BERITASEMBILAN.Com-Maros. Sebanyak 16 dosen yang tergabung dalam Kelompok I Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Nasional ADPERTISI 2026 melaksanakan kegiatan pengabdian di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Selasa, 30 Juni 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari PKM Nasional Aliansi Dosen Perguruan Tinggi Swasta Indonesia atau ADPERTISI yang diikuti 306 dosen dari 106 perguruan tinggi swasta dan negeri dari 16 provinsi di Indonesia.
PKM Nasional ADPERTISI di Kabupaten Maros menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menggali potensi desa serta mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Maros, Wakil Bupati Maros, Andi Muetazim Mansyur, S.T., M.Si., mengapresiasi pelaksanaan PKM Nasional ADPERTISI tersebut.
Dalam sambutannya, Andi Muetazim Mansyur meminta para dosen pengabdi tidak hanya menyampaikan materi kepada masyarakat, tetapi juga mengidentifikasi berbagai persoalan yang ditemukan selama kegiatan berlangsung.
Menurutnya, persoalan yang ditemukan di desa dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah daerah untuk dicarikan solusi bersama.
Sebaliknya, apabila para dosen menemukan potensi desa yang dapat dikembangkan, pemerintah daerah juga berharap memperoleh rekomendasi sebagai bahan tindak lanjut dalam mendukung pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di Desa Salenrang, Kelompok I PKM Nasional ADPERTISI melaksanakan enam kegiatan pengabdian.
Kegiatan tersebut meliputi budidaya maggot untuk pengolahan sampah organik serta sumber protein pakan ikan yang dibawakan Dr. Abdul Malik, S.Pi., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Makassar.
Materi berikutnya adalah penguatan ekonomi kelompok nelayan melalui optimalisasi koperasi desa berbasis pemberdayaan masyarakat pesisir.
Materi ini dibawakan Muhammad Ardiansyah, S.Pi., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Mamuju; Dr. Ir. Mustamin Tajuddin, M.Si., dari Universitas Muslim Indonesia Makassar; Dr. Fitrawati AB, S.E., M.M., dari Universitas Muhammadiyah Sinjai; Irmawati, S.Ak., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Sinjai; Ir. Toga Mahaji, A.Pi., M.M., dari Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli Tapanuli Selatan; Muhlis Hajar Adiputra, S.Sos., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Sinjai; serta Arwin, S.Pi., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Mamuju.
Kelompok ini juga membawakan materi pengembangan eco-marine tourism berbasis masyarakat pesisir.
Materi tersebut disampaikan Ir. Cening Kardi, M.MA., dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan Andi Liswahyuni, S.Pi., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Sinjai.
Selain itu, tim dosen memberi edukasi mengenai diversifikasi pangan berbasis sumber daya pesisir melalui pemanfaatan tanaman nipa atau Nypa fruticans sebagai bahan baku tepung bernilai ekonomis.
Materi ini dibawakan Andi Liswahyuni, S.Pi., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Sinjai; Irianty Tampubolon, S.Pi., M.Si., dari Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire; Dr. Toga Mahaji, A.Pi., M.M., dari Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli Tapanuli Tengah; serta Dr. Ir. Suhartin Dewi Astuti, M.Si., dari Universitas Cokroaminoto Makassar.
Materi lain yang mendapat perhatian warga adalah pelatihan pembuatan brownies berbahan dasar ikan sebagai produk kuliner berbasis kearifan lokal untuk mendukung pengembangan desa wisata.
Materi tersebut melibatkan Andi Liswahyuni, S.Pi., M.Si.; Dr. Nadia Aldyza, S.Pd., M.Pd., dari Universitas Almuslim Aceh; Dr. Afkar, S.Pd., M.Pd., dari Universitas Almuslim Aceh; Irmawati, S.Ak., M.Si.; Dr. Fitrawati AB, S.E., M.M.; Parawansa, S.T., M.M., M.T., dari Polimarim AMI Makassar; Dr. Toga Mahaji, A.Pi., M.M.; serta Dr. Ir. Suhartin Dewi Astuti, M.Si.
Sementara materi tata kelola Koperasi Desa Merah Putih dalam memutus rantai tengkulak dan memperkuat kelompok tani dibawakan Drs. Alimuddin R., M.Si., dan Darmawati, S.Sos., M.AP., keduanya dari Universitas Andi Djemma Palopo.
Kelompok I PKM Nasional ADPERTISI dikoordinir Fina Diana, S.E., Ak., M.Si., dari Universitas Patria Arta Makassar.
Kelompok ini juga didampingi Andi Liswahyuni, S.Pi., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Sinjai yang sekaligus bertindak sebagai narasumber pada beberapa materi pengabdian.
Setibanya di Desa Salenrang, rombongan dosen pengabdi disambut Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Maros, H. Suwardi, S.E., M.Si.
Dalam sambutannya, H. Suwardi, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa Desa Salenrang merupakan bagian dari kawasan wisata karst Rammang-Rammang.
Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan bentang alam karst terbesar di dunia dan sejak 2022 telah ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark.
Ia menyampaikan rasa syukur karena Desa Salenrang menjadi salah satu lokasi pengabdian para dosen ADPERTISI.
Dalam dialog bersama masyarakat, terungkap sejumlah persoalan yang masih dihadapi warga Desa Salenrang.
Beberapa di antaranya adalah keterbatasan modal usaha bagi pelaku UMKM, belum terbentuknya kelompok yang fokus pada ketahanan pangan, kendala keberadaan kantor atau sekretariat Koperasi Desa Merah Putih, serta persoalan pengelolaan sampah.
Di sisi lain, masyarakat Desa Salenrang mayoritas bekerja sebagai petani, nelayan, dan pelaku usaha pariwisata.
Kondisi tersebut dinilai menjadi potensi besar untuk dikembangkan melalui pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Kehadiran para dosen pengabdi disambut antusias oleh masyarakat.
Warga aktif mengikuti diskusi, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan berbagai kebutuhan pendampingan.
Perwakilan Pemerintah Desa Salenrang, Kahar, berharap para dosen dapat memberikan pelatihan pemanfaatan kotoran kelelawar yang banyak terdapat di gua-gua kawasan karst menjadi pupuk organik atau guano bernilai ekonomis.
Kelompok ibu-ibu juga menyampaikan kebutuhan peningkatan kapasitas, mulai dari cara menentukan masa kedaluwarsa produk pangan, pengurusan perizinan usaha, pembuatan label produk, hingga teknik pengemasan yang menarik, higienis, dan ramah lingkungan.
Menurut warga, pendampingan tersebut penting agar produk lokal Desa Salenrang memiliki daya saing di pasar.
Suasana kegiatan semakin semarak ketika peserta menikmati es campur berbahan dasar buah nipa yang disiapkan tim dosen pengabdi.
Sambil menikmati sajian tersebut, masyarakat berdiskusi mengenai peluang pengolahan buah nipa menjadi berbagai produk pangan dan minuman.
Warga juga mendapatkan penjelasan mengenai peluang pembuatan brownies berbahan dasar ikan sebagai salah satu produk kuliner khas desa wisata.
Para dosen menjelaskan bahwa buah nipa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi.
Selain dapat diolah menjadi tepung, buah nipa juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai jenis makanan, minuman, dan oleh-oleh khas.
Pengembangan produk berbasis nipa diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat identitas kuliner Desa Salenrang.
Seluruh masukan, aspirasi, dan kebutuhan pendampingan masyarakat dicatat oleh tim dosen pengabdi.
Masyarakat yang membutuhkan pembinaan lanjutan diarahkan untuk menyampaikan surat permohonan melalui Pemerintah Desa Salenrang atau kelompok masyarakat kepada pengurus ADPERTISI.
Langkah tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui program pengabdian berikutnya.
Rangkaian PKM Nasional ADPERTISI di Desa Salenrang ditutup dengan kunjungan para dosen ke kawasan wisata karst Rammang-Rammang dan Hutan Batu.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung kekayaan alam Desa Salenrang sekaligus memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.***


















