BERITASEMBILAN.Com-Sidrap. Bagi Akbar Maulana Suardi, S.Pd., Gr., seni tari bukan sekadar gerak tubuh di atas panggung. Di dalamnya ada disiplin, keberanian, ekspresi, dan cara seorang guru menyalakan potensi peserta didik.
Guru Seni Budaya UPT SMK Negeri 1 Parepare itu berhasil meraih juara 1 lomba tari tunggal Nusantara pada Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026. Prestasi tersebut menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan Akbar sebagai guru muda sekaligus seniman tari.
Akbar lahir di Parepare, 20 Mei 2000. Ia menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sendratasik di Universitas Negeri Makassar dan lulus pada tahun 2023.
Perjalanannya sebagai guru dimulai saat mengikuti Pendidikan Profesi Guru pada tahun 2024. Dalam masa itu, ia menjalani Praktik Pengalaman Lapangan selama satu tahun. Setelah menyelesaikan PPG, Akbar mengajar di SMPIT Andalusia Kota Parepare selama kurang lebih tujuh bulan.
Kini, ia terangkat dan mengabdi di UPT SMK Negeri 1 Parepare sebagai guru mata pelajaran Seni Budaya.
Di sekolah, Akbar tidak hanya mengajar teori seni. Ia aktif membina minat dan bakat peserta didik, terutama dalam bidang seni tari dan seni pertunjukan. Baginya, ruang kelas seni harus menjadi tempat anak-anak menemukan keberanian untuk tampil, berekspresi, dan percaya pada kemampuan diri.
Selama menjadi guru, Akbar telah beberapa kali membawa peserta didik mengikuti lomba seni. Hasilnya tidak sedikit. Pada jenjang SMP, ia pernah membimbing siswa meraih juara 1 FLS3N lomba tari kreasi tingkat Kota Parepare selama empat tahun berturut-turut.
Pembinaan itu berlanjut hingga tingkat provinsi. Pada tahun 2024, siswa binaannya meraih juara harapan 1 FLS3N tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Setahun kemudian, pada 2025, mereka kembali mencatat prestasi dengan meraih juara 2 FLS3N tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada tahun 2026, Akbar kembali mendampingi peserta didik mewakili Kota Parepare pada ajang FLS3N tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Saat mulai mengabdi di SMK Negeri 1 Parepare, ia kembali mendapat kepercayaan untuk membina siswa mengikuti FLS3N jenjang SMA/SMK tingkat Kota Parepare tahun 2026. Hasilnya, sekolah tersebut meraih juara 1 lomba nyanyi solo putra, juara 3 nyanyi solo putri, dan juara 3 tari kreasi.
Bagi Akbar, pencapaian itu menjadi pengalaman pertama yang membanggakan selama mengajar di SMK Negeri 1 Parepare. Prestasi siswa-siswanya juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pembinaan, tidak hanya di tingkat kota, tetapi juga provinsi bahkan nasional.
Di luar perannya sebagai guru pembina, Akbar juga aktif sebagai seniman. Ia pernah dipercaya mewakili sekolah dan PGRI Cabang Bacukiki Barat pada Porsenijar tingkat Kota Parepare tahun 2025.
Saat itu, ia mengikuti cabang tari tunggal putra, nyanyi solo putra, dan paduan suara. Ia berhasil meraih juara 1 tari tunggal putra dan juara 2 nyanyi solo putra.
Prestasi tersebut membuka jalan bagi Akbar untuk mewakili Kota Parepare pada Porsenijar tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026. Di ajang itu, ia turun pada cabang lomba tari tunggal Nusantara.
Persaingan tidak mudah. Para peserta dari berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan tampil dengan kemampuan terbaik. Namun, Akbar berhasil menampilkan karya tari yang kuat dan meraih juara 1.
Kepada media, Selasa 7 Juli 2026 mengatakan, ‘’ Perasaan saya sangat luar biasa bahagia dan tidak menyangka bisa meraih juara 1 di tengah persaingan dari berbagai kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan yang sangat hebat,”, katanya.
Bagi Akbar, penghargaan itu menjadi bentuk syukur atas niat, usaha, dan proses panjang yang ia jalani. Kemenangan tersebut juga menjadi kebanggaan karena dapat mengharumkan nama UPT SMK Negeri 1 Parepare, PGRI, dan Kota Parepare.
Persiapan menuju Porsenijar dilakukan dengan serius. Sebagai lomba berbentuk pertunjukan, Akbar harus menyiapkan mental yang kuat. Ia sadar, di atas panggung, setiap gerak akan disaksikan banyak orang dan dinilai oleh dewan juri.
Selain mental, fisik menjadi perhatian utama. Tari tunggal membutuhkan stamina, konsentrasi, dan kesehatan tubuh yang prima. Ia juga harus mengemas karya dengan konsep yang matang agar dapat dinikmati dan dipahami.
Akbar mulai mempersiapkan diri sekitar satu bulan sebelum Porsenijar berlangsung. Karena karya yang dibawakan merupakan karya tari baru, ia menyusun konsep dari awal. Ia menyiapkan properti, kostum, gerakan, hingga menyatukan seluruh elemen menjadi satu karya tari kreasi.
Untuk musik, Akbar bekerja sama dengan komposer Ainul Yaqin Efendi, S.Pd., M.Pd., yang selama ini banyak membantunya dalam penciptaan musik tari.
Latihan paling efektif dilakukan dua minggu menjelang Porsenijar. Saat itu, seluruh kemasan karya telah selesai, sehingga Akbar dapat fokus memantapkan penampilan dan kesiapan diri untuk berkompetisi.
Di balik keberhasilan itu, Akbar menyebut dukungan orang tua sebagai kekuatan paling besar. Ia merasa bahagia karena dalam setiap proses, orang tuanya selalu hadir mendampingi.
Dukungan juga datang dari pendamping, pelatih, koordinator, serta rekan guru di SMK Negeri 1 Parepare. Secara khusus, Akbar menyebut Hj. Yenny Rachman sebagai sosok yang mendampingi prosesnya dari awal hingga akhir Porsenijar 2026.
Sahabat-sahabat dalam dunia kesenian juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Mereka memberi dukungan, semangat, dan energi kreatif selama proses persiapan.
Tantangan terbesar yang dirasakan Akbar adalah membagi waktu. Di tengah persiapan Porsenijar, ia juga harus menyelesaikan pekerjaan sekolah, mendampingi proses FLS3N, serta mengikuti berbagai kegiatan lain.
Namun, kepercayaan yang diberikan PGRI Kota Parepare membuatnya bertekad untuk tampil maksimal.
“Saya percaya, karena saya sudah meniatkan diri untuk ikut serta dan sudah dipercayakan oleh PGRI Kota Parepare, maka saya harus memaksimalkan diri agar bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Parepare,” ujarnya.
Motivasi Akbar mengikuti Porsenijar tidak hanya untuk menang. Ia memang datang dengan target meraih prestasi, tetapi di balik itu, ia juga ingin memperoleh pengalaman, mengembangkan bakat, dan belajar dari proses kompetisi.
Menurut Akbar, Porsenijar bukan sekadar lomba. Ajang itu menjadi ruang untuk membuktikan bahwa guru memiliki kemampuan, kualitas, dan daya saing di bidang olahraga, seni, dan pembelajaran.
Ia mengajak guru-guru, khususnya di Kota Parepare, untuk tidak menutup diri terhadap potensi yang dimiliki.
“Ayo kita bersama bersatu untuk mengharumkan nama Kota Parepare dengan kemampuan yang kita miliki. Silakan eksplor dan ekspresikan diri. Jangan pernah menutup diri, karena setiap orang punya bakat luar biasa dalam dirinya masing-masing,” kata Akbar.
Ke depan, Akbar berharap Porsenijar dipandang sebagai ajang bergengsi yang harus dipersiapkan secara serius. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya tentang membawa nama pribadi, melainkan juga membawa nama daerah.
Ia juga berharap dukungan pemerintah daerah semakin kuat, baik dari segi motivasi maupun dukungan materi bagi para perwakilan yang membawa nama Kota Parepare.
Bagi Akbar, guru-guru yang tampil pada ajang seperti Porsenijar layak mendapat penghargaan karena mereka menjadi wajah dan duta daerah di tingkat provinsi. (suci noviayu)


















