BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar pengajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Mini Hall FISIP, Gedung Iqra Lantai 5, Jumat (23/10/2026).
Pengajian bertema “Siri’ na Sara’: Meneguhkan Moralitas Islam dalam Kepemimpinan dan Kehidupan Akademik” tersebut menghadirkan Guru Besar Bidang Antropologi Agama UIN Alauddin Makassar, Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., Ph.D.
Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin pembinaan AIK dengan melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan pimpinan lembaga kemahasiswaan.
Dekan FISIP Unismuh Makassar, Dr. Andi Luhur Prianto, S.IP., M.Si., mengatakan pengajian tersebut merupakan bagian dari komitmen fakultas membangun budaya akademik yang berlandaskan nilai Islam.
“Pengajian AIK ini merupakan agenda rutin yang terus kami laksanakan sebagai bagian dari pembinaan civitas akademika FISIP Unismuh Makassar,” ungkapnya.
Andi Luhur menekankan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dan profesionalisme yang disertai integritas serta akhlak mulia.
“Kami ingin membangun budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan profesionalisme, tetapi juga terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman, integritas, dan akhlak mulia,” lanjutnya.
Menurutnya, nilai AIK perlu tercermin dalam budaya kerja dan hubungan antarsivitas akademika sebagai bagian dari karakter perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Melalui pengajian yang dilaksanakan secara berkelanjutan, kami berharap nilai-nilai Islam semakin terinternalisasi dalam kehidupan kampus, tercermin dalam etos kerja, tanggung jawab, keteladanan, serta hubungan yang harmonis antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa,” tambahnya.
Pertemukan Kearifan Lokal dan Nilai Islam
Tema Siri’ na Sara’ mengangkat hubungan antara kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar dan moralitas Islam, khususnya dalam kepemimpinan serta kehidupan akademik.
Gagasan tersebut sebelumnya menjadi tema pidato pengukuhan Guru Besar Prof Wahyuddin Halim pada 28 April 2026, berjudul “Siri’ na Sara’: Moralitas Lokal, Paradoks Kesalehan, dan Ikhtiar Penubuhan Islam.”
Dalam kerangka pemikiran tersebut, siri’ mencakup harga diri, kehormatan, martabat, dan kesadaran moral untuk menjaga integritas pribadi.
Sementara itu, sara’ merujuk pada nilai syariat Islam yang memberikan landasan spiritual dan etis dalam kehidupan.
Kedua nilai tersebut saling menguatkan dalam pembentukan karakter dan moralitas sosial.
Salah satu perhatian Wahyuddin ialah kesenjangan antara kesalehan ritual dan perilaku sosial. Dalam pidato pengukuhan guru besarnya, ia mengingatkan bahwa pengetahuan agama perlu diwujudkan dalam karakter.
“Pengetahuan agama yang luas tidak otomatis menghasilkan karakter yang baik,” demikian salah satu penegasannya dalam pidato tersebut.
Pemikiran itu menekankan pentingnya tajassud atau penubuhan, yakni proses menjadikan ajaran agama sebagai karakter yang tercermin dalam tindakan sehari-hari.
Kerangka tersebut mencakup tiga fase, yakni tanzil atau pewahyuan, tafaqquh atau pemahaman, serta tajassud atau penubuhan nilai agama menjadi karakter.
Dalam kehidupan kampus, gagasan ini relevan dengan penguatan kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan keteladanan yang menyertai pengembangan kemampuan intelektual.
Dirangkaikan Evaluasi Pembelajaran
Pengajian AIK tersebut juga dirangkaikan dengan Evaluasi Pembelajaran Semester Berjalan untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan FISIP Unismuh Makassar.
Melalui kedua agenda itu, fakultas mendorong penguatan mutu pembelajaran sekaligus pembinaan moral dan spiritual sivitas akademika.
Nilai-nilai yang dibahas dalam pengajian diharapkan dapat diterapkan dalam kepemimpinan, pelayanan akademik, tata kelola fakultas, serta interaksi sehari-hari di lingkungan kampus.


















