Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Beautiful Malino Ditunda, Ekonomi Warga Jangan Ikut Dikorbankan

×

Beautiful Malino Ditunda, Ekonomi Warga Jangan Ikut Dikorbankan

Share this article
Example 468x60
Oleh: Rudy M., S.E., M.M.
Ketua Pemerhati Spathodea, Akademisi, dan Putra Asli Malino
Kabar penundaan event tahunan Beautiful Malino 2026 menjadi pil pahit bagi masyarakat Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa.
Alasan perbaikan infrastruktur jalan yang belum selesai, sebagaimana tertuang dalam Surat Pemberitahuan Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa Nomor: 500.13.2.5/974/Disparbud, tentu patut dipahami sebagai bagian dari pertimbangan teknis pemerintah.
Namun, bagi masyarakat Malino, penundaan ini bukan sekadar perubahan jadwal. Ini adalah tamparan keras bagi denyut ekonomi warga yang sejak jauh hari telah menggantungkan harapan pada momentum Beautiful Malino.
Bagi pembuat kebijakan, pergeseran kalender kegiatan mungkin hanya perkara administratif. Akan tetapi, bagi warga kecil di Tinggimoncong, keputusan itu berarti tertundanya rezeki, macetnya perputaran uang, dan hilangnya peluang ekonomi yang telah dipersiapkan dengan susah payah.
Beautiful Malino selama ini bukan hanya pesta seremonial. Ia telah menjadi ruang hidup ekonomi masyarakat lokal.
Di balik panggung hiburan, pameran, dan keramaian wisatawan, ada pemilik penginapan yang menunggu kamar terisi. Ada pelaku UMKM yang berharap dagangannya laku.
Ada pedagang kaki lima yang menyiapkan stok lebih banyak dari biasanya. Ada petani bunga yang berharap hasil tanamannya mendapat pembeli. Ada tukang parkir, sopir, pekerja harian, dan masyarakat kecil lain yang menggantungkan pendapatan dari keramaian event tersebut.
Penundaan mendadak tentu menyisakan kekecewaan mendalam. Banyak warga telah bersiap menyambut pelaksanaan yang semula dijadwalkan pada 16–18 Juli 2026.
Sebagian pelaku usaha telah menguras tabungan untuk menyetok barang. Pemilik penginapan memperbaiki fasilitas. Pedagang menambah modal.
Pelaku UMKM menyiapkan produk. Petani bunga menyiapkan hasil terbaiknya. Semua bergerak karena percaya bahwa Beautiful Malino akan menjadi momentum panen ekonomi.
Namun, ketika agenda ditunda tanpa kepastian waktu yang jelas, harapan itu seolah menggantung. Potensi perputaran ekonomi yang semestinya dinikmati masyarakat lokal ikut terhenti.
Inilah yang perlu dilihat secara lebih manusiawi oleh pemerintah. Penundaan event bukan hanya perkara memindahkan tanggal di kalender. Penundaan event berarti mengubah rencana hidup banyak orang.
Jika alasan utamanya adalah infrastruktur jalan, maka pertanyaan publik menjadi wajar: mengapa pekerjaan tersebut tidak diantisipasi lebih awal?
Beautiful Malino bukan kegiatan yang muncul tiba-tiba. Event ini telah dikenal sebagai agenda tahunan dan menjadi bagian dari promosi pariwisata daerah. Bahkan, kegiatan seperti ini biasanya disiapkan jauh hari melalui perencanaan lintas sektor.
Karena itu, keterlambatan kesiapan infrastruktur menunjukkan adanya masalah koordinasi, sinkronisasi, dan mitigasi risiko. Pemerintah daerah perlu mengevaluasi secara serius proses perencanaan tersebut agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Masyarakat tentu tidak menolak pembangunan. Infrastruktur yang baik justru sangat dibutuhkan untuk menopang pariwisata Malino. Jalan yang layak akan memperkuat akses wisata, meningkatkan kenyamanan pengunjung, dan memberi dampak jangka panjang bagi ekonomi daerah.
Namun, pembangunan dan kalender ekonomi masyarakat semestinya tidak saling meniadakan. Keduanya harus direncanakan secara terpadu.
Jika pemerintah mengetahui ada pekerjaan infrastruktur yang berisiko mengganggu pelaksanaan event, maka komunikasi publik harus dilakukan sejak awal. Pelaku usaha perlu diberi kepastian lebih cepat agar mereka tidak telanjur mengeluarkan modal besar.
Kepastian informasi adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah. Bagi masyarakat kecil, informasi yang terlambat bisa berarti kerugian nyata.
Karena itu, pemerintah daerah perlu mengambil langkah konkret.
Pertama, segera menetapkan jadwal baru Beautiful Malino 2026 secara jelas dan terukur. Jangan biarkan pelaku usaha menunggu dalam ketidakpastian.
Kedua, pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan pelaku UMKM, pemilik penginapan, komunitas wisata, petani bunga, pedagang, dan tokoh masyarakat Tinggimoncong. Mereka adalah pihak yang paling terdampak secara langsung.
Ketiga, perlu ada strategi pemulihan ekonomi lokal akibat penundaan ini. Pemerintah dapat mendorong promosi wisata alternatif, agenda kecil berskala lokal, bazar UMKM, atau kegiatan lain yang tetap mampu menggerakkan ekonomi masyarakat selama menunggu jadwal baru.
Keempat, evaluasi manajemen event harus dilakukan secara terbuka. Beautiful Malino adalah wajah pariwisata Gowa. Jika pengelolaannya tidak matang, maka bukan hanya masyarakat lokal yang dirugikan, tetapi juga citra daerah sebagai destinasi wisata unggulan.
Malino selama ini dikenal sebagai kawasan wisata berhawa sejuk, kaya potensi alam, budaya, kuliner, bunga, dan keramahan masyarakat. Potensi itu tidak boleh dilemahkan oleh buruknya koordinasi teknis.
Penundaan Beautiful Malino 2026 semestinya menjadi pelajaran penting. Bahwa event pariwisata tidak boleh hanya dilihat sebagai seremoni pemerintah, tetapi sebagai ekosistem ekonomi rakyat.
Di dalamnya ada harapan warga, modal kecil yang dipertaruhkan, tenaga yang dicurahkan, dan keyakinan bahwa pariwisata mampu menjadi jalan kesejahteraan.
Pemerintah Kabupaten Gowa perlu memastikan bahwa penundaan ini tidak menjadi luka panjang bagi masyarakat Tinggimoncong.
Keputusan teknis harus diikuti dengan empati sosial dan solusi ekonomi.
Beautiful Malino harus kembali hadir bukan hanya sebagai panggung hiburan, tetapi sebagai panggung keadilan ekonomi bagi warga lokal.
Sebab bagi masyarakat Malino, event ini bukan sekadar indah untuk ditonton. Beautiful Malino adalah harapan yang menghidupi.***
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *