.
Daerah dengan jumlah cabang dan ranting yang banyak, misalnya, dapat membagi pelatihan menjadi beberapa angkatan atau berdasarkan wilayah.
“Jadi tugas mereka bukan hanya sekali. Kalau masih ada guru yang belum mendapatkan pelatihan, harus disisir kembali. Bisa dibuat beberapa angkatan sesuai kondisi wilayah masing-masing,” kata Hendriati.
Program tersebut direncanakan berlangsung secara berkelanjutan hingga 2028.
Sementara jumlah guru yang akan dijangkau di setiap kabupaten/kota masih akan dipetakan berdasarkan kemampuan dan kondisi daerah.
“Memang target PGRI Power ini hingga 2028. Untuk jumlah guru yang bisa dijangkau setiap kabupaten/kota, nanti kita akumulasi. Dari situ akan terlihat secara keseluruhan berapa guru yang berhasil dilatih sampai 2028,” jelasnya.
Trainer Dievaluasi Setiap Bulan
PGRI Sulsel juga menyiapkan mekanisme pemantauan setelah para trainer kembali ke daerah.
Menurut Hendriati, perkembangan pelaksanaan program akan dievaluasi secara berkala. Setidaknya setiap bulan, trainer di masing-masing kabupaten/kota diminta melaporkan perkembangan kegiatan.
“Kami sudah memberikan arahan, paling sedikit setiap bulan ada evaluasi. Masing-masing kabupaten/kota melaporkan perkembangan kegiatan melalui grup PGRI,” katanya.
Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen untuk melihat perkembangan pengimbasan sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang ditemukan di lapangan.
Guru di Wilayah 3T Jangan Tertinggal
Hendriati juga memberi perhatian terhadap pelaksanaan PGRI Power di daerah kepulauan serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kondisi geografis, keterbatasan infrastruktur, hingga akses internet menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan pelatihan, termasuk di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Kepulauan Selayar.
Namun, menurut Hendriati, kendala tersebut tidak boleh menyebabkan guru di wilayah 3T tertinggal dari program peningkatan kompetensi teknologi.
“Memang ada plus minusnya. Untuk daerah kepulauan dan wilayah 3T tentu ada kendala, terutama infrastruktur dan internet. Nanti kita lihat bagaimana respons peserta setelah kembali ke daerah masing-masing,” tuturnya.
Pola pelatihan nantinya dapat disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing wilayah. Trainer dapat mengumpulkan guru di lokasi tertentu atau turun langsung mendatangi wilayah sasaran.
“Harapan kami, semua guru bisa tersentuh program ini. Jangan sampai ada yang tersisakan, termasuk guru-guru yang berada di wilayah 3T,” tutup Hendriati.***


















