BERITASEMBILAN.Com-Gowa. Di tengah persaingan dengan sekolah negeri dan madrasah lain, MA Aisyiyah Sungguminasa terus menunjukkan perkembangan dalam bidang pendidikan, pembinaan karakter, hingga prestasi siswa.
Madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia ini berdiri sejak tahun 2005 dan kini memiliki 125 siswa pada tahun ajaran 2025–2026.
Kepala MA Aisyiyah Sungguminasa, Muhammad Ali, S.Ag, M.Pd.I, kepada media pertengahan Mei 2026 mengatakan sekolah hadir dari gagasan para pendiri yang ingin menyediakan jenjang pendidikan lanjutan bagi alumni MTs dan SMP di sekitar lokasi sekolah.
“Di depan sekolah sudah ada MTs dan SMP dalam satu kompleks. Dari situ muncul pemikiran agar siswa bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat MA tanpa harus keluar dari lingkungan ini,” ujarnya.
Seiring perjalanan waktu, sekolah mengalami perkembangan cukup signifikan. Akreditasi sekolah yang sebelumnya berstatus C kini meningkat menjadi B. Ribuan alumni juga telah dilahirkan dan tersebar di berbagai bidang.
Muhammad Ali menjelaskan, visi sekolah adalah mewujudkan peserta didik yang religius, berakhlak mulia, mandiri, berprestasi, dan berbudaya.
Untuk mendukung visi tersebut, sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 (K13), disertai pembelajaran berbasis karakter dan keagamaan.
Sebelum proses belajar dimulai, siswa dibiasakan membaca Al-Qur’an, Asmaul Husna, serta doa bersama. Sekolah juga menyediakan bimbingan Iqra bagi siswa yang belum lancar mengaji.
“Program unggulan kami ada pada tahfidz Al-Qur’an dan Hizbul Wathan. Siswa kelas tiga diwajibkan menghafal juz 30,” jelasnya.
Selain itu, sekolah rutin melaksanakan program Jumat Ibadah, salat berjamaah, infak bersama setelah salat zuhur, hingga pembinaan ekstrakurikuler akademik dan non-akademik.
Kehidupan sehari-hari, siswa juga dibiasakan menerapkan budaya 4S, yakni senyum, salam, sapa, dan santun. Sekolah turut menanamkan budaya malu seperti malu datang terlambat, berkata kasar, dan berbohong.
Menurut Muhammad Ali, salah satu pembeda MA Aisyiyah Sungguminasa dibanding sekolah lain adalah porsi pendidikan agama yang lebih banyak serta fokus pembinaan moral siswa.
“Selain akademik, kami juga mengembangkan bakat siswa di bidang olahraga dan tahfidz,” katanya.
Beberapa tahun terakhir, siswa sekolah tersebut berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya juara 1 lomba hafalan Al-Qur’an juz 30 tingkat Muhammadiyah Kabupaten Gowa, juara 1 pidato Semarak Ramadhan, serta juara 5 Olimpiade Sains Madrasah.
Tidak hanya itu, lulusan sekolah juga berhasil diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri. Pada periode 2024–2026, tercatat empat siswa diterima di Universitas Negeri Makassar, empat siswa di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, dan dua siswa di Universitas Hasanuddin.
Selain itu, enam siswa dalam dua tahun terakhir juga melanjutkan pendidikan ke Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam membangun hubungan kerja yang harmonis, pihak sekolah rutin menggelar rapat bulanan dan mengedepankan musyawarah dalam penyelesaian masalah.
“Kami menjaga komunikasi dan kerja sama antar guru agar suasana sekolah tetap nyaman,” ujarnya.
Sementara untuk menjaga disiplin siswa, sekolah melakukan pengawasan melalui wali kelas, guru piket, hingga bagian kesiswaan. Siswa yang terlambat lebih dari 10 menit diminta berinfak Rp1.000 sebagai bentuk pembinaan disiplin.
Meski terus berkembang, sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana serta kondisi lahan sekolah yang dinilai masih sempit.
Selain itu, persaingan dengan sekolah negeri dan madrasah lain di sekitar wilayah Sungguminasa juga menjadi tantangan tersendiri dalam penerimaan siswa baru.
Untuk menarik minat calon siswa, pihak sekolah aktif melakukan sosialisasi ke SMP dan MTs serta memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook sebagai sarana promosi.
“Kami berharap ada perhatian dan dukungan dari pemerintah, Kementerian Agama, orang tua siswa, dan yayasan agar sekolah bisa terus berkembang,” tutup Muhammad Ali. ***


















