BERITASEMBILAN.Com-Sidrap. Kontingen PGRI Kabupaten Jeneponto berhasil meraih medali emas pada cabang lomba seni mendongeng Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Sulawesi Selatan 2026 di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Medali emas tersebut dipersembahkan oleh Adri Hamjan, S.Pd., M.Pd., guru SMKN 10 Jeneponto.
Adri tampil sebagai peserta cabang lomba seni mendongeng. Meski berlatar belakang sebagai guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan atau PJOK, ia mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya di panggung seni mendongeng.
Bagi Adri, Porsenijar PGRI Sulsel 2026 menjadi ruang silaturahmi besar bagi guru-guru se-Sulawesi Selatan. Ia menyebut kegiatan tersebut menghadirkan suasana luar biasa karena seluruh guru dapat menyatu tanpa sekat status kepegawaian.
“Bangga, terharu, amazing, dahsyat, menyala. Terima kasih Porsenijar PGRI Sulsel 2026. Ini ruang silaturahmi tingkat provinsi rasa nasional bagi guru-guru hebat Sulsel tanpa dikotomi, baik PNS, PPPK, maupun honorer,” kata Adri.
Menurutnya, Porsenijar menjadi wadah bagi guru untuk menunjukkan kreativitas, inovasi, dedikasi, dan semangat kompetitif.
Adri mengaku bangga dapat hadir membawa nama Kontingen PGRI Kabupaten Jeneponto pada cabang lomba seni mendongeng.
Ia menilai lomba mendongeng sangat dekat dengan profesi guru karena menjadi media penguatan literasi dan penanaman karakter kepada peserta didik di sekolah.
“Mendongeng sangat bersentuhan erat dengan profesi guru sebagai media penguatan literasi dan penanaman karakter pada anak didik,” ujarnya.
Meski cabang mendongeng dinilai tidak sepopuler cabang lomba lain, Adri menegaskan bahwa nilai perjuangan dan status medalinya tetap sama dengan cabang lainnya.
Ia juga mengakui persaingan dalam lomba tersebut sangat ketat. Para peserta dari kabupaten/kota lain memiliki kemampuan yang kuat dan setara.
Dewan juri yang menilai lomba mendongeng juga dinilainya sangat profesional. Mereka di antaranya Dr Azis Nojeng sebagai konten kreator dan ahli kebahasaan, Dr Andi Baetal Mukaddas sebagai seniman Sulsel, serta Kak Hakim sebagai ahli dongeng.
“Semua lawan begitu hebat dan memiliki kemampuan yang setara. Dewan jurinya pun sangat profesional,” katanya.
Adri mengaku tidak menyangka dapat meraih juara pertama. Apalagi, lomba mendongeng ini merupakan pengalaman pertamanya.
Namun, ia mempersiapkan diri secara serius. Proses seleksi dari tingkat kecamatan hingga kabupaten membuatnya semakin mendalami dunia mendongeng.
Ia belajar melalui YouTube, berkonsultasi dengan pendongeng nasional, menganalisis narasi, memilih judul cerita, hingga menggunakan data dan ilmu pengetahuan dalam mempersiapkan penampilan.
Adri juga berusaha memahami karakter penilaian lomba, termasuk mengenali latar belakang dewan juri.
“Jujur, seleksi mendongeng dari level kecamatan hingga kabupaten mendorong saya mendalami lomba ini. Mulai dari belajar di YouTube, konsultasi dengan pendongeng nasional, hingga menganalisis narasi dan judul cerita menggunakan data dan ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Selain persiapan teknis, Adri menyebut doa keluarga menjadi kekuatan besar di balik keberhasilannya.
Ia berangkat ke Sidrap bersama istri dan anaknya. Sebelum berangkat, ia juga meminta restu kepada orang tua agar diberi kelancaran dan mampu menampilkan yang terbaik.
Menariknya, saat pengumuman pemenang berlangsung di Mogan sekitar pukul 20.00, Adri tidak berada di lokasi pengumuman. Saat itu, ia berada di Masjid Agung Sidrap untuk berdoa agar Kabupaten Jeneponto meraih hasil terbaik.
“Saya berangkat membawa anak dan istri. Mereka adalah support system terbaik saya. Sebelum berangkat, saya juga meminta restu kepada orang tua,” ujarnya.
Adri menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Porsenijar PGRI Sulsel 2026, mulai dari unsur pemerintah, pengurus PGRI, ofisial, tim penggembira, hingga para atlet guru yang telah berjuang membawa nama daerah masing-masing.
Secara khusus, ia menyampaikan terima kasih kepada Bupati Jeneponto, Pengurus PGRI Jeneponto, Tim Operasional Mendongeng, para guru Jeneponto, kerabat, dan rekan-rekan guru yang telah memberi dukungan.
“Saya bangga dan terhormat bisa berkontribusi pada kabupaten yang dipenuhi orang-orang tangguh, berkarakter, dan humanis. Persembahan juara ini menjadi kado terbaik dari saya untuk guru-guru Jeneponto agar ke depan bisa lebih baik lagi,” katanya.
Adri juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Sidrap dan masyarakat Sidrap yang dinilainya luar biasa dalam menyukseskan Porsenijar PGRI Sulsel 2026.
Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada Ketua PGRI Sulsel yang telah memberi wadah silaturahmi dan kompetisi bagi para guru.
Adri Hamjan lahir di Ujung Pandang, 17 Oktober 1988. Ia merupakan alumni S1 dan S2 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Makassar.
Sebelum mengabdi di SMKN 10 Jeneponto, Adri pernah menjadi guru honorer di SDN 117 Sinjai. Ia juga pernah bertugas sebagai guru SM-3T di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, serta menjadi Guru Garis Depan di SMKN 10 Jeneponto.
Bagi Adri, medali emas ini bukan sekadar penghargaan pribadi. Prestasi tersebut menjadi persembahan untuk Kabupaten Jeneponto, PGRI Jeneponto, dan seluruh guru yang terus berkarya. (sudirman).


















