BERITASEMBILAN.Com-Maros.Tim III Pengabdian kepada Masyarakat atau PKM Nasional Aliansi Dosen Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ADPERTISI) melaksanakan kegiatan pengabdian di Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Selasa, 30 Juni 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Menuju Desa Sehat, Cerdas, dan Mandiri melalui Pendekatan One Health, Inovasi Pangan Lokal, dan Transformasi Teknologi Digital.”
PKM Nasional ADPERTISI ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang digelar serentak di 18 desa di Kabupaten Maros.
Khusus di Desa Pajukukang, kegiatan melibatkan 20 dosen dari 14 perguruan tinggi di Sulawesi dan Pulau Jawa.
Sebanyak 18 dosen menjadi narasumber dalam tiga bidang pengabdian, sementara dua dosen lainnya bertugas sebagai koordinator dan pendamping tim.
Kegiatan ini juga diikuti 20 peserta dari unsur pemerintah desa dan masyarakat, mulai dari kepala dusun, ketua RT, nelayan, petani tambak, pedagang, pelaku UMKM, ibu rumah tangga, hingga perangkat desa.
Pelaksanaan PKM Nasional tahun ini menjadi kali ketiga ADPERTISI melaksanakan pengabdian di Kabupaten Maros.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan desa berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Pajukukang, Sahiruddin, yang mewakili Kepala Desa Pajukukang, Saharuddin.
Dalam sambutannya, Sahiruddin menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Desa Pajukukang sebagai lokasi pelaksanaan PKM Nasional ADPERTISI.
“Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh tim PKM Nasional ADPERTISI. Kehadiran para dosen merupakan suatu kehormatan bagi Desa Pajukukang. Kegiatan seperti ini sangat dinantikan masyarakat karena memberikan pengetahuan yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sahiruddin.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan ADPERTISI dapat terus berlanjut.
“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Sahiruddin, Pemerintah Desa Pajukukang sengaja mengundang berbagai unsur masyarakat agar manfaat kegiatan dapat dirasakan secara lebih luas.
Sementara itu, Sekretaris Desa Pajukukang, Rahmat, S.IP., menjelaskan bahwa Desa Pajukukang terdiri atas empat dusun dengan jumlah penduduk sekitar 4.355 jiwa.
Sebagai desa pesisir, sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan, pertambakan, pertanian, perdagangan, dan usaha mikro.
Rahmat menilai peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat desa.
Menurutnya, masyarakat perlu terus didorong agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sekaligus menghadapi tantangan di bidang kesehatan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi.
Mewakili Tim Pengabdian, Pendamping Tim III PKM Nasional ADPERTISI, Dr. H. Mora, S.Kep., Ns., M.M., FIHFAA, menyampaikan apresiasi kepada Bupati Maros, Dr. H. A. S. Chaidir Syam, atas dukungan Pemerintah Kabupaten Maros terhadap pelaksanaan PKM Nasional ADPERTISI.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Desa Pajukukang, Saharuddin, jajaran pemerintah desa, serta masyarakat yang telah menerima tim pengabdian.
Menurut Dr. H. Mora, S.Kep., Ns., M.M., FIHFAA, pengabdian kepada masyarakat merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Melalui kegiatan ini, hasil pendidikan, penelitian, dan inovasi perguruan tinggi diharapkan dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Hasil pendidikan dan penelitian harus hadir di tengah masyarakat sebagai solusi nyata atas berbagai persoalan pembangunan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, melalui PKM Nasional ini, ADPERTISI ingin memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat.
“Melalui PKM Nasional ini kami ingin memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun desa yang sehat, cerdas, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat tiga materi prioritas yang disusun sesuai kebutuhan masyarakat Desa Pajukukang.
Materi pertama membahas Edukasi Pencegahan Risiko Kesehatan Akibat Paparan Pestisida Berbasis Pendekatan One Health.
Materi ini menekankan pentingnya perlindungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan melalui penggunaan pestisida yang aman.
Materi kedua membahas Berbagai Makanan Olahan dari Daun Kelor untuk Meningkatkan Status Gizi Ibu dan Anak.
Pada sesi ini, masyarakat diperkenalkan dengan inovasi pangan lokal berbahan daun kelor sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi keluarga dan mendukung percepatan penurunan stunting.
Materi ketiga mengangkat tema Koperasi Desa Cerdas: Literasi Digital, Keselamatan Listrik, dan Teknologi Sensor.
Materi ini membahas pemanfaatan teknologi digital, Internet of Things atau IoT, keselamatan instalasi listrik, serta teknologi sensor untuk mendukung produktivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat desa.
Ketiga materi tersebut disampaikan oleh 18 dosen dari 14 perguruan tinggi.
Kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi multidisiplin dalam memberikan solusi berbasis keilmuan kepada masyarakat.
Diskusi berlangsung interaktif dan dipandu oleh Dr. Kartini, S.KM., M.Si.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan sesuai kondisi masyarakat pesisir.
Salah seorang peserta, Hajar, bertanya mengenai pemanfaatan teknologi sensor yang terhubung dengan telepon pintar untuk memantau suhu.
Peserta lainnya, Sahir, menanyakan pengaruh panjang lilitan kabel terhadap efisiensi penggunaan daya listrik dan aspek keselamatan instalasi rumah tangga.
Sementara itu, Makmur menyoroti rendahnya kepatuhan masyarakat dalam menggunakan alat pelindung diri saat mengaplikasikan pestisida.
Seluruh pertanyaan peserta dijawab para narasumber secara ilmiah dan aplikatif.
Jawaban yang diberikan diarahkan agar mudah dipahami masyarakat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui PKM Nasional ADPERTISI di Desa Pajukukang, perguruan tinggi diharapkan semakin dekat dengan masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi terhadap kebutuhan lokal.
ADPERTISI terus mendorong terwujudnya desa yang sehat, cerdas, mandiri, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan berdaya saing.
Melalui hilirisasi ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi, perguruan tinggi diharapkan terus mengambil peran dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.***


















