BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mengumumkan penerima pendanaan riset dan pengembangan tahun 2026 dengan total anggaran mencapai Rp1,7 triliun, Kamis (9/4/2026).
Dana jumbo tersebut akan mendukung 18.215 kegiatan riset dan pengembangan yang tersebar di perguruan tinggi seluruh Indonesia.
Pendanaan ini disalurkan melalui sembilan program utama, yakni Program Penelitian, Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Program Hilirisasi Riset Prioritas, Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak, Program Inovasi Seni Nusantara, Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT), Program Mahasiswa Berdampak, Program Pengujian Model dan Prototipe, serta Program PHC-Nusantara.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan apresiasi kepada para penerima pendanaan.
“Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi dalam menyiapkan proposal hingga melaksanakan penelitian dan pengabdian yang berdampak,” ujarnya.
Ia menegaskan, kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.
“Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyebut skema pendanaan tahun ini dirancang untuk mempercepat hilirisasi dan pemanfaatan hasil riset.
“Program ini diarahkan untuk menjawab permasalahan strategis nasional serta memperkuat ekosistem riset melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi dan mitra,” jelasnya.
Secara nasional, penerima pendanaan berasal dari 38 provinsi, dengan komposisi 40 persen dari perguruan tinggi negeri dan PTN-BH, serta 60 persen dari perguruan tinggi swasta.
Adapun sektor kesehatan menjadi prioritas utama dengan porsi 27 persen, disusul ketahanan pangan 25 persen, hilirisasi dan industrialisasi 16 persen, serta digitalisasi termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor sebesar 15 persen.
Sektor energi memperoleh 7 persen, manufaktur dan material maju 4 persen, maritim 4 persen, serta pertahanan 2 persen.
Kebijakan ini juga mencakup penguatan tata kelola pendanaan, termasuk penerapan alokasi honorarium peneliti hingga 25 persen mulai tahun anggaran 2026.
Untuk rincian program, pada Program Penelitian tercatat 13.028 proposal lolos dari 83.284 usulan dengan total pendanaan Rp1,04 triliun.
Program Pengabdian kepada Masyarakat menetapkan 3.328 tim penerima dari 15.728 usulan dengan anggaran Rp167 miliar, yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah 3T.
Selanjutnya, Program Hilirisasi Riset Prioritas mendanai 925 proposal dari 2.488 usulan dengan total Rp318 miliar.
Program Pengujian Model dan Prototipe meloloskan 354 proposal dengan pendanaan Rp46 miliar, sementara Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak menetapkan 102 konsorsium dengan anggaran Rp62,4 miliar.
Sebanyak 17 Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi juga menerima pendanaan sebesar Rp7,85 miliar.
Pada Program Mahasiswa Berdampak, 202 judul kegiatan didanai Rp21,9 miliar dengan melibatkan 10.090 mahasiswa yang diterjunkan ke wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Sementara itu, Program Inovasi Seni Nusantara mendanai 244 judul senilai Rp17,5 miliar, serta Program PHC-Nusantara menetapkan 15 riset kolaborasi Indonesia–Prancis dengan anggaran Rp2,2 miliar.
Kemdiktisaintek berharap seluruh program ini mampu menghasilkan riset unggul yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat dan kemajuan industri nasional.


















