Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Prof Dr H Andi Syukri: Guru Sejati di Era Digital Harus Memanusiakan Murid

×

Prof Dr H Andi Syukri: Guru Sejati di Era Digital Harus Memanusiakan Murid

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Transformasi pendidikan tidak cukup hanya dijawab dengan perangkat digital. Di tengah perkembangan teknologi, kualitas pendidikan tetap ditentukan oleh kehadiran guru yang mampu memanusiakan, merefleksikan, dan memuliakan peserta didik.

Gagasan itu mengemuka dalam International Joint Seminar bertema “Transformasi Masa Depan Pendidikan: Integrasi Eksakta, Sosial dan Kurikulum” yang digelar di Hall-GIFT Universitas Muhammadiyah Makassar, Selasa (7/7/2026).

Example 300x600

Pada seminar skala internasional ini Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd Rakhim Nanda, ST, MT, IPI, turut memberikan kata sambutan.

Seminar internasional tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas bidang keilmuan. Mereka adalah Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., pakar pendidikan bahasa dari Universitas Muhammadiyah Makassar; Prof. Madya Dr. Siti Rahaimah binti Ali, pakar pendidikan matematika; Prof. Madya Dr. Norazilawati binti Abdullah, pakar pendidikan kurikulum dan sains; serta Prof. Madya Dr. Norwaliza binti Abdul Wahab, pakar pendidikan sosiologi.

Pada paparannya, Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. mengangkat materi berjudul “Guru dalam Kultur Bugis-Makassar: Meneguhkan Nilai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi untuk Pendidikan Bermutu di Era Digital.”

Menurut Prof. Andi Sukri, teknologi memang memperluas akses pendidikan. Namun, mutu pendidikan tidak bisa hanya disandarkan pada perangkat, aplikasi, platform, atau kecanggihan teknologi pembelajaran.

“Teknologi memperluas akses, tetapi kualitas pendidikan ditentukan oleh guru yang memanusiakan, merefleksikan, dan memuliakan peserta didik,” demikian pesan utama yang disampaikan dalam seminar tersebut.

Ia menjelaskan, nilai budaya Bugis-Makassar dapat menjadi kompas etik bagi guru di era digital. Tiga nilai utama yang dimaksud adalah sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi.

Sipakatau berarti memanusiakan. Dalam konteks pendidikan, nilai ini menegaskan bahwa setiap murid harus dihargai martabatnya tanpa diskriminasi.

Sipakainge berarti saling mengingatkan. Nilai ini menjadi dasar bagi budaya umpan balik, refleksi, koreksi, dan perbaikan berkelanjutan dalam proses pembelajaran.

Sementara sipakalebbi berarti saling memuliakan. Nilai ini penting untuk membangun kelas yang aman, apresiatif, dan berkeadaban.

Prof. Andi Sukri menilai, krisis kualitas pendidikan tidak cukup dijawab melalui digitalisasi semata. Diperlukan penguatan profesionalitas, identitas, dan etika guru.

Ia menyebut, pendidikan bermutu untuk semua menuntut kombinasi antara keadilan akses, pembelajaran bermakna, pembentukan karakter, serta keselamatan psikologis peserta didik.

Dalam konteks global, kebutuhan terhadap guru berkualitas semakin mendesak. Dipaparkan bahwa proyeksi kekurangan guru SD, SMP, dan SMA secara global mencapai 44 juta hingga tahun 2030.

Di sisi lain, tantangan mutu pembelajaran juga masih menjadi perhatian. Pada PISA 2022, hanya 18 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 matematika, sementara rata-rata OECD mencapai 69 persen.

Pada saat yang sama, lebih dari 3 juta guru aktif menggunakan platform digital kementerian dalam ekosistem transformasi pendidikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi telah hadir dalam praktik pendidikan, tetapi tetap membutuhkan dasar etik dan pedagogik yang kuat.

Menurut Prof. Andi Sukri, profesionalitas guru bukan hanya soal kompetensi teknis. Guru profesional juga ditentukan oleh kualitas relasi, keputusan pedagogik, dan tanggung jawab moral.

Guru, katanya, harus menguasai konten, pedagogi, teknologi, serta karakter peserta didik. Namun, guru sejati tidak berhenti pada penguasaan perangkat ajar. Guru sejati membangun kelas sebagai ruang aman untuk bertanya, gagal, memperbaiki diri, dan bertumbuh.

Dalam era digital, pertanyaan etik pendidikan tetap sama: apakah teknologi membantu murid bertumbuh sebagai manusia, atau justru menjauhkan relasi guru dan murid?

Prof. Andi Sukri mengingatkan bahwa teknologi pendidikan harus relevan, adil, skalabel, berkelanjutan, aman, dan etis. Teknologi tidak boleh menggantikan relasi manusiawi dalam pendidikan.

Risiko penggunaan teknologi juga perlu diwaspadai. Gawai dapat berubah menjadi distraksi, data dapat mengaburkan martabat peserta didik, dan kecerdasan buatan dapat disalahpahami sebagai pengganti relasi guru-murid.

Karena itu, ia menawarkan pendekatan digital-humanistik. Teknologi harus ditempatkan sebagai penguat nilai 3S, bukan sebagai pengganti guru.

Dalam kerangka tersebut, nilai sipakatau menuntun guru agar melihat murid bukan sebagai objek nilai, melainkan manusia utuh dengan latar belakang, kebutuhan, aspirasi, dan martabat.

Nilai ini dapat diwujudkan melalui pembelajaran inklusif, diferensiasi, Universal Design for Learning, serta perhatian terhadap kebutuhan khusus peserta didik.

Sementara itu, sipakainge menjadi dasar bagi budaya refleksi dan coaching. Transformasi guru tidak boleh berhenti pada pelatihan sesaat, tetapi harus berlanjut melalui observasi kelas, refleksi praktik, umpan balik empatik, perbaikan berbasis data, dan berbagi praktik baik.

Adapun sipakalebbi menjadi fondasi bagi kelas yang aman, apresiatif, dan anti-perundungan. Pendidikan bermutu tidak akan tumbuh di ruang yang merendahkan martabat murid.

Dalam paparannya, Prof. Andi Sukri juga menyinggung data PISA 2022 yang menunjukkan bahwa 25 persen siswi dan 30 persen siswa Indonesia melaporkan menjadi korban perundungan beberapa kali dalam sebulan.

Karena itu, nilai sipakalebbi perlu menggeser disiplin yang berbasis rasa takut menjadi disiplin yang tumbuh dari penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain.

Prof. Andi Sukri kemudian menawarkan kerangka integrasi antara nilai 3S, TPACK, dan DigCompEdu. TPACK memastikan teknologi menyatu dengan konten dan pedagogi, sedangkan DigCompEdu menyediakan area kompetensi digital bagi pendidik.

Namun, integrasi digital tersebut harus tetap dijaga oleh nilai 3S agar pendidikan berlangsung secara beradab, empatik, dan kontekstual.

Ia juga memperkenalkan model praktik “Pinisi Pembelajaran 3S.” Seperti kapal pinisi, pembelajaran bermutu membutuhkan arah, layar, awak, kompas, dan pelabuhan tujuan.

Model tersebut mencakup peta murid, tujuan bermakna, strategi digital, dialog 3S, serta refleksi berbasis bukti. Setiap rancangan pembelajaran perlu dimulai dari pertanyaan tentang siapa murid yang dihadapi, martabat apa yang harus dijaga, dan umpan balik apa yang paling menolong mereka.

Di akhir paparannya, Prof. Andi Sukri menyampaikan rekomendasi strategis bagi guru, mahasiswa Pendidikan Profesi Guru, serta Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Guru didorong menjadikan 3S sebagai kontrak kelas dan bahasa umpan balik. Platform digital dan kecerdasan buatan perlu digunakan untuk diferensiasi pembelajaran, bukan sekadar administrasi.

Mahasiswa PPG didorong melatih microteaching berbasis 3S, meminta observasi sejawat berbasis rubrik 3S dan TPACK, serta membangun literasi etika data dan keamanan digital.

Sementara LPTK dan PPG perlu mengintegrasikan kearifan lokal sebagai studi kasus dalam pedagogi digital, mengembangkan coaching klinis, serta membangun komunitas belajar daring dan luring.

Pesan utama seminar tersebut menegaskan bahwa transformasi profesionalitas guru adalah transformasi kebiasaan. Guru tidak lagi bekerja sendiri, tetapi belajar bersama. Teknologi tidak lagi sekadar alat, tetapi juga amanah yang harus digunakan secara etis.

“Guru sejati di era digital bukan yang paling cepat memakai teknologi, tetapi yang paling bijak memakai teknologi untuk memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan,” demikian pesan penutup yang menguat dalam seminar tersebut.

Melalui seminar internasional ini, integrasi eksakta, sosial, kurikulum, teknologi, dan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi dasar penting dalam membangun masa depan pendidikan yang bermutu, inklusif, humanistik, dan berkemajuan.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *