Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Menavigasi Arus Zaman: Ketika Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Bertaut

×

Menavigasi Arus Zaman: Ketika Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Bertaut

Share this article
Example 468x60

Judul Buku  : Sosiologi Kontemporer: Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Sosial

Penulis         : Dr. I Ketut Yakobus, S.Th, M.Si., dkk.

Example 300x600

Editor           : Dr. Hj. Chuduriah Sahabuddin, M.Si. & Dr. Rudi Hardi, M.Si.

Penerbit       : Eureka Media Aksara, Makassar

Tebal             : XVI + 411 Hal

Tahun Terbit: 2026

ISBN              : 978-634-271-895-7

Perubahan zaman adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat modern. Saat ini, kita menyaksikan betapa derasnya arus globalisasi dan lompatan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh tatanan kehidupan.

Kehadiran gawai di tangan, internet yang tanpa batas, hingga sistem kerja baru berbasis digital, di satu sisi menawarkan kemudahan. Namun di sisi lain, fenomena ini juga membawa tantangan serius terhadap eksistensi budaya lokal, identitas sosial, dan keharmonisan hidup bersama.

Membaca dan memahami arah perubahan sosial yang begitu cepat ini, kehadiran buku berjudul Sosiologi Kontemporer: Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Sosial menjadi sangat relevan.

Buku karya kolaboratif sepuluh akademisi ini hadir sebagai panduan teoretis sekaligus praktis dalam membedah berbagai fenomena sosial mutakhir secara jernih dan berimbang.

Kehidupan hari ini adalah sebuah dunia yang tidak lagi sekadar berputar pada porosnya, melainkan bergerak horizontal secara melesat. Di satu disaksikan bagaimana seorang pekerja lepas (freelancer) di pelosok desa  bekerja untuk perusahaan teknologi di Silicon Valley melalui skema gig economy.

Di malam hari, disuguhi perang narasi penuh emosi di media sosial yang mampu mengubah konstelasi politik nasional.

Dunia kontemporer adalah dunia yang cair, ringkih, sekaligus saling bertautan. Di tengah bisingnya transformasi digital dan tarikan arus globalisasi inilah, buku Sosiologi Kontemporer: Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Sosial hadir sebagai sebuah “kompas” jernih.

Buku kolaboratif yang ditulis oleh sepuluh akademisi lintas disiplin ilmu dan perguruan tinggi,  mencoba memotret, membedah, dan mendefinisikan ulang cara kita melihat diri sendiri di tengah masyarakat yang terus berubah.

Dari Menara Teori ke Realitas Empiris

Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya menjembatani teori-teori sosiologi mutakhir dengan fenomena riil yang sedang hangat di masyarakat. Buku ini tidak terjebak menjadi teks akademis yang kering dan berjarak di dalam menara gading. Melalui struktur sepuluh bab yang tertata apik, pembaca diajak bertualang melintasi berbagai lanskap sosial.

Pada bagian awal, Dr. I Ketut Yakobus membangun fondasi yang kokoh mengenai apa dan bagaimana sosiologi kontemporer bekerja merespons isu lokal dan global.

Estafet pembahasan kemudian dilanjutkan secara tangkas oleh Dr. Muhammad Yahya yang membedah transformasi sosial akibat globalisasi ekonomi dan budaya, lengkap dengan studi kasus komparatif yang kontras antara Asia Tenggara dan Eropa.

Menariknya, buku ini memberikan porsi khusus pada lokalitas yang sering luput dari radar sosiologi arus utama. Dr. Ahdan, misalnya, secara jeli menghadirkan analisis sosiologi komunikasi pada masyarakat maritim dan pesisir.

Di tengah dorongan modernisasi, bagaimana masyarakat bahari kita mempertahankan ruang hidup dan cara berkomunikasi mereka? Bab ini menjadi oase lokalitas yang sangat menyegarkan.

Ironi Digital dan Identitas Generasi Z

Dua isu yang paling menyita perhatian dalam buku ini adalah pembahasan mengenai identitas baru dan cengkeraman kapitalisme digital. Prof. Andi Tenri Machmud secara spesifik menyoroti bagaimana Generasi Z membentuk, merombak, dan menegosiasikan identitas sosial mereka di ruang publik yang kini bergeser ke ranah digital.

Identitas tak lagi tunggal; ia menjadi cair, hibrida, dan terkadang rentan konflik—sebuah isu multikulturalisme yang kemudian dibedah secara mendalam oleh Dr. Sudirman pada bab berikutnya.

Namun, ruang digital tidaklah netral. Nikolaus Beni, S.Sos, M.I.Kom  secara tajam membongkar sisi kelam dari apa yang disebut sebagai kapitalisme digital.

Melalui fenomena “Uberisasi” dan gig economy, teknologi yang awalnya digadang-gadang membebaskan manusia, justru kerap melahirkan bentuk eksploitasi baru dan mempertegas sekat kelas pekerja modern.

Anatomi digital ini semakin lengkap ketika Assoc. Prof. Abdul Malik Iskandar mengulas sosiologi emosi—bagaimana algoritma media sosial mampu memanipulasi emosi kolektif, memicu hate speech, hingga menggerakkan radikalisasi.

Media kini bukan lagi sekadar penyampai pesan, melainkan agen perubahan yang, meminjam analisis Prof. Muh Yunus di Bab 8, memiliki kuasa penuh dalam melakukan framing dan agenda-setting ingatan publik.

Memperluas Cakupan: Ekologi dan Manajemen

Tidak berhenti pada isu layar gawai dan identitas, buku ini memperluas cakrawala sosiologinya pada isu eksistensial kemanusiaan: krisis iklim. Dr. Arda mengaitkan perubahan iklim dengan ketimpangan sosial dan keadilan ekologis, sebuah pengingat bahwa bencana lingkungan selalu memukul kelompok miskin terlebih dahulu.

Sebagai penutup, Dr. Kristian H.P. Lambe membawa sosiologi masuk ke ruang-ruang korporasi dan organisasi melalui sosiologi manajemen, memperlihatkan bagaimana struktur kekuasaan bekerja dalam pengambilan keputusan manajerial di era transformasi digital.

Sebagai sebuah karya kompilasi, buku yang diedit oleh Dr. Chuduriah Sahabuddin dan Dr. Rudi Hardi ini berhasil mempertahankan konsistensi mutu akademis di setiap babnya. Latar belakang penulis yang beragam justru memperkaya diskursus, membuat buku ini kaya akan perspektif teoretis yang beragam namun tetap inklusif.

Secara keseluruhan, Sosiologi Kontemporer bukan sekadar bacaan wajib bagi mahasiswa atau peneliti ilmu sosial.

Buku ini adalah cermin bagi siapa saja warga negara, praktisi, maupun pembuat kebijakan yang ingin memahami mengapa masyarakat kita hari ini bergerak dengan cara yang demikian rumit.

Buku ini berhasil mengingatkan kita: di tengah gempuran teknologi dan globalisasi yang impersonal, kemanusiaan yang inklusif harus tetap menjadi jangkar utama kita.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *