BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Jalan panjang Prof Dr Syamsir Dewang, M.Eng.Sc., F.Med. di dunia akademik membawanya pada sebuah ruang pengabdian baru. Setelah puluhan tahun bergelut dengan fisika, penelitian, pendidikan, dan pengembangan fisika medik, ia kini dipercaya menakhodai Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar.
Pada Kamis (17/9/2026), Syamsir resmi dilantik sebagai Rektor UIT periode 2026–2030. Prosesi berlangsung di Ruang Yayasan, Kampus 5 UIT, Jalan Abdul Kadir No 70, Makassar.
Pengambilan sumpah jabatan dipimpin Wakil Ketua Yayasan Indonesia Timur Aminuddin, SH, MH, mewakili Ketua Yayasan Indonesia Timur H Haruna, MA, MBA.
Amanah tersebut membuka babak baru perjalanan Syamsir. Pria kelahiran Pinrang, 11 Januari 1963 itu merupakan guru besar dengan bidang keahlian Fisika Medik. Dokumen yang sama telah mencantumkan jabatan Rektor UIT Makassar periode 2026–2030.
Seusai dilantik, Syamsir langsung berbicara tentang pekerjaan yang ingin dilakukannya: membenahi tata kelola dan mengembalikan kekuatan akademik UIT.
“Universitas Indonesia Timur memiliki nama besar dan rekam jejak yang kuat. Fokus utama kita ke depan adalah perbaikan sistem manajemen tata kelola serta mendorong inovasi tinggi dalam pengembangan program studi yang selaras dengan kebutuhan pembangunan nasional,” kata Syamsir.
Dari Fisika menuju kursi rektor
Jejak akademiknya berakar kuat di Universitas Hasanuddin.
Syamsir menempuh pendidikan S1 Fisika di Unhas pada 1983–1989. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Universitas Indonesia pada 1991–1993 dan doktor di perguruan tinggi yang sama pada 1997–2002 dalam bidang Opto Elektro-teknika dan Aplikasi Laser.
Di sela studi doktoralnya, ia mengikuti sandwich program bidang remote sensing di Universitas Chiba, Jepang, pada 1999–2001.
Bertahun-tahun kemudian, ia kembali menjadi mahasiswa. Pada 2022–2023, Syamsir menempuh Pendidikan Profesi Fisikawan Medik di Universitas Diponegoro, Semarang.
Karier akademiknya juga tumbuh bertahap. Ia memulai sebagai calon pegawai negeri sipil pada 1990, kemudian menapaki jenjang akademik hingga menjadi guru besar pada 2011. Pada 2024, pangkatnya tercatat sebagai Pembina Utama/Golongan IV/e.
Di balik perjalanan tersebut terdapat satu benang merah: pendidikan dan pengembangan institusi.
Syamsir pernah menjadi Sekretaris Jurusan Fisika FMIPA Unhas, Kepala Laboratorium Spektroskopi Optik, Ketua Unit Pengembangan Fisika Medik, hingga terlibat dalam pembentukan konsentrasi dan program pendidikan Fisika Medik. CV-nya juga mencatat dirinya menjadi Ketua Tim Pembentukan Program Studi Profesi Fisikawan Medik FMIPA Unhas pada 2025.
Pengalaman itulah yang kini dibawanya memasuki UIT.
Membawa gagasan good university governance
Syamsir tidak ingin pergantian rektor berhenti pada pergantian nama di struktur organisasi.
Ia membawa agenda good university governance. Sistem manajemen, tata kelola akademik, inovasi, dan relevansi program studi menjadi sejumlah pekerjaan yang ingin diperkuat selama empat tahun mendatang.
Sesudah pengambilan sumpah sebagai rektor, Syamsir melantik jajaran pimpinan dan sivitas akademika UIT untuk masa bakti 2026–2030, mulai wakil rektor, Direktur Program Pascasarjana, pejabat struktural hingga tenaga pendidik.
Pelantikan turut dihadiri Plt Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara Prof Dr dr Budu, PhD, SpM(K), Ketua Yayasan Indonesia Timur H Haruna, MA, MBA, serta Rektor UIT periode sebelumnya Dr Abdul Rahman, S.Pt., SE, MM, M.Kes.
Di antara tamu lainnya terdapat Direktur RSU Wisata UIT Hj Rahayu, S.ST., M.Kes., Badan Pengawas H Ambo Asse, dan jajaran Badan Pengawas Yayasan Indonesia Timur.
Bagi Syamsir, pembenahan internal harus berjalan beriringan dengan keberanian membaca kebutuhan masa depan.
Kedokteran hingga pertambangan
Salah satu agenda yang ia bawa cukup besar. UIT ingin mengembangkan Fakultas Kedokteran, Program Profesi Apoteker, dan Teknik Pertambangan.
Pilihan tersebut, menurut Syamsir, berangkat dari kebutuhan sumber daya manusia di bidang kesehatan dan sektor teknis.
“Bangsa kita masih mengalami kekurangan tenaga medis dan ahli teknis. Di Sulawesi Selatan, penyelenggara prodi pertambangan masih sangat terbatas, padahal potensi industrinya sangat besar,” ujarnya.
“UIT bertekad mengambil peran strategis ini untuk mencetak SDM unggul yang relevan dengan tantangan zaman,” lanjutnya.
Latar belakang Syamsir sebagai ilmuwan kesehatan memberi warna tersendiri pada rencana itu. Sejak 2015, ia tercatat mengajar pada konsentrasi Fisika Medik, antara lain radiodiagnostik dan intervensional, radioterapi, instrumentasi medik, serta mata kuliah lanjutan pada jenjang S2 dan S3. Ia juga menjadi promotor doktor bidang Fisika Medik.
Jejak risetnya pun panjang, dari remote sensing, aerosol dan awan, biodiesel, radiasi, CT-scan hingga pencitraan medis. Daftar karya ilmiahnya memperlihatkan aktivitas publikasi yang berlangsung lintas dekade, dari akhir 1990-an hingga 2025.
Pengalaman di luar laboratorium
Syamsir bukan hanya tumbuh di ruang kuliah dan laboratorium.
Pada 2012, ia mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 47 Lembaga Ketahanan Nasional RI selama sembilan bulan. Tugas akhirnya membahas optimalisasi energi alternatif dalam kerangka ketahanan nasional.
Aktivitas organisasinya juga panjang. Semasa mahasiswa, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Fisika, Senat Mahasiswa FMIPA Unhas, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), HMI, Pramuka Mahasiswa, Korpala, hingga redaksi jurnal ilmiah.
Di Muhammadiyah, rekam jejaknya berlanjut dari tingkat ranting dan cabang. Ia pernah menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tallo, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar periode 2022–2027.
Kini, pengalaman sebagai ilmuwan, pengajar, pengelola institusi, dan organisator itu bertemu pada satu titik: UIT Makassar.
Syamsir memasuki ruang rektor dengan pekerjaan yang tidak ringan. Ia ingin memperbaiki tata kelola, mendorong inovasi akademik, membuka bidang-bidang pendidikan yang dinilai relevan, sekaligus mengangkat kembali nama UIT.
Laboratorium telah lama mengajarkannya bahwa perubahan membutuhkan proses, pengukuran, dan ketelitian. Empat tahun ke depan, prinsip serupa akan diuji di ruang yang jauh lebih besar: sebuah universitas. ***


















