BERITASEMBILAN.Com-Tana Toraja. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (PGIW Sulselra) mendorong penguatan ketahanan keluarga melalui kolaborasi gereja, pemerintah dan masyarakat.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar dan Konsultasi Publik Ketahanan Keluarga di Tammuan Mali’, Tana Toraja, 3-5 September 2026.
Kegiatan bertema “Membangun Keluarga Kristen yang Tangguh” itu mempertemukan unsur gereja, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, TP PKK, tokoh masyarakat serta warga dari berbagai wilayah.
Ketua MPH PGIW Sulselra, Pdt Yohanis Metris MTh MM, mengatakan gerakan oikoumene perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi keluarga.
Menurutnya, gereja tidak cukup hanya membicarakan perubahan dan ancaman terhadap kehidupan keluarga.
Gereja juga harus hadir mengambil bagian dalam mencari solusi bersama pemerintah dan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya penggunaan data dalam membaca persoalan keluarga sehingga program dan kebijakan yang dilahirkan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
“Gereja pertama-tama hadir dalam rumah. Karena itu, keluarga harus kembali dipahami sebagai gereja rumah tangga atau ecclesia domestica,” menjadi salah satu gagasan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.
Bupati Tana Toraja: Bangun dari Hulu
Bupati Tana Toraja, dr Zadrak Tombeg SpA, membuka kegiatan sekaligus memberikan pandangan mengenai pentingnya membangun ketahanan keluarga sejak dini.
Ia mengapresiasi seminar yang mencoba membaca persoalan keluarga berdasarkan data dan kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Persoalan perceraian hingga berbagai masalah sosial yang melibatkan anak dan remaja dinilai membutuhkan perhatian serius.
Pendidikan, menurut pemaparan dalam forum tersebut, tidak cukup hanya mengejar kecerdasan intelektual.
Kecerdasan spiritual dan emosional juga perlu mendapatkan perhatian dalam proses pembentukan generasi.
Karena itu, persoalan keluarga tidak boleh hanya diselesaikan ketika masalah telah terjadi atau berada di bagian “hilir”.
Penguatan keluarga harus dimulai dari “hulu”, bahkan sejak masa kehamilan.
Gawai hingga Fatherless Jadi Sorotan
Salah satu bagian penting kegiatan adalah Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan peserta dari berbagai unsur dan wilayah.
FGD memetakan sejumlah persoalan nyata yang dihadapi keluarga.
Di antaranya lemahnya komunikasi orang tua dan anak, penggunaan gawai dan media sosial secara berlebihan, perselingkuhan, perceraian, pernikahan usia sekolah, kehamilan remaja, perjudian, minuman keras, narkoba dan kekerasan dalam rumah tangga.
Persoalan lainnya yang mengemuka meliputi seks bebas, perundungan, kesehatan mental hingga fenomena fatherless atau minimnya kehadiran dan peran ayah dalam kehidupan anak.
Peserta juga menyoroti berkurangnya kebersamaan anggota keluarga.
Dalam aspek spiritual, muncul perhatian terhadap berkurangnya praktik doa, pembacaan Alkitab dan mezbah keluarga.
Temuan-temuan tersebut menjadi bahan untuk merumuskan langkah penguatan keluarga yang dapat dilakukan bersama.
Keluarga di Tengah Era Digital
Persoalan teknologi turut mendapatkan perhatian khusus dalam seminar.
Dr Eunike Wirawan menyoroti fenomena anggota keluarga yang secara fisik berada dalam satu rumah, tetapi secara emosional semakin berjauhan karena sibuk dengan gawai masing-masing.
Teknologi, menurutnya, tidak harus ditempatkan sebagai musuh keluarga.
Teknologi dapat memberikan manfaat ketika digunakan secara bijak, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecanduan, menjadi sarana pelarian, manipulasi dan eksploitasi serta mengurangi keterikatan emosional dalam keluarga.
Karena itu, orang tua didorong menerapkan prinsip “connection before correction”, yakni membangun koneksi dengan anak sebelum memberikan koreksi.
Orang tua juga perlu hadir sebagai teladan, pemandu, pelindung sekaligus menjadi tempat aman bagi anak.
Sementara Prof Dr Jonathan L Parapak dan Anne Parapak menekankan integritas, etos kerja Kristiani, komunikasi dan relasi sehat dalam keluarga.
Kemampuan pasangan untuk saling mengampuni juga dinilai menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang tangguh.
Usulkan Program Ayah Teladan Indonesia
Seminar dan konsultasi publik tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi.
Salah satunya penguatan kembali mezbah keluarga serta peningkatan komunikasi antara suami-istri dan orang tua-anak.
Pendampingan penggunaan telepon seluler dan media sosial juga dinilai semakin penting.
Peserta turut mendorong penguatan pelayanan konseling keluarga, pendampingan pranikah dan pascanikah hingga pendampingan terhadap pasangan yang menikah pada usia sekolah.
Salah satu gagasan yang muncul adalah pengembangan program “Ayah Teladan Indonesia” untuk memperkuat kehadiran dan peran ayah dalam kehidupan anak.
Budaya makan bersama juga direkomendasikan untuk dihidupkan kembali sebagai salah satu ruang membangun komunikasi keluarga.
Menariknya, peserta turut mendorong gereja mengevaluasi pola dan jadwal kegiatan pelayanan agar aktivitas gereja tidak justru mengurangi waktu anggota keluarga untuk membangun relasi di rumah.
Dorong Kebijakan Ramah Keluarga
Pemerintah juga diharapkan memperkuat kebijakan yang berpihak pada ketahanan keluarga.
Di antaranya melalui dukungan terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.
Kolaborasi pemerintah dan gereja juga didorong dalam penanganan kehamilan remaja, pernikahan usia sekolah, perceraian, kesehatan mental, pencegahan bunuh diri, KDRT, pengasuhan anak hingga pendampingan lansia.
Pembinaan keluarga diharapkan dapat menjangkau tingkat dasawisma.
Selain itu, muncul rekomendasi mengenai edukasi seksualitas yang sehat, literasi digital, pendampingan remaja, pencegahan kekerasan serta pembentukan tim penanganan kasus keluarga.
Perkuat Tallu Batu Lalikan
Kearifan lokal Tana Toraja juga menjadi bagian dari gagasan kolaborasi.
Sinergi Tallu Batu Lalikan, yakni pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat, didorong menjadi kekuatan bersama menghadapi persoalan sosial di masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun lingkungan yang aman, harmonis dan tetap berakar pada nilai budaya masyarakat.
PGIW Sulselra menilai ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan kondisi ekonomi.
Kasih, komunikasi, kebersamaan, keteladanan, integritas dan kehidupan spiritual juga menjadi bagian penting dalam membangun keluarga tangguh.
Karena itu, seminar selama tiga hari tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi.
Hasil konsultasi publik akan menjadi pijakan membangun gerakan bersama dengan melibatkan gereja, pemerintah, PKK, sekolah, tokoh adat dan masyarakat.
PGIW Sulselra berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat keluarga-keluarga di Tana Toraja agar semakin tangguh, sehat, harmonis, beriman dan mampu menghadapi perubahan zaman.***


















