BERITASEMBILAN.Com-Gowa. Kabar membanggakan datang dari MA Aisyiyah Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Sejumlah siswa madrasah tersebut dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 dan berhasil diterima di beberapa perguruan tinggi negeri ternama di Sulawesi Selatan.
Kepala MA Aisyiyah Sungguminasa, Muhammad Ali, S.Ag, M.Pd.I mengaku bangga dan bersyukur atas capaian para siswanya yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur SNBT.
“Alhamdulillah, kami merasa bangga dan senang karena ada beberapa siswa yang berhasil lolos masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBT tahun 2026,” ujarnya kepada media, akhir Mei 2026.
Adapun siswa yang dinyatakan lolos yakni Andi Tsalis Syarifah diterima di Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Dhiyaan Najda Adida diterima di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Makassar, serta Siti Nurhalisa diterima di Program Studi Agribisnis Universitas Hasanuddin.
Selain itu, terdapat pula dua siswa lainnya yang diterima di UIN Alauddin Makassar.
Madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia tersebut berdiri sejak tahun 2005 dan kini memiliki sekitar 125 siswa pada tahun ajaran 2025–2026.
Muhammad Ali menjelaskan, sekolah hadir dari gagasan para pendiri yang ingin menyediakan jenjang pendidikan lanjutan bagi alumni MTs dan SMP di sekitar lingkungan sekolah.
“Di depan sekolah sudah ada MTs dan SMP dalam satu kompleks. Dari situ muncul pemikiran agar siswa bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat MA tanpa harus keluar dari lingkungan ini,” katanya.
Seiring perjalanan waktu, MA Aisyiyah Sungguminasa mengalami perkembangan cukup signifikan. Akreditasi sekolah yang sebelumnya berstatus C kini meningkat menjadi B dan telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai bidang.
Ia mengatakan, visi sekolah adalah mewujudkan peserta didik yang religius, berakhlak mulia, mandiri, berprestasi, dan berbudaya.
Untuk mendukung visi tersebut, sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 (K13) yang dipadukan dengan pembelajaran berbasis karakter dan keagamaan.
Sebelum proses belajar dimulai, siswa dibiasakan membaca Al-Qur’an, Asmaul Husna, serta doa bersama. Sekolah juga menyediakan bimbingan Iqra bagi siswa yang belum lancar mengaji.
“Program unggulan kami ada pada tahfidz Al-Qur’an dan Hizbul Wathan. Siswa kelas tiga diwajibkan menghafal juz 30,” jelasnya.
Selain itu, sekolah rutin melaksanakan program Jumat Ibadah, salat berjamaah, infak bersama setelah salat zuhur, hingga pembinaan ekstrakurikuler akademik maupun non-akademik.
Dalam kehidupan sehari-hari, siswa juga dibiasakan menerapkan budaya 4S yakni senyum, salam, sapa, dan santun. Sekolah turut menanamkan budaya malu seperti malu datang terlambat, berkata kasar, dan berbohong.
Menurut Muhammad Ali, salah satu pembeda MA Aisyiyah Sungguminasa dibanding sekolah lain adalah porsi pendidikan agama yang lebih banyak serta fokus pada pembinaan moral siswa.
“Selain akademik, kami juga mengembangkan bakat siswa di bidang olahraga dan tahfidz,” katanya.
Beberapa tahun terakhir, siswa sekolah tersebut berhasil meraih berbagai prestasi, di antaranya juara 1 lomba hafalan Al-Qur’an juz 30 tingkat Muhammadiyah Kabupaten Gowa, juara 1 pidato Semarak Ramadan, serta juara 5 Olimpiade Sains Madrasah.
Tidak hanya itu, lulusan sekolah juga berhasil diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri. Pada periode 2024–2026 tercatat empat siswa diterima di Universitas Negeri Makassar, empat siswa di UIN Alauddin Makassar, dan dua siswa di Universitas Hasanuddin.
Selain itu, enam siswa dalam dua tahun terakhir juga melanjutkan pendidikan ke Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam membangun hubungan kerja yang harmonis, pihak sekolah rutin menggelar rapat bulanan dan mengedepankan musyawarah dalam penyelesaian masalah.
“Kami menjaga komunikasi dan kerja sama antar guru agar suasana sekolah tetap nyaman,” ujarnya.
Sementara untuk menjaga disiplin siswa, sekolah melakukan pengawasan melalui wali kelas, guru piket, hingga bagian kesiswaan. Siswa yang terlambat lebih dari 10 menit diminta berinfak Rp1.000 sebagai bentuk pembinaan disiplin.
Meski terus berkembang, sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana serta kondisi lahan sekolah yang dinilai masih sempit.
Selain itu, persaingan dengan sekolah negeri dan madrasah lain di wilayah Sungguminasa juga menjadi tantangan tersendiri dalam penerimaan siswa baru.
Untuk menarik minat calon siswa, pihak sekolah aktif melakukan sosialisasi ke SMP dan MTs serta memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook sebagai sarana promosi.
“Kami berharap ada perhatian dan dukungan dari pemerintah, Kementerian Agama, orang tua siswa, dan yayasan agar sekolah bisa terus berkembang,” tutup Muhammad Ali. ***


















