Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

1 Muharram 1448 H: Hijrah Spiritual di Tengah Peradaban Digital

×

1 Muharram 1448 H: Hijrah Spiritual di Tengah Peradaban Digital

Share this article
Example 468x60

Oleh: Ibrahim Pratama
Presidium MD KAHMI Takalar

Tahun Baru Islam sering kali hadir dalam suasana yang berbeda dibandingkan perayaan pergantian tahun Masehi. Tidak ada pesta kembang api, hitung mundur, atau hiruk-pikuk perayaan yang meramaikan ruang publik.

Example 300x600

Namun justru dalam kesederhanaannya, 1 Muharram menyimpan makna yang jauh lebih mendalam: sebuah momentum refleksi tentang perubahan, pembaruan, dan transformasi diri.

Penetapan kalender Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW ataupun peristiwa turunnya wahyu pertama, melainkan dari peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah.

Pilihan ini mengandung pesan filosofis yang kuat bahwa perubahan besar dalam sejarah umat manusia lahir dari keberanian meninggalkan keterbatasan menuju ruang pengabdian yang lebih luas.

Karena itu, hijrah tidak semata-mata dimaknai sebagai perpindahan geografis. Hijrah adalah perpindahan kesadaran. Ia merupakan transformasi dari cara hidup yang sempit menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Dalam perspektif inilah, peringatan 1 Muharram 1448 H menjadi relevan untuk dibaca ulang di tengah perubahan sosial yang ditandai oleh revolusi digital dan perkembangan kecerdasan buatan.

Kita hidup dalam era ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan manusia membangun kedalaman makna. Digitalisasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, hingga relasi sosial.

Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemajuan teknologi selalu berbanding lurus dengan kemajuan kemanusiaan?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masyarakat modern mengalami paradoks yang menarik. Manusia semakin terkoneksi melalui perangkat digital, tetapi pada saat yang sama semakin rentan mengalami kesepian, kecemasan, dan krisis makna hidup.

Media sosial menyediakan ruang komunikasi tanpa batas, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional. Informasi tersedia dalam jumlah melimpah, tetapi kebijaksanaan justru menjadi barang yang semakin langka.

Fenomena ini menggambarkan apa yang oleh sejumlah pemikir disebut sebagai krisis spiritualitas modern. Teknologi berhasil mempercepat arus informasi, tetapi belum tentu memperdalam kualitas kesadaran manusia.

Kehidupan menjadi sangat cepat, sementara ruang untuk refleksi semakin sempit. Notifikasi telepon genggam sering kali lebih mampu menarik perhatian dibandingkan panggilan hati nurani.

Pada konteks tersebut, hijrah menjadi konsep yang sangat relevan. Jika hijrah Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7 bertujuan membangun masyarakat yang berkeadaban, maka hijrah pada abad ke-21 perlu dimaknai sebagai upaya membangun kembali fondasi spiritual di tengah derasnya arus digitalisasi. Kita memerlukan hijrah dari budaya yang hanya mengejar perhatian menuju budaya yang menghadirkan kebermanfaatan.

Hijrah digital pertama yang perlu dilakukan adalah hijrah dari algoritma menuju adab. Ruang digital saat ini sering kali dikendalikan oleh logika popularitas. Sesuatu dianggap penting karena viral, bukan karena benar. Akibatnya, hoaks, ujaran kebencian, dan informasi yang menyesatkan mudah menyebar dan memengaruhi opini publik.

Padahal, Islam mengajarkan prinsip tabayyun atau verifikasi informasi sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Nilai ini menjadi semakin penting ketika masyarakat hidup dalam ekosistem media yang bergerak sangat cepat. Kehadiran teknologi seharusnya tidak menghilangkan tanggung jawab moral manusia untuk menjaga kebenaran dan etika komunikasi.

Hijrah kedua adalah hijrah dari koneksi menuju konektivitas yang bermakna. Teknologi memungkinkan manusia terhubung dengan ribuan orang dalam satu waktu.

Akan tetapi, hubungan yang tercipta sering kali bersifat dangkal dan sementara. Masyarakat membutuhkan ruang digital yang tidak hanya mempertemukan individu, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, empati, dan semangat kebersamaan.

Peradaban yang besar tidak dibangun oleh jaringan komunikasi semata, melainkan oleh ikatan nilai yang menyatukan masyarakat. Karena itu, tantangan terbesar era digital bukanlah menciptakan lebih banyak koneksi, melainkan menghadirkan lebih banyak makna dalam setiap koneksi yang terjalin.

Hijrah ketiga adalah hijrah dari konsumsi menuju produksi peradaban. Banyak orang menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk mengonsumsi konten digital, tetapi hanya sedikit yang berupaya menciptakan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Padahal, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak konten yang dikonsumsi, melainkan oleh seberapa besar kontribusi yang dihasilkan.

Generasi muda Indonesia perlu didorong menjadi pelaku utama dalam produksi pengetahuan, inovasi teknologi, riset, dan dakwah digital yang mencerahkan. Mereka harus menjadi “muhajirin digital”, yakni generasi yang mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana membangun peradaban, bukan sekadar alat hiburan dan konsumsi informasi.

Pada akhirnya, 1 Muharram 1448 H bukan hanya tentang pergantian angka dalam kalender Islam. Ia merupakan momentum untuk mengevaluasi arah perjalanan kehidupan pribadi maupun kolektif. Hijrah yang sesungguhnya adalah keberanian untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak produktif dan bergerak menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Jika pada masa Nabi Muhammad SAW hijrah melahirkan masyarakat Madinah yang beradab dan berkeadilan, maka tantangan umat Islam hari ini adalah membangun peradaban digital yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.

Tahun Baru Islam mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesediaan manusia untuk berubah.

Di tengah derasnya arus teknologi, hijrah bukan lagi perpindahan tempat, melainkan perpindahan kesadaran: dari kegaduhan menuju kebijaksanaan, dari ketergantungan menuju kemandirian, dan dari sekadar hidup di ruang digital menuju upaya menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.**

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *