Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Makassar Bersih Dimulai dari Rumah

×

Makassar Bersih Dimulai dari Rumah

Share this article
Example 468x60
Oleh: Abdul Harris
Warga Kota Makassar
Persoalan sampah di Kota Makassar tidak hanya terlihat dari tumpukan yang muncul di pinggir jalan, kanal, pasar tradisional, dan kawasan permukiman. Masalah sesungguhnya bermula jauh sebelum sampah diangkut petugas kebersihan, yakni ketika sampah organik dan anorganik dibuang dalam satu tempat.
Setiap hari, rumah tangga, pasar, pusat kuliner, perkantoran, dan kawasan perdagangan menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Sisa makanan bercampur dengan plastik, kertas, botol, kaleng, dan berbagai jenis limbah lainnya. Ketika semua sampah itu tercampur, proses pengolahan menjadi lebih sulit, biaya penanganan meningkat, dan sebagian besar akhirnya hanya dipindahkan ke tempat pemrosesan akhir.
Selama ini, penyelesaian persoalan sampah sering dibayangkan harus dimulai dari teknologi canggih, pembangunan fasilitas besar, atau pengadaan alat berbiaya tinggi. Padahal, langkah paling mendasar justru dapat dimulai dari setiap rumah: memilah sampah sejak dari sumbernya.
Pemilahan sampah memang tampak sederhana. Namun, kebiasaan ini menentukan keberhasilan seluruh sistem pengelolaan sampah. Teknologi secanggih apa pun tidak akan bekerja maksimal apabila bahan yang masuk masih bercampur dan tidak sesuai dengan jenis pengolahannya.
Karena itu, membangun Kota Makassar yang bersih tidak cukup hanya dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan. Kota ini membutuhkan perubahan perilaku warganya.
Sampah Organik Bukan Sekadar Sisa
Sebagian besar sampah rumah tangga berasal dari bahan organik, seperti sisa makanan, sayur, buah-buahan, dedaunan, dan limbah dapur. Ketika dicampur dengan plastik dan bahan anorganik lainnya, sampah organik kehilangan nilai manfaatnya.
Sampah makanan yang membusuk juga dapat menimbulkan bau, mengundang serangga, menghasilkan air lindi, dan memperburuk kualitas lingkungan. Dalam jumlah besar, pembusukan sampah organik di tempat pembuangan juga dapat menghasilkan gas yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Sebaliknya, apabila dipilah sejak dari rumah, sampah organik dapat diolah menjadi berbagai produk bermanfaat. Sisa makanan dan dedaunan dapat dijadikan kompos untuk tanaman dan penghijauan. Limbah organik tertentu dapat dimanfaatkan untuk budidaya larva Black Soldier Fly atau maggot sebagai bahan pakan ikan dan unggas. Dalam skala tertentu, sampah organik juga dapat diolah menjadi biogas melalui teknologi digester anaerobik.
Artinya, sampah organik bukan semata-mata beban yang harus dibuang. Ia dapat menjadi bahan baku yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat.
Namun, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh apabila pemilahan dilakukan sejak awal. Sampah yang telah bercampur, basah, dan terkontaminasi akan lebih sulit serta lebih mahal untuk diproses kembali.
Belajar dari Osaki
Kota Osaki di Jepang sering menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Warga di kota tersebut terbiasa memilah sampah ke dalam berbagai kategori. Sampah dapur dipisahkan untuk diolah menjadi kompos, sementara kertas, botol, plastik, logam, dan material lainnya diarahkan ke jalur daur ulang yang berbeda.
Keberhasilan Osaki tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan regulasi pemerintah daerah. Sistem tersebut didukung oleh disiplin masyarakat, edukasi yang terus dilakukan, serta keterlibatan kelompok-kelompok warga dalam mengawasi pelaksanaan pemilahan.
Pemerintah menyediakan aturan dan fasilitas. Masyarakat menjalankan pemilahan. Pelaku usaha ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Semua unsur bekerja dalam satu sistem yang saling mendukung.
Makassar tentu tidak dapat meniru begitu saja seluruh praktik yang diterapkan di Jepang. Karakter masyarakat, kapasitas fasilitas, pola permukiman, serta kondisi ekonomi kedua kota sangat berbeda. Namun, nilai dasarnya dapat dijadikan inspirasi: pengelolaan sampah harus dibangun melalui kebiasaan masyarakat dan kerja sama antarpihak.
Di Makassar, gerakan tersebut dapat dimulai melalui RT dan RW, kelurahan, sekolah, kampus, rumah ibadah, pasar, komunitas lingkungan, dan organisasi masyarakat. Setiap wilayah dapat mengembangkan sistem yang sesuai dengan kondisi lokal.
Tidak semua rumah harus langsung memilah sampah ke dalam puluhan kategori. Tahap awal dapat dimulai dengan dua kelompok sederhana, yaitu sampah organik dan anorganik. Setelah kebiasaan terbentuk, pemilahan dapat dikembangkan menjadi kategori yang lebih rinci.
Menuju Ekonomi Sirkular
Pengelolaan sampah modern tidak lagi memandang sampah sebagai benda yang tidak berguna. Sampah dilihat sebagai sumber daya yang masih dapat dikembalikan ke dalam siklus produksi.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai ekonomi sirkular. Dalam sistem ekonomi konvensional, barang diproduksi, digunakan, lalu dibuang. Dalam ekonomi sirkular, material dipakai kembali, diperbaiki, didaur ulang, atau diolah menjadi produk baru agar tidak segera berakhir sebagai limbah.
Apabila pemilahan berjalan dengan baik, pengelolaan sampah dapat membuka rantai ekonomi baru di Kota Makassar. Sampah organik dapat mendukung usaha kompos dan budidaya maggot. Plastik, kertas, logam, dan botol dapat masuk ke industri daur ulang. Bank sampah dapat memperoleh pasokan material yang lebih bersih dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Kelompok masyarakat juga dapat mengembangkan usaha pengolahan sampah skala lingkungan. Kompos dapat digunakan untuk penghijauan lorong, kebun warga, pertanian perkotaan, dan taman kota. Maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan. Sampah anorganik tertentu dapat diolah menjadi produk kerajinan atau dijual kepada pengepul.
Akan tetapi, ekonomi sirkular tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk olahan. Pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan adanya pasar yang berkelanjutan. Kompos harus memiliki pengguna. Material daur ulang harus terserap. Produk pengolahan sampah harus memenuhi standar mutu dan memperoleh akses pemasaran.
Tanpa pasar, usaha pengolahan sampah akan sulit bertahan. Karena itu, pengelolaan sampah harus dipandang sebagai satu rantai yang dimulai dari pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pemanfaatan hasilnya.
Tanggung Jawab Bersama
Persoalan sampah sering kali hanya dibebankan kepada pemerintah kota dan petugas kebersihan. Ketika sampah menumpuk, pemerintah yang disalahkan. Namun, pada saat yang sama, masih banyak warga yang membuang sampah tanpa memilah, tidak sesuai waktu, bahkan ke kanal dan ruang publik.
Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar. Pemerintah harus menyediakan regulasi yang jelas, sarana pengangkutan terpilah, fasilitas pengolahan, edukasi, dan sistem pengawasan. Pemerintah juga perlu memperkuat bank sampah serta memberikan dukungan kepada kelompok masyarakat yang mengembangkan usaha pengolahan limbah.
Namun, masyarakat tidak dapat menyerahkan seluruh persoalan kepada pemerintah. Setiap rumah tangga harus mengurangi sampah, memilah, dan membuangnya sesuai ketentuan.
Dunia usaha juga harus terlibat. Pusat perbelanjaan, rumah makan, hotel, pasar modern, industri, dan pelaku usaha lainnya menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Mereka harus bertanggung jawab mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, menyediakan tempat pemilahan, serta memastikan limbahnya dikelola secara benar.
Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, pengembangan teknologi tepat guna, edukasi, dan pendampingan masyarakat. Media memiliki peran membangun kesadaran, mengawasi kebijakan, serta mengangkat praktik-praktik baik yang dapat ditiru.
Dari Rumah untuk Makassar
Gerakan memilah sampah berkaitan langsung dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Kota yang mampu mengelola sampah akan menjadi lebih sehat, nyaman, dan layak huni. Pengurangan sampah juga mendukung pola konsumsi yang bertanggung jawab, mengurangi pencemaran, serta menekan dampak perubahan iklim.
Namun, berbagai tujuan besar tersebut tidak akan tercapai apabila pemilahan sampah hanya menjadi slogan dalam seminar, poster, dan kegiatan seremonial.
Pemilahan harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Setiap rumah setidaknya memiliki dua wadah sampah. Sisa makanan dan bahan organik dimasukkan ke tempat tersendiri. Plastik, botol, kertas, dan kaleng dikumpulkan secara terpisah agar dapat didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah.
Perubahan tersebut memang tidak terjadi dalam satu malam. Dibutuhkan edukasi yang berulang, fasilitas yang memadai, keteladanan, serta penegakan aturan. Akan tetapi, setiap perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Makassar memiliki potensi menjadi salah satu kota pelopor pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia. Kota ini memiliki komunitas yang aktif, perguruan tinggi, bank sampah, kelompok pemuda, serta pelaku usaha yang dapat dilibatkan.
Modal utamanya bukan hanya teknologi. Modal terpenting adalah kesadaran dan kemauan untuk bergerak bersama.
Kota yang bersih bukan hanya hasil kerja petugas kebersihan. Kota yang bersih merupakan cermin perilaku warganya.
Karena itu, Makassar yang bersih harus dimulai dari rumah, dari keluarga, dan dari keputusan sederhana untuk tidak lagi mencampur semua sampah dalam satu tempat. Dari kebiasaan kecil itulah kita dapat mewujudkan Makassar yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *